Jumat, 29 Juli 2016

Pesta Imamat ke 25 Rm Ponco

Selamat merayakan Pesta Imamat yang ke 25 untuk Romo SP Bambang Ponco Santoso SJ. Semoga selalu dikuatkan dan semakin teguh dalam menjalani hidup panggilan sebagai gembala. Berkah Dalem Gusti🙏

Perayaan setelah Misa syukur


Note:
Mewakili lingkungan Perak, kami memohon maaf atas hidangan nasi kuning yg tersedia pada perayaan pesta imamat ke 25 rm Ponco, yg ternyata telah basi. Keluhan telah kami teruskan ke pihak catering. 




Misa dalam rangka bersih desa Wonosari

Sebagai bagian dari masyarakat desa Wonosari dan ikut medukung pelaksanaan Rasulan desa Wonosari, kami umat dari lingkungan Paulus Perak, lingkungan Petrus Kidul Pasar dan lingkungan Aloysius Jeruksari mengadakan Misa.

Misa dipimpin oleh Rm Rosarius Sapto Nugroho PR pada hari kamis tanggal 28 Juli 2016.
Dalam homilinya Rm Sapto menyampaikan bahwa sebagai warga desa harusnya kita adalah satu keluarga besar saling tolong menolong dan berbagi antar anggota keluarga dan menghindari sifat egoisme.



Senin, 25 Juli 2016

Santo Yakobus (Yakobus Tua)

RIWAYAT PARA ORANG KUDUS SANTO SANTA. 
Santo~Santa 25 Juli.


Murid Yesus ini disebut "Yakobus Tua" untuk membedakannya seorang murid Yesus yang lain, yang juga bernama Yakobus (yang adalah saudara Yesus dan penulis Surat Yakobus dalam Perjanjian Baru). Yakobus adalah seorang nelayan, sama seperti ayahnya - Zebedeus - dan saudaranya, Yohanes.

Yakobus sedang duduk dalam perahu ayahnya memperbaiki jala ketika Yesus lewat. Yesus memanggil mereka masing-masing, Yakobus dan Yohanes, untuk menjadi penjala manusia, untuk mengikuti-Nya mewartakan Kabar Gembira. Zebedeus menyaksikan kedua puteranya meninggalkan perahu mereka dan mengikuti Yesus.

Bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus termasuk 3 murid utama Yesus. mereka bertiga, beroleh kesempatan menyaksikan apa-apa yang tidak dapat disaksikan para rasul yang lain. Mereka menyaksikan Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus, mereka mendaki gunung dan menyaksikan Yesus bercahaya seperti matahari dengan jubah-Nya berkilau-kilauan. Peristiwa ini disebut Transfigurasi atau Yesus Dipermuliakan.

Pada hari Kamis Putih, yaitu malam sebelum Yesus wafat, Yesus membawa para rasul ke taman Getsemani. Dalam Injil Matius dikisahkan bagaimana Yesus meminta 3 murid utamanya ini untuk menyertai-Nya ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Mereka menyaksikan bagaimana Wajah Tuhan menjadi pucat karena duka yang amat dalam. Kemudian titik-titik darah mulai menetes dari kening-Nya. Sungguh, saat-saat yang amat memilukan, tetapi para rasul itu sudah terlalu lelah. Mereka tertidur!

St.Yakobus lari ketakutan ketika para musuh menangkap Yesus serta membawa-Nya pergi. Dan Yakobus masih "bersembunyi" dan tidak ada di bawah kaki salib pada hari Jumat Agung. Meskipun demikian, Tuhan menemuinya lagi pada sore hari Minggu Paskah di kamar atas. Yesus yang bangkit masuk melalui pintu yang terkunci dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Yakobus dan para rasul yang lain mendapatkan damai yang dijanjikan-Nya itu setelah kedatangan Roh Kudus pada Hari Pentakosta.

St. Yakobus memulai kerasulannya sebagai seorang yang suka menurutkan kata hatinya serta berbicara apa adanya. Tanpa sungkan ia meminta Yesus tempat duduk kehormatan dalam kerajaan-Nya. Ia juga pernah meminta Yesus menurunkan api atas desa-desa yang tidak mau menerima Tuhan. Tetapi imannya kepada Yesus sungguh besar.

Walaupun tidak tertulis dalam Kisah Para Rasul dan tidak tertulis dalam tulisan gereja kuno, banyak yang mempercayai Yakobus berangkat menuju Spanyol dan menyebarkan ajaran Yesus di sana. Ia mengadakan perjalanan menuju Galicia, Spanyol; Guimarães, Portugal; dan Rates (kini Póvoa de Varzim), Portugal. Di Rates, ia mentahbiskan Santo Petrus dari Rates sebagai uskup pertama di Semenanjung Iberian.

Berdasarkan Legenda masyarakat kuno di sana, pada tanggal 2  Januari 40, Santa Maria menampakkan diri kepada Yakobus di tepi sungai Ebro di Caesaraugusta, ketika ia sedang menyebarkan ajaran di Spanyol. Maria secara tiba-tiba muncul di pilar, dan tempat tersebut kini menjadi Basilika Bunda Pilar Kami (Basilica of Our Lady of the Pillar) di Zaragoza.  Kemudian, Yakobus kembali ke Yudea, dan di sana ia dieksekusi mati pada tahun 44. Kitab suci menulis :

... pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang... (Kis 12:1-2)

Setelah kematiannya, dalam kisah rakyat Spanyol, sosoknya muncul memimpin pasukan Kristen pada Pertempuran Clavijo selama Reconquista. Di Spanyol St.Yakobus dijuluki  “matamoros”  (Pembasmi Bangsa Moor). Santiago Matamoros!! (“Santo Yakobus Pembasmi bangsa Moor”);  Santiago y cierra España ("Santo Yakobus akan bertarung untuk Spanyol")  menjadi yel-yel pekikan perang tentara Spanyol selama berabad-abad.


                       St Yakobus doakanlah kami

Setiap Martir adalah Persembahan Bagi Gereja

Referensi :Yesaya - Wikipedia - Saints.SQPN.com
(†)  © mch
Fb: Michael Christiano Hady

Minggu, 24 Juli 2016

Santo Syarbel Makhlouf

RIWAYAT PARA ORANG KUDUS SANTO SANTA. 
Santo~Santa 24 Juli.



Santo Sharbel Makhlouf (Arab: مار شربل) lahir pada tanggal 8 Mei 1828  dengan nama Youssef Antoun Makhlouf di Bekaa Kafra Libanon.  Ia adalah seorang rahib, mistikus dan imam Gereja Katolik Maronit berkebangsaan Libanon yang dikanonisasi sebagai santo oleh Paus Paulus VI.  Gereja Katolik Maronit adalah salah satu dari Gereja-Gereja Katolik Timur yang berada dalam persekutuan penuh dengan Tahta Suci Roma.

Youssef Antoun Makhlouf adalah seorang anak yatim piatu. Ayahnya wafat ketika ia masih berumur tiga tahun dan ia lalu diasuh oleh pamannya.  Di usia 23 tahun, Youssef masuk Biara St. Maron di Annaya, Libanon, dan menggunakan nama biara 'Syarbel' menurut nama seorang martir Gereja Maronit di abad ke-2. Youssef mengucapkan kaul-kekalnya pada tahun 1853 dan ditahbiskan sebagai seorang imam enam tahun kemudian.

Seturut teladan dari St. Maron (bapa Gereja Maronit), romo Syarbel menjalani hidup yang sangat suci.  Ia memilih untuk mengamalkan hidup sebagai pertapa dengan amat keras. Ia bermatiraga, makan sedikit, tidur di lantai yang keras, dan menghabiskan berjam-jam lamanya dalam doa. Sejak tahun 1875 sampai pada akhir hidupnya di tahun 1898, romo Sharbel menjadi seorang yang sepenuhnya mengasihi Yesus.  Kesuciannya membuat orang-orang mendatanginya untuk minta diberkati dan minta didoakan. Selama hidupnya romo Syarbel hampir tidak pernah meninggalkan pertapaannya. Ia hanya sesekali terlihat meninggalkan pertapaannya saat para superiornya meminta ia untuk menerimakan sakramen-sakramen di desa-desa terdekat. Dan bila orang suci ini muncul didesa maka penduduk desa akan berbondong-bondong mengikutinya, memohon doa dan berkahnya.

Pada 16 Desember 1898, romo Syarbel terserang suatu penyakit sewaktu merayakan Misa Kudus. Dia meninggal dunia pada malam Natal tahun 1898, dan dimakamkan di pemakaman biaranya; Biara St. Maron di Annaya. Beberapa bulan kemudian, sinar-sinar cemerlang terlihat memancar di sekitar makamnya. Dari tempat itu, jenazahnya, yang masih terus mengeluarkan keringat dan darah, dipindahkan ke dalam peti jenazah khusus. Rombongan-rombongan besar peziarah mulai berdatangan ke makamnya.

Pada 1925, beatifikasi dan kanonisasinya diajukan untuk diumumkan oleh Paus Pius XI. Pada 1950, makamnya dibuka di hadapan sebuah komisi khusus yang juga beranggotakan para dokter, yang memberi verifikasi akan keutuhan jenazahnya. Sesudah makamnya dibuka dan diperiksa, dilaporkan terjadi berbagai mukjizat yang berlipat ganda. Sekali lagi, khalayak ramai dari berbagai latar belakang agama mulai berbondong-bondong berziarah ke Biara Annaya untuk memohon syafaat tokoh suci itu. Beberapa mukjizat post-mortem dihubung-hubungkan dengannya, termasuk mukjizat-mukjizat yang terjadi pada 1927 dan 1950 ketika "keringat" darah mengucur dari jenazahnya, membasahi vestimentum yang dikenakan padanya. Makamnya telah menjadi sebuah tempat ziarah yang dikunjungi banyak orang, baik warga Libanon maupun non-Libanon, Kristiani maupun non-Kristiani.

Banyak kisah mukjizat yang terjadi dengan perantaraan Santo Syarbel. Salah satu mukjizat yang termasyhur adalah mukjizat yang dialami Nohad El Shami, seorang wanita tua berusia 55 tahun yang disembuhkan dari kelumpuhan sebelah tubuhnya. Pada malam hari tanggal 22 Januari 1993, Nohad El Shami bermimpi melihat dua orang rahib Maronit berdiri di sisi ranjangnya. Salah seorang diantaranya menumpangkan tangannya pada lehernya lalu melakukan suatu operasi yang membebaskannya dari rasa sakit sementara yang seorang lagi memegang bantal di bawah punggungnya.  Ketika terbangun, Nohad mendapati dua luka pada lehernya, satu luka pada masing-masing sisi. Dia sembuh sepenuhnya dan dapat berjalan lagi. Dia meyakini bahwa Santo Syarbellah yang melakukan operasi tersebut namun tidak dapat mengenali rahib yang satunya lagi. Malam berikutnya, dia kembali bermimpi melihat Santo Syarbel yang berkata padanya: "Saya mengoperasimu agar orang-orang melihatnya dan kembali pada iman. Saya memintamu untuk mengunjungi pertapaan pada tanggal 22 setiap bulan, dan menghadiri Misa dengan teratur seumur hidupmu". Rahib yang kedua menurut keyakinan banyak orang adalah Santo Maron. Sejak saat itu, sesuai permintaan Santo Syarbel, orang-orang berhimpun setiap bulan pada tanggal 22 untuk berdoa dan merayakan Misa di pertapaan Santo Syarbel di Annaya.

Pada tanggal  5 Desember 1965,  Paus Paulus VI memimpin upacara beatifikasi sang pertapa suci  pastor Syarbel Makhluof sewaktu penutupan Konsili Vatikan II. Dua belas tahun kemudian, tanggal 9 Oktober 1977  Paus yang sama memaklumkan Beato Syarbel Makhlouf sebagai Santo. Saat itu bapa suci menjelaskan bahwa St.Sharbel dengan cara hidupnya mengajarkan kepada kita jalan sejati kepada Tuhan. Beliau mengatakan bahwa budaya kita saat ini memuliakan kekayaan dan kenikmatan dunia. Tetapi Santo Sharbel adalah sebaliknya. Ia mengajarkan kepada kita melalui teladan hidupnya, nilai – nilai spiritual dalam kemiskinan, matiraga dan doa.

Dari antara sekian banyak mukjizat yang terjadi dengan perantara Santo Syarbel, Gereja memilih dua mukjizat untuk mengumumkan beatifikasinya (Mukjizat juga merupakan syarat dalam proses beatifikasi dan kanonisasi), dan satu lagi mukjizat untuk kanonisasinya. Ketiga mukjizat tersebut adalah :  Kesembuhan Suster Maria Abel Kamari dari Tarekat Dua Hati Kudus, Kesembuhan Iskandar Naim Obeid dari Baabdat, dan Kesembuhan Maryam Awad dari Hammana.

Referensi :Yesaya - Saints.SQPN.com - Wikipedia

(†)  © mch
Fb: Michael Christiano Hady

Minggu, 03 Juli 2016

Santo Thomas, Rasul

Santo Santa 3 Juli


Thomas lahir di Galilea dan dikenal sebagai salah seorang dari Keduabelas Rasul Yesus. Perihal tempat dan waktu dia dipilih menjadi Rasul tidak dibeberkan di dalam Injil-injil. Banyak keterangan tentang pribadinya dapat kita temukan di dalam Injil Yohanes. Thomas-yang disebut juga ‘Didimus’ (artinya: kembar)-adalah seorang nelayan pembantu. Ia tidak memiliki perahu sendiri seperti Petrus dan Andreas. Hidupnya hampir selalu serba kurang. Hal inilah yang membuat dia bersikap selalu hati-hati, pesimis dan cepat menyangka akan terjadi hal yang buruk atas dirinya. Banyak orang yang mempunyai gambaran yang kurang tepat tentang Thomas. Meskipun demikian, Thomas dikenal berani.

Thomas hadir dalam peristiwa pembangkitan Lazaurus dan Perjamuan Terakhir. Di antara keduabelas Rasul, Thomas dikenal sebagai orang yang tidak mudah mempercayai sesuatu. Sikapnya ini terlihat dengan sangat jelas dalam kaitannya dengan peristiwa penampakan Yesus setelah kebangkitanNya (Yoh 20:24-29). Oleh karena itu di kalangan umat sering terdapat gambaran yang kurang baik tentang Thomas. Setiap kali namanya disebut, yang terbayang di benak mereka adalah seorang rasul yang tidak mau percaya kepada sesuatu hal yang belum disaksikannya sendiri.

Ketika Yesus mendengar bahwa Lazaurus meninggal dunia, Ia berkeputusan untuk kembali ke Yudea, pada hal baru saja orang mau melempariNya dengan batu di daerah itu. Sesudah para Rasul gagal menahan Yesus, Thomas dengan tegas mengajak: “Ayo, kita pergi juga! Biarlah kita mati bersama-sama dengan Dia”. Thomas tak mau membiarkan Yesus pergi sendirian menantang bahaya. Thomas seorang yang terus terang, polos dan tidak malu-malu menyatakan ketidaktahuannya. Pada Perjamuan Terakhir, ketika Yesus berpamitan, Thomas bertanya dengan polos: “Kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan kesitu?” Keraguan Thomas ini mengundang Yesus untuk menyingkap rahasia Tritunggal yang mendalam itu: “Akulah jalan, Kebenaran dan Hidup. Tak seorang pun datang kepada Bapa tanpa melalui Aku. Kalau kamu mengenal Aku, kamu juga menganal BapaKu”. Sikap ragu-ragu Thomas tampak jelas sekali dalam sikapnya terhadap berita penampakan Yesus kepada para Rasul: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku kedalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Tentang sikap Thomas ini, Santo Agustinus menulis: “Dengan pengakuannya dan dengan menjamah luka Tuhan, ia sudah mengajarkan kepada kita apa yang harus dan patut kita percayai. Ia melihat sesuatu dan percaya sesuatu yang lain. Matanya memandang kemanusiaan Yesus, namun imannya mengakui Ke-Allah-an Yesus, sehingga dengan suara penuh gembira tercampur penyesalan mendalam, ia berseru: Ya Tuhanku dan Allahku”.
Kepadanya Yesus bersabda: “Karena kau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya “. Kata-kata Yesus ini masih berkumandang aktual hingga dewasa ini.

Tentang karya kerasulan Thomas sesudah itu, Kitab Suci tak menyebutkan apa-apa lagi. Juga tidak ada sepucuk surat peninggalan Thomas yang sampai kepada kita. Menurut tradisi, yang dibeberkan Santo Ambrosius dan Hieronimus, Thomas menyebarkan kabar gembira ke arah Timur dengan mengikuti jalan para pedagang, yaitu ke Sirya, Armenia, Persia dan India. Dekat Madras, di kota Malaipur, Thomas menerima mahkota kemartirannya. Orang Kristen India Selatan, lebih-lebih di sepanjang pantai Syro-Malabar, percaya bahwa Thomas menobatkan Raja Gondaphur dan bahwa mereka keturunan orang-orang Kristen abad pertama. Thomas mati ditusuk tombak, dan relikiunya masih tetap ada sewaktu makamnya dibuka kembali pada tahun 1523.

St Thomas doakanlah kami

Sumber : www.imankatolik.or.id

Khusus gambar : www.katakombe.net

Selasa, 21 Juni 2016

Santo Aloysius Gonzaga (Luigi Gonzaga)

RIWAYAT PARA ORANG KUDUS SANTO SANTA.
Santo~Santa 21 Juni.

Aloysius (Luigi) Gonzaga, santo pelindung pemuda pemudi Katolik, dilahirkan pada tanggal 9 Maret 1568 di Lombardia Italia. Ia merupakan anak sulung dari keluarga pangeran Castiglione. Karena ia begitu penuh semangat hidup, ayahnya berangan-angan agar kelak ia menjadi seorang perwira militer yang hebat.

Ketika Luigi baru berumur lima tahun, ayahnya mengajaknya ke kemah para tentara. Di sana, Luigi kecil ikut berarak dalam barisan. Suatu hari, ia bahkan berhasil mengisi dan menembakkan senapan ketika pasukan tentara sedang beristirahat. Ia juga belajar umpatan dan kata-kata kasar dari para prajurit. Ketika mengetahui apa arti kata-kata tersebut, Aloysius merasa menyesal bahwa ia telah mengucapkannya.

Setelah remaja, Aloysius dikirim ke istana-istana para raja dan pangeran. Kelicikan, kedengkian dan kecemaran merupakan hal biasa di sana. Tetapi, dari semuanya itu hanya membuat Aloysius lebih berhati-hati dan tetap hidup sesuai tanggung jawab Kristianinya.

Ketika Aloysius berumur enam belas tahun, ia memutuskan untuk menjadi seorang imam Yesuit. Ayahnya sangat menentang keinginannya itu. Tetapi, setelah tiga tahun, akhirnya ia mengijinkannya juga.

Tinggal didalam biara, pangeran muda Aloysius wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan berat dan kasar. Ia juga melayani di dapur dan mencuci piring-piring kotor. Dan ia tidak pernah mengeluh. Ia biasa mengatakan, “Aku ini sepotong besi yang bengkok. Aku datang kepada agama agar dijadikan lurus oleh palu penyangkalan diri dan laku tobat.”

Pada awal tahun 1591, terjadilah wabah penyakit pes dan kelaparan di Italia. Aloysius mengumpulkan dana dengan mengemis di Roma bagi daerah-daerah yang terkena wabah. Aloysius bekerja langsung merawat orang-orang sakit, mengangkut orang-orang yang hampir mati di jalan raya, membawanya ke rumah sakit, memandikan mereka dan memberi mereka makan serta mempersiapkan mereka untuk penerimaan sakramen-sakramen. Keadaan jasmaninya berontak ketika berhadapan dengan penyakit, darah dan segala yang kotor berbau. Sekalipun demikian Aloysius mengatasi rasa jijik itu untuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Ia melayani orang-orang sakit hingga akhirnya penyakit pes itu menyerangnya juga.

St.Aloysius Gonzaga wafat ketika baru berusia 23 tahun dan dimakamkan di Gereja Anunciata, di samping Kolese Roma. Di kemudian hari, jenazahnya dipindahkan ke Gereja Santo Ignatius. Di sana jenazahnya semayamkan sampai hari ini. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Benediktus XIII pada tahun 1726.

Referensi :Yesaya - Saints.SQPN.com - Wikipedia ;  https://www.facebook.com/Para-Orang-Kudus-Santo-Santa-230668040624456/?ref=bookmarks
Fb Michael Christiano Hady
(†)  © mch

Sabtu, 04 Juni 2016

Sabtu Pertama

Devosi Sabtu Pertama untuk Pemulihan
oleh: P. Francis J. Peffley

Pada tanggal 13 Juli 1917, Bunda Maria menampakkan diri untuk ketiga kalinya kepada anak-anak dariFatima: Jacinta Francisco, dan Lucia. Bunda Maria memperlihatkan kepada merekasuatu penglihatan yang amat mengerikan tentang neraka dan berkata: “Kalian telah melihat neraka, ke mana jiwa-jiwa para pendosa yang malang itu akan pergi.

Untuk menyelamatkan mereka, Tuhan menghendaki agar di dunia diadakan devosi kepada Hati-ku Yang Tak Bernoda….. Aku akan datang untuk meminta Komuni pemulihan pada hari Sabtu Pertama.”Pada tanggal 10 Desember 1925, Bunda Maria menampakkan diri bersama Kanak-kanak Yesus kepada Lucia, yang pada waktu itu menjadi postulan(masa percobaan, persiapan masuk biara sebelum masa novisiat) Dorothean di Pontevedra, Spanyol. Bunda Maria berkata kepada Lucia: “Puteriku, pandanglah Hati-ku yang dikelilingi oleh duri-duri, yang setiap saat ditusukkan oleh orang-orang yang tidak tahu berterimakasih, dengan hujatan-hujatanserta rasa tidak tahu terimakasih mereka. Setidak-tidaknya engkau, berusahalah untuk menghiburku, dan menyebarluaskan bahwa aku berjanji untuk menolong pada saat ajal dengan segala rahmat yang dibutuhkan bagi keselamatan jiwa, kepada mereka semua yang pada Sabtu Pertama selama lima bulan berturut-turut: pergi menerima Sakramen Tobat, menerima Komuni Kudus, mendaraskan lima peristiwa Rosario, serta menemaniku selama 15 menit dengan merenungkan peristiwa-peristiwa Rosario, dengan ujud untuk pemulihan Hati-ku Yang Tak Bernoda.Bayi Yesus menampakkan diri kepada Lucia kembali pada tahun 1926 dan, atas permintaannya, Yesus memberikan persetujuan bahwa “praktek devosi ini dapat dilakukan pada hari Minggu sesudah Sabtu Pertama, karena alasan-alasan tertentu, selama para imam mengijinkan.”

Yesus juga mengatakan kepada Lucia bahwa Sakramen Tobat dapat dilakukan dengan tenggang waktu delapan hari darihari devosi, asalkan orang tersebut berada dalam keadaan rahmat. Di Vatikan, Paus Yohanes Paulus II secara pribadi memimpin doa Rosario pada hari Sabtu Pertama pada waktu menerima-Nya, dengan ujud untuk mempersembahkannya bagi pemulihan Hati Maria Yang Tak Bernoda.

Dalam penampakan Tuhan Yesus selanjutnya pada tahun 1930, Lucia bertanya kepada-Nya mengapa Ia menghendaki devosi lima Sabtu pertama, dan bukannya sembilan atau tujuh sebagai penghormatan atas Tujuh Duka Maria. “Puteri-Ku,” jawab-Nya, “alasannya sederhana.” Yesus mengatakan kepada Lucia bahwa ada lima jenis penghinaan serta hujatan yang dilontarkan terhadap Hati Maria Yang Tak Bernoda:

1.Hujat menentang Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa

2.Hujat menentang Maria tetap perawan selamanya

3.Hujat menentang Maria Bunda Allah serta menolak untuk menerima Maria sebagai Bunda segenap umat manusia

4.Hujat yang dilakukan oleh mereka yang berusaha secara terang-terangan menanamkan rasa acuh, benci serta memandang hina Bunda Yang Dikandung Tanpa Dosa dalam hati anak-anak.

5.Hujat yang dilakukan oleh mereka yang menghina Bunda Maria secara langsung dengan gambar-gambar kudusnya.Suster Lucia, dalam sepucuk surat kepada ibunya, menekankan akan pentingnya Devosi Sabtu Pertamasebagai sarana untuk memberikan penghiburan kepada Bunda Maria.

Sr Lucia menulis: “Saya berharap bahwa ibu akan menjawab saya dengan mengatakan bahwa ibu mempraktekan devosi Sabtu pertama serta melakukannya dengan cara yang terbaik, sehingga semua orang yang datang ke rumah ibu turut mempraktekkannya pula. Ibu tidak akan pernah dapat memberikan penghiburan kepadaku yang lebih besar daripada ini….Hiburlah Bunda Surgawi kita dengan devosi Sabtu pertama serta berusahalah agar orang-orang lain pun ikut menghibur Bunda Maria juga, dan dengan berbuat demikian, ibu akan membuatku amat bahagia.”Ketika kita memenuhi segala persyaratan sederhana yang diminta bagi devosi Sabtu Pertama dengan semangat pemulihan, kita membantu meringankan penderitaan yang diakibatkan oleh penghinaan-penghinaan terhadap Hati Maria Yang Tak Bernoda.

Kita juga memperoleh keuntungan dari penyembuhan Tuhan atas dosa, dan kita mulai mengikuti jalan damai-Nya.Pada saat ini, dilakukan usaha di seluruh dunia untuk menjawab permintaan Tuhan Yesus dan Bunda Maria atas devosi Lima Sabtu Pertama untukPemulihan. Di Amerika Serikat, di setiap keuskupan dilakukan usaha untuk memulai devosi Sabtu Pertama di setiap paroki, dan di banyak paroki di Amerika Serikat praktek devosi ini telah dilakukan.

Sesungguhnya orang banyak dapat melihat perubahan-perubahan yang menggembirakan yang terjadi di Eropa Timur dan belahan-belahan bumi lainnya sebagai hasil dari meningkatnya praktek devosi Sabtu Pertama atas permintaan Bunda Maria dari Fatima. Keikutsertaan dalam devosi Sabtu Pertama dapat dilakukan baik secara bersama-sama maupun secara pribadi. Jika devosi dilakukan secara bersama-sama, Rosario dapat didaraskan sebelum atau sesudah Misa Sabtu pagi atau Misa Sabtu sore. Renungan akan peristiwa-peristiwa Rosario dapat dilakukan secara pribadi.



sumber :"The First Saturdays of Reparation"by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”