Rabu, 30 September 2015

St. Hieronimus, 30 September




Pada hari ini, tanggal 30 September – hari terakhir dalam Bulan Kitab Suci – Gereja memperingati seorang kudus besar dalam Gereja pada umumnya dan di bidang perkitab-sucian khususnya, yaitu Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja. Hieronimus juga dikenal sebagai Santo Jerome .



St. Hieronimus dilahirkan dengan nama lengkap Eusebius Hieronimus Sophronius pada tahun 342 di Stridon, tepatnya di kota kecil perbatasan Pannonia, Dalmatia dan Italia, dekat Aquileia. Ayahnya bernama Eusebius adalah seorang yang saleh. Ia mendidik St. Hieronimus dalam hidup kristiani yang taat. Di Roma, St. Hieronimus Belajar pada Donatus seorang penyembah berhala dan ahli tata bahasa yang terkenal. Ia menjadi seorang ahli bahasa Latin dan Yunani, tetapi sayang setelah menjadi murid seorang penyembah berhala, dia pun menjadi seorang kafir dan lupa akan kebenaran dan kesalehan yang telah ditanamkan kepadanya sewaktu masa kecilnya. St. Hieronimus mempunyai kebiasaan yang sungguh-sungguh buruk dan kasar, tetapi ia merasa sangat tidak bahagia dan menjadi seorang yang asing akan kekristenan, diperbudak oleh kesia-siaan dan juga kedagingan. Kemudian ia bertobat dan memberi diri untuk dibaptis oleh Paus Liberius di Roma.


HIDUP BERPADANG GURUN
Pada tahun 374 St. Hieronimus pergi ke Antiokia dan membuat tempat tinggal di sana. Beberapa waktu kemudian ia jatuh sakit. Dalam keadaan sakit itulah St. Hieronimus mengalami suatu sentuhan Tuhan yang begitu mendalam. Pengalaman ini memberikan pengaruh yang besar dalam dirinya yang kemudian semakin diteguhkan saat pertemuannya dengan St. Malchus yang memberikan pandangan mengenai hidup rohani. Setelah mengalami semua itu, St. Hieronimus memutuskan untuk pergi ke Chalics, di sebelah tenggara Antiokia. Dia menderita lebih dari sekedar sakit fisik dan selain itu ia mendapat godaan kedagingan yang begitu kuat.
Di padang gurun yang berbatu-batu, liar dan terpencil itu, St. Hieronimus menulis surat kepada St. Eustochium. Ia menulis “Terbakar oleh panasnya matahari yang menghanguskan dan begitu menakutkan, bahkan untuk para pertapa yang tinggal di sini. Aku melihat tampaknya aku berada di tengah-tengah kesenangan-kesenangan dan hiruk pikuknya kota Roma, dan juga seperti di dalam pembuangan dan penjara, yang terdapat ketakutan akan neraka. Aku dengan sukarela menghukum diriku sendiri, tiada teman, yang ada hanyalah kalajengking dan binatang buas. Aku acapkali membayangkan diriku menyaksikan tarian para gadis Roma, dan aku ada di tengah-tengah mereka. Wajahku begitu pucat karena puasa, walaupun demikian aku masih merasakan serangan dari hasrat dalam tubuhku yang dingin, dalam dagingku yang kering dan hangus karena matahari ini. Sepertinya aku mati sebelum kematian itu datang. Nafsuku menjadi begitu hidup dan aku sendirian dengan musuh ini. Aku memberikan diriku dalam roh di kaki Yesus, membasahinya dengan air mataku, dan aku menjinakkan nafsuku dengan berpuasa selama seminggu penuh. Aku tidak malu untuk menyingkapkan godaan-godaanku. Aku seringkali menangis dari malam sampai siang hari dan memukul dadaku sampai ketenangan itu kembali.”
Dalam hal ini St.Hieronimus berpikir bahwa Tuhan mengijinkan hal-hal itu terjadi agar hamba-hambanya senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mengikuti jejak-Nya. Untuk meredam pemberontakan dari kedagingan, St. Hieronimus menambah aktivitas hariannya dengan belajar bahasa dan tulisan Ibrani. St. Hieronimus dapat melihat bahwa segala kelemahan itu hidup dalam dirinya. Ia berkata “Aku sungguh bersyukur kepada Tuhan, karena aku dapat memetik buah-buah yang manis dari segala pelajaran yang pahit yang telah aku alami selama ini.”


MENINGGALKAN PADANG GURUN DAN MENJADI SEORANG IMAM
Pada tahun 379 karena kemajuan hidup rohaninya, St. Hieronimus diangkat sebagai imam oleh Paulinus, Uskup Antiokia. St. Hieronimus pergi ke Konstantinopel belajar kitab suci dibawah bimbingan St.Gregorius dari Nazianze. Dan setelah itu ia pergi ke Roma untuk menghadiri konsili. Beberapa waktu setelah konsili, Paus St. Damasus meminta St. Hieronimus untuk menjadi sekretarisnya. Atas permintaan Paus, St. Hieronimus membuat revisi Kitab Suci. Saat itu Kitab Suci yang ada sangat tidak bagus karena banyak terjemahan-terjemahan yang buruk, dan interpolasi yang serampangan. Revisi ini adalah revisi pertama dari Kitab Suci berbahasa Latin yang ada.


MULAI MENGALAMI PERTENTANGAN
Disamping aktivitas dan tugas-tugasnya, St. Hieronimus juga membantu mengembangkan dan mengarahkan semangat asketis yang sedang berkembang, yang juga diikuti oleh para wanita bangsawan Roma, diantaranya adalah St. Paula dengan anak-anaknya, St. Blesilla dan St. Eustochium. Mereka ini nantinya menjadi pengikut pertama yang pergi ke tanah suci untuk bergabung dengan St. Hieronimus. St. Hieronimus sangat gigih dalam memerangi para penyembah berhala dan orang-orang yang hidup dalam kejahatan, serta kaum religius yang mempunyai semangat suam-suam kuku, dan mereka sangat terganggu oleh kata-kata keras, blak-blakan dan tajam dari St. Hieronimus. Setelah Paus Damasus meninggal pada tahun 384, St. Hieronimus tidak lagi mendapat perlindungan dan ia pun tidak lagi menjabat sebagai sekretaris Paus.
Dalam suratnya tentang kemurnian yang ia tulis kepada St. Eustochium, dia menulis dengan tajam mengenai beberapa komunitas-komunitas Kristen, ia menulis “Semua keinginan mereka adalah selalu mengenai pakaian-pakaian mewah dan indah-indah, seharusnya mereka dibawa ke kamar pengantin dari pada menjadi seorang biarawan; pikiran mereka hanya ingin mengetahui tentang nama-nama, rumah-rumah dan apa yang menjadi kebiasaan para bangsawan, mereka membenci puasa, dan hanya menuruti hasrat lidah mereka.” Dari apa yang terjadi itu bukanlah hal yang mengejutkan, bila membangkitkan kemarahan. St. Hieronimus pun difitnah dan juga disebarkan gosip tentang skandal antara dirinya dan St. Paula. Akhirnya St. Hieronimus pun menghindar dan kembali ke Selatan, ia mencoba menenangkan diri dalam kesunyian. Dalam permasalahan ini pun St. Hieronimus berbesar hati dan ia berkata “Kita semua harus bertahan sampai kursi pengadilan Kristus tiba, dan kita dapat tahu roh apakah yang menghidupkan kita.” Sembilan bulan kemudian di Antiokia St. Paula dan St. Eustochium beserta para wanita saleh Roma yang lainnya bergabung kembali dan memutuskan untuk mengasingkan diri bersama dengan St. Hieronimus di tanah suci.

PEMBELAAN TERHADAP IMAN KRISTEN
Karena kemurahan hati St. Paula, maka dibangunlah sebuah biara untuk para biarawan dan biarawati di dekat Basilika Nativity di Bethlehem. St. Hieronimus sendiri hidup di dekat Bethlehem dan membuka sebuah seko-lah. Akhirnya selama beberapa tahun di sana mereka mendapatkan kedamaian. Akan tetapi St. Hieronimus tidak dapat berdiam diri saat kebenaran Iman Kristen terancam. Dia menerbitkan buku di Roma yang melawan Hel-vidius dalam memperdebatkan doktrin tentang keperawanan St. Maria. Helvidius memberikan pengajaran bahwa Maria mempunyai anak-anak dari St. Yusuf setelah kelahiran Yesus Kristus. Selain itu ia menulis buku untuk mela-wan aliran bidaah Jovinian. Hal pertama yang ia jelaskan adalah keperawanan Bunda Maria, yang disangkal oleh para pengikut Jovinian, dan yang kedua adalah melawan pengajaran-pengajaran keliru dan sesat yang lain. Buku-buku itu ditulis dengan keyakinan iman yang kuat, tajam dan keras. Beberapa tahun kemudian St. Hieronimus mengarahkan perhatiannya kepada Vigilantius – Dormantius, kedua imam yang menentang selibat dan penghormatan kepada relikwi orang kudus dan para martir. Mereka menjuluki orang yang menghormatinya sebagai penyembah-penyembah berhala dan ibadat yang sia-sia. Dalam hal itu ia memberikan jawaban “Kami tidak menyembah relikwi para martir itu; tetapi kami menghormati mereka dan kami menyembah Dia yang memanggil mereka pada jalan kemartiran itu, kami menghormati para hamba Allah dan penghormatan yang kami berikan mencerminkan penghormatan dan penyembahan kami kepada-Nya.” St. Hieronimus memberikan arti penghormatan yang sesungguhnya dan memberikan penjelasan tentang perbedaan antara menghormati dan penyembahan berhala. “Tidak ada seorang Kristen pun yang menyembah mereka sebagai Tuhan” dan untuk menunjukkan bahwa para santo dan santa berdoa bagi kita, St. Hieronimus berkata “Jika para rasul dan para martir saat masih hidup di dunia dapat mendoakan orang lain, betapa lebih lagi apa yang dapat mereka lakukan setelah mereka menerima mahkota kemenangan di Surga! Apakah saat ini mereka menjadi tidak berdaya? Ingat mereka kini bersatu dengan Yesus Kristus di Surga!”
Dari tahun 395 sampai 400 St. Hieronimus ikut serta dalam melawan aliran Origenisme. Ada beberapa penulis mengatakan, tidak ada orang yang lebih suka memakai hasil karya Origenes dan mengagumi karyanya itu lebih dari St. Hieronimus; tetapi ditemukan di Gereja Timur ada beberapa orang yang membuat penyesatan yang menyedihkan dengan memakai nama Origenes dan juga dalam beberapa tulisannya. Ia bersama dengan St. Epifanius secara aktif melawan penyebaran ajaran yang tidak benar itu. St. Hieronimus menulis pada tahun 416 “Aku tidak pernah terpengaruh oleh bidaah dan selalu berhasil menekankan sepenuhnya dalam diriku bahwa musuh Gereja juga menjadi musuhku,” tetapi ia begitu bijaksana dan toleran kepada orang lain dengan mengatakan bahwa bukan berarti setiap orang yang berbeda pandangan dengannya adalah juga musuh Gereja. Ia tidak mempunyai sikap yang basa-basi jika memerangi hal kejahatan dan penyesatan, ia adalah orang yang cepat marah dalam hal tertentu, tetapi ia juga orang yang cepat menyesal, bahkan hal itu ia tekankan lebih terhadap dirinya sendiri daripada terhadap orang lain. Ada sebuah cerita bahwa Paus Sixtus V melihat lukisan-lukisan para kudus yang salah satunya terdapat lukisan St. Hieronimus, dan disitu dilukiskan St. Hieronimus sedang memukul dadanya dengan sebuah batu. Dan Paus Sixtus V berkata “Kamu melakukan hal yang baik dengan batu itu, tanpa hal itu kamu tidak akan dikanonisasi dan digelarkan kudus oleh Gereja.”

HIERONIMUS SEORANG AHLI PENTERJEMAH KITAB SUCI
Tidak ada yang disumbangkan oleh St. Hieronimus untuk Gereja yang lebih termasyhur daripada hasil karya penerjemahan Kitab Suci yang begitu indah. Dapat dilihat pada waktu Roma dibawah pimpinan Paus Damasus, St. Hieronimus telah memperbaiki terjemahan Injil, dan seluruh kitab Perjanjian Baru serta Mazmur dalam bahasa Latin kuno. Terjemahan barunya dari bahasa Ibrani terutama Perjanjian Lama adalah karyanya pada tahun-tahun ketika ia tinggal di Bethlehem. Dilihat dalam berbagai sudut pandang penterjemahan dari bahasa asli ke dalam bahasa Latin, terjemahan ini sungguh patut untuk dikagumi. Terjemahannya dalam bahasa Latin mendapat sebutan Vulgata. Hasil karya St. Hieronimus ini telah dinyatakan oleh Konsili Trente sebagai sumber dan acuan resmi Kitab Suci berbahasa Latin dalam Gereja Katolik dan juga menjadi sumber dan acuan dari versi-versi kitab suci yang dibuat atau diterjemahkan dengan bahasa-bahasa lain.
St. Hieronimus telah dibangkitkan oleh Tuhan dengan cara yang khusus dan istimewa. Gereja memberinya gelar yang tertinggi dari semua Doktor yang ada dalam Gereja untuk penterjemahan Kitab Suci. Paus Clement VIII menyebut St. Hieronimus sebagai manusia yang dibimbing secara ilahi dalam menter-jemahkan Kitab Suci itu. Ia dipersiapkan dengan begitu luar biasa oleh Tuhan dalam pembentukannya, ia mengalami pemurnian hati yang besar dan menghabiskan waktu-waktunya dalam keheningan, kontemplasi dan kurban-kurban untuk silih bagi dosa-dosanya. Selain hal-hal tersebut, St. Hieronimus adalah seorang insan Allah, ia senantiasa berusaha mencari Allah dalam kesunyian dan keheningan untuk dapat bersatu dengan-Nya. Kesunyian dan keheningan itu memberi terang dan bantuan rahmat dari surga, memberikan pikiran dan watak yang baru kepadanya, sebelum Tuhan memanggil dan memakainya untuk melakukan kehendak-Nya.


AKHIR HIDUPNYA
Menjelang hari-hari kematiannya St. Hieronimus menunda pekerjaan studinya karena serbuan bangsa Barbar, dan juga kekerasan dan penganiayaan oleh para pengikut bidaah Pelagianisme. Banyak yang disiksa, seorang diakon dibunuh, dan mereka membakar biara-biara. Pada tahun berikutnya St. Eustochium meninggal dan tak lama kemudian St. Hieronimus pun meninggal dunia. Ia meninggal dengan damai pada tanggal 30 september 420. Ia dimakamkan di bawah Gereja Nativity, dan lama sesudah itu jenasahnya dipindahkan ke Roma. St. Hieronimus digambarkan bersama dengan seekor singa yang melambangkan ketidakgentaran dan keberaniannya dalam membela kebenaran iman yang sejati.
Ketekunan St. Hieronimus dalam doa dan kepekaan terhadap bimbingan Roh Kudus, memberi dia kemampuan untuk mengenal dan memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan melalui Sabdanya. Karena itu marilah kita meneladani semangat doa dari St. Hieronimus ini dan keterbukaan hatinya akan kehadiran Roh Kudus agar kita mampu mengenal apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam kehidupan kita, baik itu lewat Sabda Tuhan sendiri maupun lewat bisikan Roh Kudus di dalam doa-doa harian kita.


St.Hieronimus doakanlah kami


Artikel diambil dari:http://www.carmelia.net/

Jadwal Misa di Goa Maria Tritis, Oktober 2015


Mari berziarah ke Goa Maria Tritis (GMT) sambil berwisata di pantai-pantai Gunungkidul yang indah .


Berikut ini adalah jadwal misa selama bulan Oktober 2015:


Minggu 04 Oktober 2015 (novena ke 2): Rm CB  Kusmaryanto SCJ

Minggu 11 Oktober 2015 :Rm. Andreas Novian Ardi Prihatmoko Pr

Rabu 14 Oktober 2015 : Rm. Rosarius Sapto Nugroho Pr

Minggu 18 Oktober 2015 : Rm. Stefanus Surawan Pr

Minggu 25 Oktober 2015: Rm. SP Bambang Ponco Santoso SJ


Selasa, 29 September 2015

St. Mikhael, St. Gabriel & St. Rafael

29 September, Pesta nama Malaikat Agung



Mikhael, Gabriel dan Rafael disebut “Santo” karena mereka kudus. Namun demikian, mereka berbeda dari para kudus lainnya karena mereka bukanlah manusia.  Mereka adalah malaikat, mereka melindungi manusia. Kitab Suci mencatat nama tiga malaikat yang adalah utusan utama Allah, yaitu St. Mikhael, St.Gabriel, St.Rafael.  Mereka disebut malaikat agung oleh karena peran penting mereka dalam rencana Allah.

Para malaikat adalah juga pelindung kita. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, "Sejak masa anak-anak sampai pada kematiannya malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan dan doa permohonan" (No. 336). St. Basilius (wafat 379) menegaskan, "Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan" (Adversus Eunomium, III, 1). Sebagian besar dari kita, semenjak kecil telah belajar mendaraskan doa sederhana kepada malaikat pelindung kita, "Malaikat Allah, pelindungku tersayang, dengan perantaraan siapa kasih Allah dinyatakan kepadaku. Sejak saat ini dampingilah aku, untuk menerangi, melindungi, memimpin dan membimbingku." Sebagian dari para kudus dapat melihat malaikat, seperti St Petrus (Kis 12:1-19), atau melihat malaikat pelindung mereka, seperti St. Padre Pio dan St. Elizabeth dari Hungaria.


Nama Mikhael artinya “Siapa dapat menyamai Tuhan?” Tiga kitab dalam Kitab Suci bercerita tentang St. Mikhael, yaitu: Daniel, Wahyu dan Surat Yudas. Dalam Kitab Wahyu bab 12:7-9, kita membaca tentang suatu pertempuran besar yang terjadi di surga. Santo Mikhael adalah salah satu malaikat utama yang melayani Allah. Santo Mikhael  yang memimpin para malaikat yang baik dalam pertempuran di surga melawan lucifer dan para pengikutnya; yang berakhir dengan kejatuhan Lucifer ke nereka. Mikhael menjadi pemenang karena setia kepada Tuhan.   Dalam iman Kristen, Mikael dikenal sebagai pembela kaum beriman menghadapi serangan musuh  yang jahat.
 Kita dapat mohon bantuan St. Mikhael untuk menjadikan kita teguh dalam kasih kepada Yesus dan dalam mempraktekan iman Katolik kita.

Nama  Gabriel berarti “Tuhan kemenanganku”. Ia juga disebutkan dalam kitab Daniel,
yang lazim disebut juga 'Jibrail' berarti 'Kekuatan Allah.' Gabriel kita kenal dengan baik karena ia termasuk salah satu tokoh penting dalam Injil Lukas.  Malaikat Agung ini menyampaikan kepada Maria bahwa ia akan menjadi Bunda Juruselamat kita. Gabriel menyampaikan kepada Zakharia bahwa ia dan Elisabet akan dikarunia seorang putera yang akan dinamai Yohanes. Gabriel adalah pembawa warta, utusan Tuhan untuk menyampaikan Kabar Sukacita. Peranannya sebagai pelayan dan utusan Allah sudah dikenal umat Allah semenjak masa Perjanjian Lama.
Dari peranan malaikat Gabriel, kita tahu bahwa Gabriel menjadi utusan Allah untuk menyampaikan kepada manusia berita keselamatan dari Allah. Ia. memberi penerangan ilahi kepada manusia sehingga terbukalah budi dan hati manusia untuk memahami dan meyakini kehendak Allah.
 Kita dapat mohon bantuan St. Gabriel untuk menjadikan kita pembawa warta, seorang utusan Tuhan seperti dirinya.

Nama Rafael artinya “Tuhan menyembuhkan”.  Rafael  juga berarti 'Obat Tuhan' / 'Tabib Allah'
 Kisah terkenal mengenai malaikat Rafael sebagai 'Tabib Allah' dapat kita baca di dalam Kitab Tobit 4-12. Di sana Rafael tampil sebagai 'teman seperjalanan' Tobia ke negeri Media, dan sebagai malaikat Tuhan yang diutus untuk menyembuhkan Tobias dari kebutaannya, dan untuk membebaskan Sara, puteri Raguel, dari gangguan roh jahat.
Pada akhir perjalanan, ketika segala sesuatunya telah berakhir, Rafael menyatakan jati dirinya yang sebenarnya. Ia menyebut dirinya sebagai salah satu dari ketujuh malaikat yang melayani di hadapan tahta Allah. Kita dapat mohon bantuan St Rafael untuk melindungi kita dalam perjalanan, bahkan dalam perjalanan yang amat dekat sekali pun, seperti misalnya pergi ke sekolah. Kita juga dapat mohon pertolongannya ketika kita atau seseorang yang kita kasihi diserang penyakit.  Umat Kristen menghormati malaikat Rafael sebagai tabib Allah yang diutus untuk menyembuhkan manusia dari penyakit dan menguatkan kelemahan jiwanya serta membebaskan manusia dari perhambaan setan.

Untuk menghormati ketiga Malaikat Agung hari ini, marilah kita mengucapkan doa syukur dan pujian kepada Tuhan Allah.

Sumber:Yesaya, ImanKatolik, dll


Rabu, 23 September 2015

Padre Pio

23 September,

Peringatan Wajib St Padre Pio Pietrelcina


St.Padre Pio adalah seorang biarawan Fransiskan Kapusin dari Biara San Giovanni Rotondo di Foggia Italia.  Ia adalah seorang mistikus Gereja Katolik yang hidupnya penuh dengan mujizat dan karunia rohani.  Tuhan menganugerahkan kepadanya begitu banyak karunia rohani.
Padre Pio memperoleh karunia stigmata(luka-luka Yesus), Osmogenesia(HARUM SURGAWI/ kekudusan, bau harum ini kerapkali terpancar dari tubuhnya atau dari benda-benda yang disentuhnya atau dari pakaiannya. Terkadang bau harum ini dapat tercium pada tempat-tempat yang ia lalui), bilokasi (berada di dua tempat berbeda secara bersamaan waktunya),  levitasi(fenomena di mana orang terangkat dari tanah dan tinggal melayang di udara), teleportasi(suatu proses pemindahan sesuatu (materi) dari satu titik ke titik lain melalui sebuah proses penguraian dan pengembalian kembali susunan dari sesuatu tersebut), penglihatan, membaca pikiran orang lain, karunia penyembuhan dan bahkan ia pernah membangkitkan seorang gadis yang sudah dinyatakan meninggal.


Francesco Forgione dilahirkan pada tanggal 25 Mei 1887 di sebuah kota kecil bernama Pietrelcina, Italia selatan, dalam wilayah Keuskupan Agung Benevento. Ia adalah anak kelima dari delapan putera-puteri keluarga petani Grazio Forgione dan Maria Giuseppa De Nunzio (Mamma Peppa), sebuah keluarga petani sederhana yang harus bekerja keras untuk menyediakan kebutuhan sehari-hari termasuk pendidikan anak-anak dalam keluarga itu.
Pada saat dibaptis, dia diberi nama Francesco Forgione antara lain karena devosi dan kecintaan Ibu Giuseppa Forgione kepada Santo Fransikus Asisi.

Sejak usia lima tahun, Francesco dianugerahi penglihatan-penglihatan surgawi dan juga mengalami penindasan-penindasan setan; ia melihat dan berbicara dengan Yesus dan Santa Perawan Maria, juga dengan malaikat pelindungnya; sayangnya, kehidupan surgawi ini disertai pula oleh pengalaman tentang neraka dan setan. Ketika usianya duabelas tahun, Francesco kecil menerima Sakramen Penguatan dan menyambut Komuni Kudus-nya yang Pertama.
Pada tanggal 6 Januari 1903, terdorong oleh semangat yang bernyala-nyala, Francesco yang kala itu berusia enambelas tahun masuk novisiat Biarawan Kapusin di Morcone. Pada tanggal 22 Januari, Francesco menerima jubah Fransiskan dan menerima nama Broeder Pio. Di akhir tahun novisiat, Broeder Pio mengucapkan kaul sederhana, yang dilanjutkan dengan kaul meriah pada tanggal 27 Januari 1907. Karena kesehatannya yang buruk, setelah ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 10 Agustus 1910 di Katedral Benevento, Padre Pio harus tinggal kembali bersama keluarganya. Para dokter yang mendiagnosanya memaklumkan bahwa ia mengidap infeksi paru-paru dan bahwa masa hidupnya hanya tinggal sebulan saja.

Meski demikian, setelah enam tahun bergulat dengan penyakitnya, kesehatan Padre Pio mulai membaik. Pada bulan September 1916, Padre Pio diutus ke rumah Biara San Giovanni Rotondo, di mana ia tinggal hingga akhir hayatnya. Bagi Padre Pio, iman adalah hidup , Padre Pio akan mengatakan, “Dalam kitab-kitab kita mencari Tuhan, dalam doa kita menemukan-Nya. Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan.” Iman membimbingnya senantiasa untuk menerima kehendak Allah yang misterius.    
Pada tanggal 20 September 1918, sementara berdoa di depan sebuah Salib di kapel tua, sekonyong-konyong suatu sosok seperti malaikat memberinya stigmata,  kelima luka-luka Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus muncul pada tubuhnya. Padre Pio adalah imam pertama yang mempunyai stigmata dalam sejarah Gereja. Tak terhitung jumlah orang yang tertarik pada nasehatnya dan datang untuk merayakan sakramen Pengampunan Dosa yang dilayaninya. Dia bahkan mampu melayani para peniten sampai 15 jam per hari atau lebih. Amat banyak orang memperoleh bimbingan rohaninya baik secara langsung maupun lewat korespondensi. Hidupnya dibaktikan kepada hidup doa selama berjam-jam tiap hari disertai matiraga yang berkanjang sebagai bukti betapa dia dipersatukan dengan penderitaan Kristus. Stigmata itu terus terbuka dan mencucurkan darah selama limapuluh tahun.

Kala itu pagi hari tanggal 20 [September] dan aku sedang berada di tempat paduan suara setelah perayaan Misa Kudus, ketika suatu istirahat, bagaikan suatu tidur yang manis menghampiriku. Segenap indera, lahir maupun batin, pula indera jiwa ada dalam ketenangan yang tak terlukiskan. Ada suatu keheningan mendalam di sekelilingku dan di dalamku; suatu perasaan damai menguasaiku dan lalu, semuanya terjadi dalam sekejab bahwa aku merasa bebas sepenuhnya dari segala keterikatan. Ketika semuanya ini terjadi, aku melihat di hadapanku, suatu penampakan yang misterius, serupa dengan yang aku lihat pada tanggal 5 Agustus, yang berbeda hanyalah kedua tangan, kaki dan lambung-Nya mencucurkan darah. Penglihatan akan Dia mengejutkanku: apa yang kurasakan pada saat itu sungguh tak terkatakan. Aku pikir, aku akan mati; dan pastilah aku mati jika Tuhan tidak campur tangan dan memperkuat hatiku, yang nyaris meloncat dari dadaku! Penglihatan berakhir dan aku tersadar bahwa kedua tangan, kaki dan lambungku ditembusi dan mencucurkan darah. Dapat kau bayangkan siksaan yang aku alami sejak saat itu dan yang nyaris aku alami setiap hari. Luka di lambung tak henti-hentinya mencucurkan darah, teristimewa dari Kamis sore hingga Sabtu. Ya Tuhan, aku mati karena sakit, sengsara dan kebingungan yang aku rasakan dalam kedalaman lubuk jiwaku. Aku takut aku akan mencucurkan darah hingga mati! Aku berharap Tuhan mendengarkan keluh-kesahku dan menarik karunia ini daripadaku….”


Para superiornya berusaha merahasiakan kejadian itu, kendati demikian, berita segera menyebar dan ribuan orang berduyun-duyun datang ke biara yang terpencil itu, baik mereka yang saleh maupun mereka yang sekedar ingin tahu. Sesungguhnya, setiap pagi, sejak pukul empat dini hari, selalu ada ratusan orang dan terkadang bahkan ribuan orang menantinya.
Padre Pio tidur tak lebih dari dua jam setiap harinya dan tak pernah mengambil cuti barang sehari pun selama limapuluh tahun imamatnya! Ia biasa bangun pagi-pagi buta guna mempersiapkan diri mempersembahkan Misa Kudus. Setelah Misa, Padre Pio biasa melewatkan sebagian besar harinya dalam doa dan melayani Sakramen Pengakuan Dosa. Hidupnya penuh dengan berbagai karunia mistik, termasuk kemampuan membaca batin para peniten, bilokasi, levitasi dan jamahan yang menyembuhkan. Darah yang mengucur dari stigmatanya mengeluarkan bau harum mewangi atau harum bunga-bungaan.
Kehidupan Padre Pio penuh dengan mukjizat, tetapi kodrat dari mukjizat itu sendiri selalu ilahi. Oleh sebab itulah, Padre Pio mengundang orang untuk mengucap syukur kepada Tuhan, satu-satunya sumber mukjizat. Beberapa orang kudus dianugerahi karunia yang dikenal sebagai “harum kekudusan”.  St Padre Pio dianugerahi harum tanda kesucian yang disebut harum kekudusan, sebab itu, orang yang berada di dekatnya, dapat seringkali mencium harumnya yang khas. 


Korespondensi Padre Pio dengan pembimbing rohaninya mengungkapkan penderitaannya yang berat, baik fisik maupun rohani sejak menerima stigmata sampai akhir hidupnya. Surat-surat itu mengungkapkan kesatuannya yangmendalam dengan Tuhan dan cintanya yang membara kepada Ekaristi Suci dan Bunda Kerahiman Ilahi. Selain itu ia juga menjalani apa yang dikenal sebagai inkwisisi yang dimulai pada tahun 1921 dengan perintah dari Takhta Suci.
Dalam surat tertanggal 22 Oktober 1918 kepada Padre Benedetto, pembimbing rohaninya, Padre Pio mengisahkan pengalaman penyalibannya:
“… Apakah yang dapat kukatakan kepadamu mengenai penyalibanku? Ya Tuhan! Betapa aku merasa bingung dan malu apabila aku berusaha menunjukkan kepada orang lain apa yang telah Engkau lakukan kepadaku, makhluk-Mu yang hina dina!

Sejak masa muda, kesehatan Padre Pio amat rapuh, dan semakin memburuk keadaannya pada tahun-tahun terakhir masa hidupnya. Pada tanggal 23 September 1968, pukul 2.30 dini hari, dalam usia delapanpuluh satu tahun, Saudari Maut menjemputnya dalam keadaan siap lahir batin dan damai tenang. Segera setelah ia wafat, kamarnya dipenuhi bau harum semerbak selama beberapa saat lamanya, seperti bau harum yang memancar dari luka-lukanya selama limapuluh tahun penderitaannya; stigmata tak lagi tampak, tak terlihat sama sekali adanya darah ataupun tanda-tanda bekas luka.
Pada tanggal 20 Februari 1971, belum genap tiga tahun setelah wafat Padre Pio, Paus Paulus VI berbicara mengenainya kepada para Superior Ordo Kapusin, “Lihat, betapa masyhurnya dia, betapa seluruh dunia berkumpul sekelilingnya! Tetapi mengapa? Apakah mungkin karena ia seorang filsuf? Karena ia bijak? Karena ia cakap dalam pelayanan? Karena ia mempersembahkan Misa dengan rendah hati, mendengarkan pengakuan dosa dari fajar hingga gelap dan - tak mudah mengatakannya - ia adalah dia yang menyandang luka-luka Tuhan kita. Ia adalah manusia yang berdoa dan yang menderita.”
Padre Pio dinyatakan sebagai Venerabilis pada tanggal 18 September 1997 oleh Paus Yohanes Paulus II; pada tanggal 2 Mei 1999 dibeatifikasi; dan akhirnya dikanonisasi pada tanggal 16 Juni 2002 di Roma, oleh Paus yang sama. Gereja memaklumkan pesta liturgis St Padre Pio dari Pietrelcina dirayakan pada tanggal 23 September. Jenasahnya tetap utuh waktu digali kembali beberapa puluh tahun kemudian.

Salah satu perkataannya yang terkenal adalah  'Pray, hope, and don't  worry. Worry is useless. God  is merciful and will hear your prayer.' Padre Pio kerapkali mengatakan kepada setiap orang yang datang kepadanya agar berdoa, berharap, dan jangan cemas karena Tuhan berbelas kasih dan akan mendengar doa kita. Ia memberi bimbingan rohani melalui surat-surat yang ia tulis. Surat-suratnya, tanpa kecuali, berisi nasihat untuk berdoa.
Sumber : Yesaya, dll

Ingin tahu lebih lanjut tentang Padre Pio dapat di baca dihttp://yesaya.indocell.net/id908.htm

St. Padre Pio doakanlah kami

SEBUAH DOA OLEH ST. PADRE PIO
· oleh Cornelius 
Tinggallah denganku, Tuhan, karena kehadiran-Mu aku perlukan sehingga aku tidak melupakanmu. Engkau tahu bagaimana dengan mudahnya aku meninggalkanmu.
Tinggallah denganku, Tuhan, karena aku lemah dan membutuhkan kekuatan-Mu, sehingga aku tidak sering jatuh.
Tinggallah denganku, Tuhan, karena Engkau adalah hidupku, dan tanpa-Mu, aku tanpa semangat.
Tinggallah denganku, Tuhan, karena Engkau adalah terangku, dan tanpa-Mu, aku berada dalam kegelapan.
Tinggallah denganku, Tuhan, untuk menunjukkan aku kehendak-Mu.
Tinggallah denganku, Tuhan, sehingga aku mendengar suara-Mu dan mengikuti-Mu.
Tinggallah denganku, Tuhan, karena aku ingin mencintai-Mu dengan sangat, dan selalu berada dalam persahabatan-Mu.
Tinggallah denganku, Tuhan, jika Engkau menghendaki aku untuk setia pada-Mu.
Tinggallah denganku, Tuhan, karena semiskinnya jiwaku, aku berharap jiwaku menjadi tempat penghibur untuk-Mu, tempat persembunyian kasih.
Tinggallah denganku, Tuhan, karena hari sudah sore dan akan berakhir, dan kehidupan berlalu, kematian, penghakiman, keabadian mendekat. Adalah perlu untuk memperbaharui kekuatanku, sehingga aku tidak akan berhenti di sepanjang jalan, dan untuk itu, aku membutuhkan-Mu. Ini hampir terlambat dan kematian mendekat. Aku takut kegelapan, godaan, kekeringan, salib, penderitaan. O betapa aku memerlukan-Mu, Yesusku, di malam pengasingan ini!
Tinggallah denganku malam ini, Tuhan, dalam hidup dengan segala bahaya, aku memerlukan-Mu.
Ijinkan aku mengenal-Mu sebagai murid-mu di saat pemecahan roti, sehingga persekutuan ekaristi menjadi terang yang menghilangkan kegelapan, kekuatan yang menahanku, kebahagiaan unik dari hatiku.
Tinggallah denganku, Tuhan, karena pada saat kematianku, aku ingin tetap disatukan dengan-Mu, jika bukan oleh komuni, paling tidak oleh kasih dan rahmat.
Tinggallah denganku, Yesus, aku tidak meminta suka cita ilahi, karena aku tidak pantas, tapi, hadiah keberadaan-Mu, oh ya, aku meminta ini dari-Mu!
Tinggallah denganku, Tuhan, karena Engkau sendirilah yang aku cari. Kasih-Mu, Rahmat-Mu, Roh-Mu, karena aku mencintai-Mu dan tidak meminta hadiah lain kecuali untuk mencintai-Mu lebih dan lebih.
Dengan kasih yang mantap, aku akan mencintai-Mu di bumi dengan segenap hatiku dan tetap mencintai Engkau dengan sempurna dalam keabadian.

Amen.

Senin, 21 September 2015

21 September, Pesta Santo Mateus


Santo Mateus, Rasul dan Pengarang Injil

 Hari ini Gereja merayakan pesta Santo Mateus(Matius), Rasul dan Pengarang Injil. Ayahnya bernama Alpheus. Ia sendiri pun disebut juga Levi.
Mateus dikenal luas sebagai pemungut cukai di kota Kapernaum, daerah Galilea.  Sebagai jajahan Romawi, orang  Yahudi wajib membayar pajak kepada Kaisar. Pembayaran ini tidak dilakukan melalui pemotongan gaji atau pungutan oleh petugas pajak Romawi. Tagihan diserahkan kepada pemborong-pemborong yang bersedia menyetorkan sejumlah uang tertentu tepat pada waktunya. Pemborong membawahi pengumpul-pengumpul pajak,yang langsung berhubungan dengan rakyat. Bukan rahasia lagi,bahwa para pemborong dan pengumpul pajak umumnya memeras rakyat. Maka mereka dibenci dan dicap kolaborator penjajah. Mereka disudutkan dalam pergaulan masyarakat. Mereka disejajarkan dengan pembunuh, perampok, penjahat, pelacur dan lain-lain. Mateus termasuk kelompok tak terhormat ini. 

Alasannya ialah mereka itu adalah sahabat dan kaki-tangan Romawi, bangsa kafir yang menjajah mereka. Meskipun tuduhan itu tidak seluruhnya benar, namun Mateus jelas digolongkan dalam kelompok yang tak terhormat ini. Apa boleh buat karena itulah pandangan umum masyarakat Yahudi.
Segera terlihat bahwa Mateus masih berharga di mata Tuhan. Yesus memanggil dia: "Ikutilah Aku!" Panggilan ini menunjukkan bahwa bagi Yesus, Mateus masih memiliki titik-titik kebaikan yang dapat diandalkan. Peristiwa panggilan Mateus sempat mencengangkan banyak orang: "Bagaimana mungkin Yesus memanggil dan memilih seorang pendosa menjadi muridNya?" Ketika Mateus mengadakan perjamuan besar di rumahnya bagi Yesus dan murid-muridNya, banyak pemungut cukai hadir juga. Kaum Farisi dan orang-orang lain yang tidak menyukai Yesus semakin membenci Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama dengan para pendosa?" Pada saat itulah, Yesus mengatakan: "Bukan orang sehat yang memerlukan dokter, melainkan orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang saleh, melainkan orang berdosa."  


Pada suatu hari Yesus menyusuri pantai danau Genesaret, saat itu  Mateus sedang duduk-duduk di kantor pajak di Kapernaum (Matius 9:9). Ia melihat Matius,yang juga disebut Levi, tengah duduk menghadap meja setoran pajak. Yesus menyapanya: "Ayo,ikut Aku". 
Terhadap panggilan Yesus "Ikutilah Aku!", Mateus segera bangun dan mengikuti Yesus. Ia meninggalkan seluruh hartanya yang banyak itu, dan dengan rela memulai suatu hidup yang baru bersama Yesus dan murid-murid lainnya. Sikap tegas Mateus menunjukkan bahwa ia memiliki sifat-sifat Kerajaan Allah: semangat kemiskinan dan pelayanan, terutama cinta dan iman-kepercayaan akan Yesus.

Mateus, seorang terpelajar. Ia dapat berbicara dan menulis dalam bahasa Yunani dan Aramik, suatu dialek bahasa Ibrani. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, baik sebelum maupun sesudah dipanggil Yesus. Menurut tradisi lisan purba, setelah Yesus naik ke surga, Mateus tetap tinggal di Yudea menulis Injilnya. Mateus mewartakan Injil dan berkarya di tengah kaum sebangsanya: orang-orang Kristen keturunan Yahudi di Palestina atau Siria selama kira-kira 15 tahun. Selama itulah ia menulis Injilnya yang berisi pengajaran agama dan kesaksian tentang Yesus kepada orang-orang Kristen keturunan Yahudi. Injilnya ditulis kira-kira antara tahun 50-65.


Dalam Injilnya, Mateus menegaskan bahwa Yesus dari Nazareth itu adalah benar-benar Mesias yang dijanjikan Allah dan dinubuatkan para nabi dalam masa Perjanjian Lama: la membuka Injilnya dengan membeberkan silsilah Yesus Kristus mulai dari Abraham sampai Maria yang melahirkan Yesus. Dengan silsilah itu, ia mau menunjukkan dengan tegas kemanusiaan Yesus dan kedudukanNya sebagai Penyelamat (terakhir!) yang dijanjikan Allah. Itulah sebabnya, Injil Mateus dilambangkan dengan 'manusia bersayap'.Setelah menuliskan Injilnya, Mateus pergi ke arah timur: ke Masedonia, Mesir, Etiopia dan Persia. Konon ia mati sebagai martir di Persia karena mewartakan Injil tentang Yesus Kristus.

Mateus dibicarakan dalam tulisan Kristen awal, terutama tiga Injil Sinoptik. Dia dipercayai sebagai penyusun atau sumber utama dari Injil Matius, salah satu dari 4 Kitab Injil dalam Alkitab. Injil Santo Matius ditulis untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak bagi orang Yahudi, baik mereka yang percaya maupun yang tidak percaya. Bagi orang Yahudi Injil Matius dipergunakan untuk memberi semangat bagi cobaan-cobaan yang akan datang, terutama kemungkinan mereka kembali memeluk agama Yahudi. Bagi mereka yang tidak percaya, Injil Matius didesain untuk meyakinkan mereka bahwa Mesias telah datang dalam ujud Yesus dimana semua nubuat tentang Mesias telah terpenuhi secara spiritual dan bukan secara fisik.
Dia diakui sebagai santo baik dalam Gereja Katolik maupun Ortodoks Timur
Matius adalah: Rasul dan pengarang Injil; Pelindung pegawai pajak dan bea cukai. Pesta kemartirannya 21 September.



Sumber: www.imankatolik.or.id, www.ekaristi.org, wikipedia

Jadwal Novena GMT

Novena Ke 2 Goa Maria Tritis Wonosari
Gunungkidul Yogyakarta


04 Oktober 2015, pkl 09.30


tema: 

Jati Diri Tampak dalam Budaya (Mantheng tanpa Malang Tumoleh)


Dipimpin oleh Romo CB. Kusmaryanto, SCJ

Koor oleh komunitas Biarawan-Biarawati asal Sumatera

Senin, 14 September 2015

14 September, Pesta Salib Suci

GEREJA MERAYAKAN PESTA SALIB SUCI.


Hari ini 14 September Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Gereja merayakannya sambil juga mengenang St. Helena yang menurut tradisi Gereja, telah turut berjasa menemukan kembali salib suci Kristus di Yerusalem. Sejak itu, Salib menjadi lambang Kristiani yang paling suci. Tubuh Yesus yang menderita di atasnya kita sebut Corpus. Salib di dinding kamar kita atau salib di sekeliling leher kita mempunyai arti yang amat penting. Mereka mengingatkan kita bahwa Yesus telah membayar lunas harga kita.
Sebuah salib yang telah menyucikan dunia dengan segala isinya. Dulu salib merupakan lambang kehinaan yang paling mengerikan. Para penjahat yang dihukum mati dengan pedang diselamatkan dari “kehinaan” salib. Yesus memilih untuk melakukan pengorbanan yang paling besar untuk memperoleh keselamatan bagi kita. Ia memilih penderitaan salib. Bersama dengan penderitaan-Nya itu, Ia juga dihinakan.

Konstantin mengeluarkan perintah untuk mengakui Kekristenan dan umat yang ditindas berabad-abad lamanya dihentikan.  Atas rasa syukur pada Tuhan karena kemenangan itu, Santa Helena kemudian berziarah ke Yerusalem dan dalam perziarahan itu beliau berikhtiar untuk menemukan kembali Salib Kristus sebagai penghormatan dan pengagungannya pada Salib yang telah memenangkan negerinya dengan jaya. Akhirnya dengan susah payah, di dekat Bukit Kalvari ditemukan tiga buah salib didekat waduk kecil berikut berikut titulus (prasasti kayu di mana tertulis “Jesus Nazaranus Rex Iudaeorum”). 


Akhirnya, mereka mempunyai  cara untuk membuktikan salib mana yang diyakini sebagai salib Yesus. Dari ketiga salib yang ditemukan itu, yang manakah yang merupakan Salib Kristus. Konon, ketika ketiga salib dan titulus dipindahkan dari waduk batu, seorang perempuan yang sedang menghadapi ajal karena suatu penyakit yang mematikan, dibawa ke sana. Ia menyentuh ketiga salib satu per satu. Setelah ia menyentuh salib ketiga, sekonyong-konyong ia sembuh, dengan demikian menyatakan salib yang asli. Sumber-sumber lain juga menyebutkan mengenai penemuan alat-alat siksa Sengsara Yesus sesudahnya. Dan yang paling penting, adalah catatan Santo Ambrosius bahwa ketika Helena menemukan salib yang asli, “Helena tidak menyembah kayu, melainkan Raja, yaitu Dia yang tergantung pada kayu salib. Ia berkobar-kobar dalam kerinduan sejati untuk menyentuh jaminan hidup abadi.”
Berita itu langsung tersebar luas. Orang­-orang datang menghormati Salib Suci tersebut.  Penemuan salib suci diyakini pada 14 September 326. 



Apa gunanya kita mengetahui kisah ini? Pertama, kita dapat mengetahui lokasi otentik bukit Golgota dan kubur Yesus, sebab dewasa ini di Yerusalem ada lokasi lain yang diprediksikan oleh sejumlah orang di abad ke-19, sebagai lokasi Golgota dan kubur Yesus. Namun biar bagaimanapun, prediksi baru tersebut tetaplah tidak cukup didukung oleh fakta historis. Kedua, ditemukannya lokasi penyaliban Kristus dan kayu salib-Nya membuat kita semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh pernah mengambil rupa manusia dan telah disalibkan untuk kita. Ketiga, perayaan Salib Suci mengingatkan kita akan begitu besarnya makna Salib itu bagi kita umat-Nya. Salib itu disebut suci, karena Kristus Tuhan kita, pernah tergantung di sana saat menyerahkan nyawa-Nya demi menebus dosa-dosa kita. Sebab jika tidak demikian, maka salib tidak memiliki arti apapun bagi kita selain daripada dua palang kayu yang disatukan yang menjadi tempat penghukuman bagi para narapidana di zaman penjajahan Romawi di abad-abad pertama. Namun justru karena Kristus pernah disalibkan untuk kita, maka salib tidak lagi menjadi tanda keaiban, tapi sebaliknya menjadi tanda keajaiban kasih Allah yang menyelamatkan. Karena itu, salib bukanlah tanda kelemahan Allah, namun sebaliknya, kekuatan-Nya. Sebab hanya kekuatan Allah-lah yang menjadikan Kristus tetap mengasihi dan mengampuni orang- orang yang menyalibkan-Nya. Dan hanya dengan kekuatan Allah-lah, Kristus dapat merendahkan diri dan mengosongkan diri-Nya sedemikian rupa demi menyelamatkan kita. Kini dengan memandang kepada salib Kristus itulah kita pun dikuatkan untuk terus mengasihi dan mengampuni sesama; dan juga untuk bertumbuh dalam kerendahan hati, sebab itulah jalan yang dipilih Allah untuk menghantar kita kepada keselamatan kekal. Betapa dalamnya makna Salib itu, sehingga layaklah Tanda Salib itu melekat di batin kita, dan tidak semata kita buat di awal dan akhir doa secara tergesa-gesa.


Karena kegembiraannya menemukan Salib Kristus, Helena meminta puteranya mendirikan sebuah gereja di atas bukit Golgota untuk menyimpan Salib Suci yaitu Gereja Makam Suci. Ia memotong sebagian salib untuk dikirim ke Roma dan Konstantinopel.
 Bersama Gereja Makam Suci adalah Kapel Penemuan Salib Suci, yang menandai lokasi waduk batu.
Ia membangun pula dua buah gereja lain, yaitu Gereja Kelahiran Kristus (Church of The Nativity) di Betlehem untuk menandai Kelahiran Kristus dan Gereja Bukit Zaitun (Eleona Church on the Mount of Olives) untuk menandai tempat Kenaikan Kristus ke Surga.
Di Konstantinopel ia mendirikan Gereja Para Rasul Suci (Church of the Holy Apostles). Di Roma sendiri terdapat Basilika Santa Croce in Gerusalemme yang berasal dari kapel dalam istana tempat tinggal Helena. Basilika ini menyimpan relik-relik yang dibawa dari Yerusalem, yaitu potongan Salib Suci, paku untuk menyalibkan tubuh Yesus, duri dari mahkota duri Yesus, dan sepertiga bagian dari titulus yang bertuliskan kata ’Nazarene’. Pada awalnya, Gereja ini berlantaikan tanah yang dibawa dari Yerusalem, sehingga menggunakan kata ’di Yerusalem’ pada namanya.

Sejak saat itu perayaan Salib Suci menjadi perayaan rutin Gereja Timur dan kemudian dirayakan di Gereja Barat pada abad ke 7. Sejarah mencatat bahwa setelah penemuan Salib Asli Kristus, sebuah basilika didirikan oleh Santa Helena di atas Makam Kudus Kristus.
Basilika itu lalu diberkati dalam suatu perayaan yang sangat meriah dan khidmat selama dua hari berturut-turut, pada tanggal 13 dan 14 September tahun 335. Pemberkatan dirayakan oleh para uskup yang baru selesai mengikuti Konsili Tirus, ditambah dengan sejumlah besar uskup yang lain.

Tradisi berlanjut dan setiap tahun dirayakanlah Pesta Salib Suci di Yerusalem.
 Kekhidmatan perayaan ini menarik sejumlah besar biarawan dari Mesopotamia, Syria, Mesir dan dari provinsi-provinsi Romawi lainnya untuk datang ke Yerusalem. Setiap tahunnya, tidak kurang dari 40 uskup menempuh perjalanan jauh dari keuskupan mereka untuk menghadiri perayaan ini. Di Yerusalem pesta ini berlangsung selama 8 hari berturut-turut dan, pada masa itu, pesta ini menjadi suatu perayaan yang hampir sama pentingnya dengan Paskah dan Epifani. Pesta ini kemudian menyebar ke luar Yerusalem, mulai dari Konstantinopel (sekarang Istanbul) sampai ke Roma pada akhir abad ketujuh, dan akhirnya masuk ke dalam kalender liturgi Gereja Katolik sebagai suatu pesta wajib.
Tetapi perayaan di Yerusalem sendiri tidak berjalan baik. Sebagai tempat yang disucikan bagi tiga agama samawi, Yerusalem selalu menjadi tempat perebutan kekuasaan dan peperangan sejak dulu, bahkan hingga kini. Tentara Persia merebut Damaskus pada tahun 613 dan kemudian menguasai Yerusalem pada tahun 614. Gereja Makam Suci dirusak, dan potongan Salib Suci yang berada dalam Gereja dibawa pergi oleh pasukan Persia dibawah Raja Khusrau II. Kaisar Byzantine yaitu Heraclius mendapatkannya kembali setelah mengalahkan Khusrau pada tahun 628. Salib Suci dikembalikan ke Gereja Makam Suci setahun kemudian setelah Heraclius sempat membawanya ke Konstantinopel.

Gereja Makam Suci yang berada di Golgota kemudian terbakar sebagian pada pintu dan atapnya di tahun 966. Pada 18 Oktober 1009 Gereja Makam Suci dihancurkan hingga ke fondasinya, sebuah peristiwa yang kemudian menjadi salah satu pemicu perang yang berlangsung hingga dua abad. Kekaisaran Byzantin awalnya mengupayakan pembangunannya kembali lewat negosiasi. Restorasi Gereja Makam Suci sendiri selesai pada tahun 1048 walaupun tidak berhasil sepenuhnya tampil seperti semula. Di tengah pertikaian antara kelompok-kelompok yang berusaha menduduki Yerusalem, Gereja Makam Suci terus diusahakan untuk diperbaiki walaupun karena perang, usaha restorasi seringkali kemudian rusak lagi. Para Fransiskan melanjutkan usaha restorasi mulai pada tahun 1555 namun sebuah kebakaran di tahun 1808 mengakibatkan struktur rotunda Gereja runtuh. Pembangunan atap dimulai setahun kemudian yaitu tahun 1809-1810. Untungnya kebakaran ini tidak mencapai bagian makam, sehingga bagian terlama yang dapat dilihat sekarang adalah bagian makam yang dilapisi marmer yang berasal dari perbaikan di tahun 1555. Struktur kubah baru dibangun kembali pada tahun 1870. Renovasi besar-besaran baru dimulai pada tahun 1959 dan renovasi kubah dilakukan pada 1994-1997.

Area di dalam Gereja Makam Suci ini dikapling-kapling berdasarkan keputusan di tahun 1767, awalnya dibagi untuk Gereja Katolik, Armenia, Ortodoks Timur dan Ortodoks Yunani sebagai pemegang kapling terbesar. Di tahun 1852 dikeluarkan keputusan bahwa Gereja Ortodoks Koptik, Ortodoks Ethiopia dan Ortodoks Syria mendapatkan kapling yang lebih kecil. Menarik sekali bahwa jalan masuk ke Gereja ini sejak tahun 637 dipegang kepada dua keluarga muslim hingga hari ini. Keluarga Joudeh memegang kuncinya dan keluarga Nusseibeh menjaga pintunya. Dua kali sehari, seorang anggota keluarga Joudeh membawa kunci yang kemudian akan digunakan untuk mengunci atau membuka pintu oleh seorang anggota keluarga Nusseibeh.

Karena sejarah Salib Suci Kristus ini adalah bagian dari sejarah Gereja Purba, tidak heran bahwa Pesta Salib Suci ini bukan saja dirayakan oleh Gereja Katolik Latin di Roma, tetapi juga bersama-sama dengan Gereja Ortodoks Timur, Katolik Timur, Armenia, Ethiopia, Syria-Malankara, hingga pada sebagian Anglikan dan Lutheran. Bahkan di Gereja Ortodoks Timur, Pesta ini dirayakan hingga lebih dari seminggu, dengan tanggal 14 September sebagai hari puasa. Tanggal 13 September adalah permulaan dari pestanya di mana Salib ditahtakan di altar dan umat melakukan tuguran semalam suntuk hingga tanggal 14 September. Puncak perayaannya adalah tanggal 14 September dimana uskup atau imam membawa salib ke tengah-tengah umat yang berkumpul dan umat bersujud bersyukur dan pada akhir perayaan menerima berkat dalam salib. Salib kemudian ditahtakan dalam gereja hingga 8 hari kemudian.

Di awal tadi kita mengetahui bahwa Pesta Salib Suci ini bermula di Yerusalem, kemudian menyebar dan dirayakan umat Kristiani, mula-mula di Timur, yakni di Byzantium/Konstantinopel baru kemudian semakin dirayakan oleh jemaat di Roma dan akhirnya seluruh dunia. Awalnya juga hanya merayakan penemuan Salib Kristus oleh Santa Helena pada tahun 326, tetapi dewasa ini juga merayakan dua peristiwa yang berkaitan, yaitu pemberkatan Gereja Makam Kudus (Basilica of the Holy Sepulchre) tahun 335 dan peristiwa tahun 629 yaitu Kaisar Heraclius membawa kembali potongan Salib Kristus yang dibawa pergi dari Yerusalem oleh tentara Persia.

“Kami menyembah Engkau, ya Kristus, dan memuji-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia.”

Dunia kuno sungguh merasa ngeri menyaksikan kematian lewat penyaliban – sebuah praktek pemberian hukuman mati yang mengerikan dan memalukan. Akan tetapi, orang-orang Kristiani menghormati salib, baik sebagai tanda penderitaan Yesus maupun piala kemenangan-Nya atas Iblis, dosa dan maut. Kita menghormati salib Kristus karena melalui salib-Nya kita sampai pada pengenalan dan pengalaman akan kasih Yesus kepada kita yang begitu besar dan agung, dan melalui bilur-bilur-Nya kita telah diselamatkan dan disembuhkan (Yes 53:5; bdk. 1Ptr 2:24).
Ketika kita bersedia memikul salib kita, mahkota kemuliaan menanti kita. Tak mungkin ada kemenangan tanpa salib. Itulah janji yang diberikan Yesus kepada kita, “Supaya setiap orang yang percaya kepada­Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:15).
Sebab salib adalah tanda kasih Allah yang paling nyata dan mendalam terhadap dunia. (bdk. ay.16).
Di atas kayu salib, Yesus menghancurkan penderitaan dengan penderitaan­Nya, mengalahkan kematian dengan kematian­Nya. Berkat salib, Yesus menyelamatkan seluruh umat manusia.


Kamis, 03 September 2015

Pope Saint Gregory The Great

Santo Paus Gregorius Agung

(Paus ke-64, Salah seorang Paus terbesar dalam sejarah Gereja).


“Aku mengerti dari pengalaman bahwa sebagian besar waktu ketika aku bersama dengan saudara-saudaraku, aku belajar banyak hal tentang Sabda Tuhan yang tidak dapat aku pelajari seorang diri; jadi kalianlah yang memberitahukan kepadaku apa yang harus aku ajarkan.” ~ St. Gregorius Agung

St.Gregorius dilahirkan pada tahun 540 di Roma dalam keluarga bangsawan Kristiani yang saleh. Ayahnya Gordianus, adalah seorang anggota Majelis Tinggi Roma yang tergolong kaya raya; memiliki banyak tanah di Sicilia, dan sebuah rumah indah di lembah bukit Ceolian, Roma dan ibunya adalah St.Silvia dari Roma. Dua orang saudari ibunya juga adalah orang Kudus, yaitu St.Emiliana dan St.Tarsilla. Leluhurnya adalah Paus St.Felix III

Sebagai seorang anak keluarga bangsawan; Gregorius mendapatkan pendidikan dari guru-guru terbaik di kota Roma. Ia adalah seorang pelajar yang sangat cerdas dan berprestasi. Ia pandai sekali dalam pelajaran tata bahasa, retorik dan dialetika. Gregorius belajar filsafat , ketika ia usia 33 tahun,  ia telah diangkat menjadi Prefektur (Walikota) kota Roma.  Sepertinya ia akan mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang politisi Romawi yang handal. Namun Tuhan rupanya memiliki rencana lain untuk Gregorius.

Ketika ayahnya meninggal, Gregorius menjadi sangat sedih. Melihat Jasad ayah yang dicintainya terbujur kaku menyadarkan Gregorius akan kefanaan duniawi. Gregorius lalu memutuskan untuk menjalani hidup religius. Ia mengundurkan diri jabatan politiknya, lalu merombak rumahnya yang besar menjadi sebuah biara Benediktin. Ia juga menjual sebagian besar kekayaannya dan uang yang diperolehnya dimanfaatkan untuk mendirikan biara – biara. Ada enam biara yang didirikan di Sicilia dan satu di Roma.  Selama beberapa tahun ia hidup sebagai seorang biarawan Benediktin yang saleh dan kudus. Pada tahun 586 ia dipilih menjadi Abbas di biara Santo Andreas di Roma. Di sana ia berjuang membebaskan para budak belian yang dijual di pasar – pasar kota Roma. Kekudusannya membuat Bapa Paus Pelagius kemudian mengangkatnya menjadi salah seorang dari tujuh diakon untuk kota Roma.

Ketika Paus wafat, diakon Gregorius dipilih untuk menggantikannya. Gregorius sama sekali tidak menginginkan kehormatan seperti itu. Ia lebih senang hidup dalam keheningan dibiaranya. Ia berusaha menolak; namun semua orang hanya menginginkan Gregorius untuk menjadi paus. Semua orang tahu bahwa ia akan menjadi seorang paus yang baik dan mereka menaruh harapan padanya. Gregorius lalu berusaha menghindar dengan menyamar dan menyembunyikan diri dalam sebuah gua, tetapi akhirnya umat dapat menemukannya. Mereka membawanya kembali ke Roma. Gregorius tidak bisa menolak lagi. Ia pasrah saja saat dilantik menjadi paus.

Dan pilihan umat di Roma memang tidak salah. Selama empatbelas tahun kemudian, Gregorius mampu memimpin Gereja dengan gemilang. Walau kesehatannya tidak selalu prima; namun Gregorius merupakan salah seorang paus terbesar dalam sejarah Gereja. Ia menulis banyak buku dan juga merupakan seorang pengkhotbah yang ulung. Ia mengumpulkan dan membukukan melodi biasa dalam nyanyian Liturgi hingga sampai saat ini nyanyian tersebut masih tetap diasosiasikan dengan dirinya (Lagu-lagu Gregorian). Gregorius adalah Paus pertama yang secara resmi mengumumkan dirinya sebagai Kepala Gereja Katolik sedunia.

Ia mencurahkan perhatiannya kepada segenap umat manusia. Malah sesungguhnya, ia menganggap dirinya sebagai pelayan bagi semua orang. Ia adalah paus pertama yang menggelari dirinya sebagai “hamba dari para hamba Allah” (Servus Servorum Dei). Julukan ini tetap dipakai sampai sekarang untuk jabatan Paus di Roma.  Bagi Gregorius ini bukan hanya sekedar gelar; karena ia sangat menjiwai dan menjalaninya dalam setiap pelayanannya. Gelar ini masih terus dipakai oleh para paus sampai hari ini.

St.Gregorius memberikan perhatian serta cinta kasih istimewa kepada orang-orang miskin serta orang-orang asing. Setiap hari ia biasa menjamu mereka dengan makanan yang enak. Ia juga amat peka terhadap penderitaan orang banyak yang disebabkan oleh ketidakadilan. Suatu ketika, semasa ia masih seorang biarawan, ia melihat banyak anak-anak diperjual belikan sebagai budak. Ia bertanya dari mana anak-anak itu berasal dan diberitahu bahwa mereka berasal dari Inggris. St. Gregorius merasakan suatu keinginan yang kuat untuk pergi ke Inggris untuk mewartakan kasih Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan itu. Setelah ia menjadi paus, salah satu hal pertama yang dilakukannya adalah mengirimkan biarawan-biarawan terbaiknya (St.Agustinus dari Centerbury bersama 40 rekan biarawan) untuk memperkenalkan Kristus kepada rakyat Inggris. Paus Gregorius juga mengirimkan para biarawan untuk menyebarkan iman Kristiani ke Perancis, Spanyol dan Afrika.

Tahun-tahun terakhir hidupnya dipenuhi oleh banyak penderitaan, namun demikian ia tetap bekerja untuk Gerejanya yang tercinta hingga akhir hayatnya. St. Gregorius wafat pada tanggal 12 Maret 604.
Pestanya dirayakan setiap 3 September......Santo Paus Gregorius Agung doakanlah kami.


Referensi :Yesaya - Saints.SQPN.com - Wikipedia - Catholic.org -newadvent.org, FB: Michael Christiano Hady