Kamis, 15 September 2016

Santa Perawan Maria Berdukacita

oleh: P. William P. Saunder
Pada bulan September kita memperingati Santa
Perawan Maria Berdukacita. Dapatkah dijelaskan makna dan asal-mula peringatan ini?
~ seorang pembaca di Fairfax

Gelar “Bunda Dukacita” diberikan kepada Bunda Maria dengan menitikberatkan pada sengsara dan dukacitanya yang luar biasa selama sengsara dan wafat Kristus. Menurut tradisi, sengsara Bunda Maria ini tidak terbatas hanya pada peristiwa-peristiwa sengsara dan wafat Kristus; melainkan meliputi “tujuh dukacita” Maria, seperti yang dinubuatkan Nabi Simeon yang memaklumkannya kepada Maria,“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan  - dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Lukas 2:34-35). Tujuh Dukacita Bunda Maria meliputi Nubuat Simeon, Pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir; Kanak-kanak Yesus Hilang dan Diketemukan di Bait Allah; Bunda Maria Berjumpa dengan Yesus dalam Perjalanan-Nya ke Kalvari; Bunda Maria berdiri di kaki Salib ketika Yesus Disalibkan; Bunda Maria Memangku Jenasah Yesus setelah Ia Diturunkan dari Salib; dan kemudian Yesus Dimakamkan. Secara keseluruhan, nubuat Simeon bahwa sebilah pedang akan menembus hati Bunda Maria digenapi dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, Bunda Maria terkadang dilukiskan dengan hatinya terbuka dengan tujuh pedang menembusinya. Dan yang terpenting ialah bahwa setiap dukacita diterima Bunda Maria dengan gagah berani, dengan penuh kasih, dan dengan penuh kepercayaan, seperti digemakan dalam Fiat-nya, “jadilah padaku menurut perkataan Tuhan,” yang diucapkannya pertama kali dalam peristiwa Kabar Sukacita.

Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita mulai populer pada abad keduabelas, meskipun dalam berbagai gelar yang berbeda. Beberapa tulisan didapati berasal dari abad kesebelas, teristimewa di kalangan para biarawan Benediktin. Pada abad keempatbelas dan kelimabelas, peringatan dan devosi ini telah tersebar luas di kalangan Gereja.

Yang menarik, pada tahun 1482, peringatan ini secara resmi dimasukkan dalam Misale Romawi dengan gelar “Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan,” (Our Lady of Compassion) dengan menekankan besarnya cinta kasih Bunda Maria yang diperlihatkannya dalam sengsara bersama Putranya. Kata `compassion' berasal dari kata Latin `cum' dan `patior' yang artinya “menderita bersama”. Dukacita Bunda Maria melampaui dukacita siapa pun oleh sebab ia adalah Bunda Yesus, yang bukan hanya Putranya, melainkan juga Tuhan dan Juruselamatnya; Bunda Maria sungguh menderita bersama Putranya. Pada tahun 1727, Paus Benediktus XIII memasukkan Peringatan Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan dalam Penanggalan Romawi, yang jatuh pada hari Jumat sebelum Hari Minggu Palma. Peringatan ini kemudian ditiadakan dengan revisi penanggalan yang diterbitkan dalam Misale Romawi tahun 1969.

Pada tahun 1668, peringatan guna menghormati Tujuh Dukacita Maria ditetapkan pada hari Minggu setelah tanggal 14 September, yaitu Pesta Salib Suci. Peringatan ini kemudian disisipkan dalam penanggalan Romawi pada tahun 1814, dan Paus Pius X menetapkan tanggal yang permanen, yaitu tanggal 15 September sebagai Peringatan Tujuh Duka Santa Perawan Maria (yang sekarang disederhanakan menjadi Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita). Penekanan utamanya di sini adalah Bunda Maria yang berdiri dengan setia di kaki salib di mana Putranya meregang nyawa; seperti dicatat dalam Injil St. Yohanes, “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: `Ibu, inilah, anakmu!' Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: `Inilah ibumu!'” (Yohanes 19:26-27). Konsili Vatikan Kedua dalam Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja menulis, “…ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.” (#58).

St. Bernardus (wafat tahun 1153) menulis, “Sungguh, ya Bunda Maria, sebilah pedang telah menembus hatimu…. Ia wafat secara jasmani oleh karena kasih yang jauh lebih besar daripada yang dapat dipahami manusia. Bunda-Nya wafat secara rohani oleh karena kasih seperti yang tak dapat dibandingkan selain dengan kasih-Nya.” (De duodecim praerogatativs BVM).

Dengan menekankan belas kasihan Bunda Maria, Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II, mengingatkan umat beriman, “Bunda Maria yang Tersuci senantiasa menjadi penghibur yang penuh kasih bagi mereka yang mengalami berbagai penderitaan, baik fisik maupun moral, yang menyengsarakan serta menyiksa umat manusia. Ia memahami segala sengsara dan derita kita, sebab ia sendiri juga menderita, dari Betlehem hingga Kalvari. 'Dan jiwa mereka pula akan ditembusi sebilah pedang.' Bunda Maria adalah Bunda Rohani kita, dan seorang ibunda senantiasa memahami anak-anaknya serta menghibur dalam penderitaan mereka. Dengan demikian, Bunda Maria mengemban suatu misi istimewa untuk mencintai kita, misi yang diterimanya dari Yesus yang tergantung di Salib, untuk mencintai kita selalu dan senantiasa, dan untuk menyelamatkan kita! Lebih dari segalanya, Bunda Maria menghibur kita dengan menunjuk pada Dia Yang Tersalib dan Firdaus!” (1980).

Oleh sebab itu, sementara kita menghormati Bunda Maria, Bunda Dukacita, kita juga menghormatinya sebagai murid yang setia dan teladan kaum beriman. Marilah kita berdoa seperti yang didaraskan dalam doa pembukaan Misa merayakan peringatan ini: “Bapa, sementara PutraMu ditinggikan di atas salib, Bunda-Nya Maria berdiri di bawah kaki salib-Nya, menanggung sengsara bersama-Nya. Semoga Gereja-Mu dipersatukan dengan Kristus dalam Sengsara dan Wafat-Nya, sehingga beroleh bagian dalam kebangkitan-Nya menuju hidup baru.” Dengan meneladani Bunda Maria, semoga kita pun dapat mempersatukan segala penderitaan kita dengan sengsara Kristus, serta menghadapinya dengan gagah berani, penuh kasih dan kepercayaan.   





sumber : “Straight Answers: Mother of Sorrows”
diterjemahkan oleh YESAYA: /yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.

Senin, 12 September 2016

St. Yohanes Krisostomus

13 September


St. Yohanes Krisostomus dilahirkan di Antiokhia sekitar tahun 344. Ayahnya meninggal ketika ia masih bayi. Ibunya memilih untuk tidak menikah lagi. Ia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk membesarkan putra dan putrinya. Ibunya banyak berkorban agar Yohanes kelak dapat menjadi salah seorang guru yang terbaik. Yohanes seorang anak yang amat cerdas dan kelak pasti dapat menjadi seorang yang hebat. Jika Yohanes bercerita, semua orang senang mendengarkannya. Sesungguhnya, namanya, Krisostomus berarti “Bermulut emas.”  Namun demikian, Yohanes ingin memberikan dirinya seutuhnya kepada Tuhan. Ia menjadi seorang imam dan di kemudian hari diangkat menjadi uskup kota besar Konstantinopel.

St. Yohanes adalah seorang uskup yang mengagumkan. Meskipun ia selalu sakit, ia melakukan begitu banyak karya yang mengagumkan. Ia berkhotbah satu atau dua kali sehari, memberi makan fakir miskin serta memberikan perhatian kepada yatim piatu. Ia memperbaiki kebiasaan umat berbuat dosa serta menghentikan pertunjukan-pertunjukkan yang tidak layak dipertontonkan. Ia mengasihi semua orang, namun demikian ia tidak takut untuk menegur mereka, bahkan ratu sekalipun, apabila mereka berbuat salah.

Karena memerangi dosa, St. Yohanes mempunyai banyak musuh - bahkan ratu sendiri. Ratu mengusirnya dari Konstantinopel. Dalam perjalanan, St Yohanes menderita demam yang hebat, kekurangan makan serta kurang istirahat. Meskipun begitu, ia berbahagia dapat menderita bagi Yesus. Sesaat sebelum kematiannya, ia berseru, “Kemuliaan kepada Allah!”

St. Yohanes wafat di Turki pada tanggal 14 September 407. Hujan es dan angin ribut yang dahsyat menyerang Konstantinopel pada saat ia meninggal. Empat hari kemudian, ratu yang jahat itu pun meninggal juga. Puteranya menghormati jenasah St. Yohanes dan menunjukkan betapa ia menyesal atas apa yang telah diperbuat ibunya.

“Jika Kristus besertaku, kepada siapakah aku harus takut?” ~ St. Yohanes Krisostomus

Sumber : yesaya.indocell.net

Minggu, 21 Agustus 2016

Pisah Sambut Romo Ponco Dan Romo Irwan

Tanggal 20 Agustus 2016 merupakan hari yang sangat berkesan bagi Paroki St. Petrus Kanisius , baik bagi Romo maupun umat. Karena pada tanggal 20 Agustus 2016 Paroki St. Petrus Kanisius Wonosari mengadakan Misa Pisah Sambut berkaitan dengan pindah tugas penggembalaan Romo Simon Petrus Bambang Ponco Santoso, SJ  ke Paroki Santo Yohanes Penginjil Blok B Jakarta dan penugasan Romo Mikael Irwan Susiananta, SJ di Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari.

Misa di pimpin oleh Romo  Florentinus Harta Subono PR (Vikep DIY) bersama dengan Romo Ponco, Romo Irwan dan Romo Sapto.

Romo Mikael Irwan Susiananta, seorang imam Yesuit yang ”berkarir” di Paroki Yohanes Penginjil Blok B  Kebayoran Baru Jakarta Selatan selama lebih dari 5 tahun. Beliau juga pernah menjadi pastor kepala di Paroki St. Robertus Bellarminus Cililitan sebelum pindah ke Paroki blok B dan sekarang pindah ke Paroki Wonosari. Ini berarti Romo Ponco dan Romo Irwan bertukar tempat tugas.

Romo Irwan berasal dari Paroki Antonius Purbayan Surakarta. Romo Irwan lahir pada 25 Agustus 1969. Romo Irwan juga pernah tugas di Paroki Bongsari dan Gedangan Semarang.

Romo Ponco
Dan kami hanya bisa berdoa untuk Romo Ponco semoga selalu menjadi gembala yang baik bagi umat dan di tempat yang baru nanti karya pelayanan menghasilkan buah yang semakin melimpah.

Telah banyak karya yang dilakukan oleh Romo Ponco, salah satu yang berkesan adalah penataan Goa Maria Tritis yang semakin rapi dan indah. Dan juga pembuatan taman dan patung St.Petrus Kanisius di depan Gereja yang semakin memperindah Gereja Paroki Wonosari.
Selain itu yang pasti akan dikenang oleh umat di Wonosari adalah gaya Romo Ponco dalam memberi homili di sebagian besar Misa yg padat, ringkas  dan cepat selain juga selalu on-time di setiap Misa .

Dan kalau boleh kami minta Romo Ponco janganlah lupakan kami umat di Wonosari, doakanlah kami selalu khususnya umat di lingkungan Perak ini agar bisa menjadi umat yang selalu rukun dan semakin berkembang.

Akhir kata, selamat bertugas ditempat baru untuk Romo Ponco dan selamat datang Romo Irwan di Paroki Wonosari.

ADA YANG PERGI DAN ADA YANG DATANG

(SIAP DIUTUS KEMANAPUN UNTUK MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH)

Foto-foto dari berbagai sumber

Jumat, 29 Juli 2016

Pesta Imamat ke 25 Rm Ponco

Selamat merayakan Pesta Imamat yang ke 25 untuk Romo SP Bambang Ponco Santoso SJ. Semoga selalu dikuatkan dan semakin teguh dalam menjalani hidup panggilan sebagai gembala. Berkah Dalem Gusti🙏

Perayaan setelah Misa syukur


Note:
Mewakili lingkungan Perak, kami memohon maaf atas hidangan nasi kuning yg tersedia pada perayaan pesta imamat ke 25 rm Ponco, yg ternyata telah basi. Keluhan telah kami teruskan ke pihak catering. 




Misa dalam rangka bersih desa Wonosari

Sebagai bagian dari masyarakat desa Wonosari dan ikut medukung pelaksanaan Rasulan desa Wonosari, kami umat dari lingkungan Paulus Perak, lingkungan Petrus Kidul Pasar dan lingkungan Aloysius Jeruksari mengadakan Misa.

Misa dipimpin oleh Rm Rosarius Sapto Nugroho PR pada hari kamis tanggal 28 Juli 2016.
Dalam homilinya Rm Sapto menyampaikan bahwa sebagai warga desa harusnya kita adalah satu keluarga besar saling tolong menolong dan berbagi antar anggota keluarga dan menghindari sifat egoisme.



Senin, 25 Juli 2016

Santo Yakobus (Yakobus Tua)

RIWAYAT PARA ORANG KUDUS SANTO SANTA. 
Santo~Santa 25 Juli.


Murid Yesus ini disebut "Yakobus Tua" untuk membedakannya seorang murid Yesus yang lain, yang juga bernama Yakobus (yang adalah saudara Yesus dan penulis Surat Yakobus dalam Perjanjian Baru). Yakobus adalah seorang nelayan, sama seperti ayahnya - Zebedeus - dan saudaranya, Yohanes.

Yakobus sedang duduk dalam perahu ayahnya memperbaiki jala ketika Yesus lewat. Yesus memanggil mereka masing-masing, Yakobus dan Yohanes, untuk menjadi penjala manusia, untuk mengikuti-Nya mewartakan Kabar Gembira. Zebedeus menyaksikan kedua puteranya meninggalkan perahu mereka dan mengikuti Yesus.

Bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus termasuk 3 murid utama Yesus. mereka bertiga, beroleh kesempatan menyaksikan apa-apa yang tidak dapat disaksikan para rasul yang lain. Mereka menyaksikan Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus, mereka mendaki gunung dan menyaksikan Yesus bercahaya seperti matahari dengan jubah-Nya berkilau-kilauan. Peristiwa ini disebut Transfigurasi atau Yesus Dipermuliakan.

Pada hari Kamis Putih, yaitu malam sebelum Yesus wafat, Yesus membawa para rasul ke taman Getsemani. Dalam Injil Matius dikisahkan bagaimana Yesus meminta 3 murid utamanya ini untuk menyertai-Nya ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Mereka menyaksikan bagaimana Wajah Tuhan menjadi pucat karena duka yang amat dalam. Kemudian titik-titik darah mulai menetes dari kening-Nya. Sungguh, saat-saat yang amat memilukan, tetapi para rasul itu sudah terlalu lelah. Mereka tertidur!

St.Yakobus lari ketakutan ketika para musuh menangkap Yesus serta membawa-Nya pergi. Dan Yakobus masih "bersembunyi" dan tidak ada di bawah kaki salib pada hari Jumat Agung. Meskipun demikian, Tuhan menemuinya lagi pada sore hari Minggu Paskah di kamar atas. Yesus yang bangkit masuk melalui pintu yang terkunci dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Yakobus dan para rasul yang lain mendapatkan damai yang dijanjikan-Nya itu setelah kedatangan Roh Kudus pada Hari Pentakosta.

St. Yakobus memulai kerasulannya sebagai seorang yang suka menurutkan kata hatinya serta berbicara apa adanya. Tanpa sungkan ia meminta Yesus tempat duduk kehormatan dalam kerajaan-Nya. Ia juga pernah meminta Yesus menurunkan api atas desa-desa yang tidak mau menerima Tuhan. Tetapi imannya kepada Yesus sungguh besar.

Walaupun tidak tertulis dalam Kisah Para Rasul dan tidak tertulis dalam tulisan gereja kuno, banyak yang mempercayai Yakobus berangkat menuju Spanyol dan menyebarkan ajaran Yesus di sana. Ia mengadakan perjalanan menuju Galicia, Spanyol; Guimarães, Portugal; dan Rates (kini Póvoa de Varzim), Portugal. Di Rates, ia mentahbiskan Santo Petrus dari Rates sebagai uskup pertama di Semenanjung Iberian.

Berdasarkan Legenda masyarakat kuno di sana, pada tanggal 2  Januari 40, Santa Maria menampakkan diri kepada Yakobus di tepi sungai Ebro di Caesaraugusta, ketika ia sedang menyebarkan ajaran di Spanyol. Maria secara tiba-tiba muncul di pilar, dan tempat tersebut kini menjadi Basilika Bunda Pilar Kami (Basilica of Our Lady of the Pillar) di Zaragoza.  Kemudian, Yakobus kembali ke Yudea, dan di sana ia dieksekusi mati pada tahun 44. Kitab suci menulis :

... pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang... (Kis 12:1-2)

Setelah kematiannya, dalam kisah rakyat Spanyol, sosoknya muncul memimpin pasukan Kristen pada Pertempuran Clavijo selama Reconquista. Di Spanyol St.Yakobus dijuluki  “matamoros”  (Pembasmi Bangsa Moor). Santiago Matamoros!! (“Santo Yakobus Pembasmi bangsa Moor”);  Santiago y cierra España ("Santo Yakobus akan bertarung untuk Spanyol")  menjadi yel-yel pekikan perang tentara Spanyol selama berabad-abad.


                       St Yakobus doakanlah kami

Setiap Martir adalah Persembahan Bagi Gereja

Referensi :Yesaya - Wikipedia - Saints.SQPN.com
(†)  © mch
Fb: Michael Christiano Hady

Minggu, 24 Juli 2016

Santo Syarbel Makhlouf

RIWAYAT PARA ORANG KUDUS SANTO SANTA. 
Santo~Santa 24 Juli.



Santo Sharbel Makhlouf (Arab: مار شربل) lahir pada tanggal 8 Mei 1828  dengan nama Youssef Antoun Makhlouf di Bekaa Kafra Libanon.  Ia adalah seorang rahib, mistikus dan imam Gereja Katolik Maronit berkebangsaan Libanon yang dikanonisasi sebagai santo oleh Paus Paulus VI.  Gereja Katolik Maronit adalah salah satu dari Gereja-Gereja Katolik Timur yang berada dalam persekutuan penuh dengan Tahta Suci Roma.

Youssef Antoun Makhlouf adalah seorang anak yatim piatu. Ayahnya wafat ketika ia masih berumur tiga tahun dan ia lalu diasuh oleh pamannya.  Di usia 23 tahun, Youssef masuk Biara St. Maron di Annaya, Libanon, dan menggunakan nama biara 'Syarbel' menurut nama seorang martir Gereja Maronit di abad ke-2. Youssef mengucapkan kaul-kekalnya pada tahun 1853 dan ditahbiskan sebagai seorang imam enam tahun kemudian.

Seturut teladan dari St. Maron (bapa Gereja Maronit), romo Syarbel menjalani hidup yang sangat suci.  Ia memilih untuk mengamalkan hidup sebagai pertapa dengan amat keras. Ia bermatiraga, makan sedikit, tidur di lantai yang keras, dan menghabiskan berjam-jam lamanya dalam doa. Sejak tahun 1875 sampai pada akhir hidupnya di tahun 1898, romo Sharbel menjadi seorang yang sepenuhnya mengasihi Yesus.  Kesuciannya membuat orang-orang mendatanginya untuk minta diberkati dan minta didoakan. Selama hidupnya romo Syarbel hampir tidak pernah meninggalkan pertapaannya. Ia hanya sesekali terlihat meninggalkan pertapaannya saat para superiornya meminta ia untuk menerimakan sakramen-sakramen di desa-desa terdekat. Dan bila orang suci ini muncul didesa maka penduduk desa akan berbondong-bondong mengikutinya, memohon doa dan berkahnya.

Pada 16 Desember 1898, romo Syarbel terserang suatu penyakit sewaktu merayakan Misa Kudus. Dia meninggal dunia pada malam Natal tahun 1898, dan dimakamkan di pemakaman biaranya; Biara St. Maron di Annaya. Beberapa bulan kemudian, sinar-sinar cemerlang terlihat memancar di sekitar makamnya. Dari tempat itu, jenazahnya, yang masih terus mengeluarkan keringat dan darah, dipindahkan ke dalam peti jenazah khusus. Rombongan-rombongan besar peziarah mulai berdatangan ke makamnya.

Pada 1925, beatifikasi dan kanonisasinya diajukan untuk diumumkan oleh Paus Pius XI. Pada 1950, makamnya dibuka di hadapan sebuah komisi khusus yang juga beranggotakan para dokter, yang memberi verifikasi akan keutuhan jenazahnya. Sesudah makamnya dibuka dan diperiksa, dilaporkan terjadi berbagai mukjizat yang berlipat ganda. Sekali lagi, khalayak ramai dari berbagai latar belakang agama mulai berbondong-bondong berziarah ke Biara Annaya untuk memohon syafaat tokoh suci itu. Beberapa mukjizat post-mortem dihubung-hubungkan dengannya, termasuk mukjizat-mukjizat yang terjadi pada 1927 dan 1950 ketika "keringat" darah mengucur dari jenazahnya, membasahi vestimentum yang dikenakan padanya. Makamnya telah menjadi sebuah tempat ziarah yang dikunjungi banyak orang, baik warga Libanon maupun non-Libanon, Kristiani maupun non-Kristiani.

Banyak kisah mukjizat yang terjadi dengan perantaraan Santo Syarbel. Salah satu mukjizat yang termasyhur adalah mukjizat yang dialami Nohad El Shami, seorang wanita tua berusia 55 tahun yang disembuhkan dari kelumpuhan sebelah tubuhnya. Pada malam hari tanggal 22 Januari 1993, Nohad El Shami bermimpi melihat dua orang rahib Maronit berdiri di sisi ranjangnya. Salah seorang diantaranya menumpangkan tangannya pada lehernya lalu melakukan suatu operasi yang membebaskannya dari rasa sakit sementara yang seorang lagi memegang bantal di bawah punggungnya.  Ketika terbangun, Nohad mendapati dua luka pada lehernya, satu luka pada masing-masing sisi. Dia sembuh sepenuhnya dan dapat berjalan lagi. Dia meyakini bahwa Santo Syarbellah yang melakukan operasi tersebut namun tidak dapat mengenali rahib yang satunya lagi. Malam berikutnya, dia kembali bermimpi melihat Santo Syarbel yang berkata padanya: "Saya mengoperasimu agar orang-orang melihatnya dan kembali pada iman. Saya memintamu untuk mengunjungi pertapaan pada tanggal 22 setiap bulan, dan menghadiri Misa dengan teratur seumur hidupmu". Rahib yang kedua menurut keyakinan banyak orang adalah Santo Maron. Sejak saat itu, sesuai permintaan Santo Syarbel, orang-orang berhimpun setiap bulan pada tanggal 22 untuk berdoa dan merayakan Misa di pertapaan Santo Syarbel di Annaya.

Pada tanggal  5 Desember 1965,  Paus Paulus VI memimpin upacara beatifikasi sang pertapa suci  pastor Syarbel Makhluof sewaktu penutupan Konsili Vatikan II. Dua belas tahun kemudian, tanggal 9 Oktober 1977  Paus yang sama memaklumkan Beato Syarbel Makhlouf sebagai Santo. Saat itu bapa suci menjelaskan bahwa St.Sharbel dengan cara hidupnya mengajarkan kepada kita jalan sejati kepada Tuhan. Beliau mengatakan bahwa budaya kita saat ini memuliakan kekayaan dan kenikmatan dunia. Tetapi Santo Sharbel adalah sebaliknya. Ia mengajarkan kepada kita melalui teladan hidupnya, nilai – nilai spiritual dalam kemiskinan, matiraga dan doa.

Dari antara sekian banyak mukjizat yang terjadi dengan perantara Santo Syarbel, Gereja memilih dua mukjizat untuk mengumumkan beatifikasinya (Mukjizat juga merupakan syarat dalam proses beatifikasi dan kanonisasi), dan satu lagi mukjizat untuk kanonisasinya. Ketiga mukjizat tersebut adalah :  Kesembuhan Suster Maria Abel Kamari dari Tarekat Dua Hati Kudus, Kesembuhan Iskandar Naim Obeid dari Baabdat, dan Kesembuhan Maryam Awad dari Hammana.

Referensi :Yesaya - Saints.SQPN.com - Wikipedia

(†)  © mch
Fb: Michael Christiano Hady