Jumat, 31 Maret 2017
ASAL USUL DOA SALAM MARIA
Doa ‘Salam Maria’ adalah doa yang dikenal sebagai doa penghormatan Gereja kepada Bunda Maria. Berikut ini adalah sekilas asal usul doa Salam Maria, yang mengambil sumber utama dari link ini, silakan klik: http://www.newadvent.org/cathen/07110b.htm
Umumnya doa ini dijabarkan sebagai doa yang terdiri dari tiga bagian:
1) “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu…..” merupakan kutipan perkataan Malaikat Gabriel ketika mengunjungi Perawan Maria (lih. Luk 1:28).
2) “Terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu (Yesus)”, diambil dari salam Elisabet kepada Perawan Maria ketika Maria datang mengunjunginya (lih. Luk 1:42)
3) “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”, dinyatakan oleh Katekismus Konsili Trente, sebagai doa yang disusun oleh Gereja. Katekismus tersebut menyatakan, “Adalah sangat tepat, bahwa Gereja Tuhan yang kudus menambahkan kepada ucapan syukur ini, permohonan kepada Bunda Allah yang kudus untuk mendoakan kita, dan dengan demikian supaya kita memohon bantuan kepadanya agar oleh doa-doa syafaatnya, ia mengusahakan persahabatan antara Allah dan kita manusia, dan memperoleh bagi kita, berkat yang kita butuhkan untuk hidup sekarang ini dan untuk hidup yang tidak berkesudahan.”
Namun walaupun bagian ketiga ini dikatakan sebagai ‘doa Gereja’ oleh Katekismus Konsili Trente di abad ke-16, permohonan Gereja terhadap bantuan/ perlindungan Bunda Maria, itu bukan baru muncul di abad ke-16. Doa Gereja di abad awal, yang dikenal dengan doa Sub Tuum Praesidium, berbunyi, “Di bawah belas kasihanmu kami berlindung, O Bunda Tuhan. Jangan menolak permohonan kami dalam kesesakan, tetapi bebaskanlah kami dari mara bahaya, [o engkau] yang suci dan terberkati.” (Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir, abad ke- 2 atau 3).
Memang, penyusunan doa Salam Maria ini memiliki kisahnya tersendiri. Kata, “Salam Maria, penuh rahmat” (Ave Maria, gratia plena) itu mengacu kepada Kitab Suci terjemahan Vulgata, yang menerjemahkan secara literal, kata Yunani, chaire kecharitomene, yang sekilas sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Kata, “Salam Maria, penuh rahmat” ini telah dipergunakan oleh para Bapa Gereja sebagai ungkapan penghormatan kepada Bunda Maria. Di abad ke-7, St. Gregorius telah memasukkan ungkapan doa “Salam Maria” ini dalam Liber Antiphonarious, sebagai frasa dalam doa persembahan, dalam teks Misa Minggu keempat Masa Adven. Seabad kemudian, frasa “Salam Maria” ini tercatat sebagai bagian dalam tulisan pengajaran St. Andreas dari Kreta dan St. Yohanes Damaskinus (abad ke 8).
Namun demikian, “Salam Maria” sebagai rumusan doa devosi belum jelas ditemukan sebelum tahun 1050. Dua buah manuskrip tua Anglo-Saxon di British Museum, yang salah satunya berasal dari tahun 1030, menunjukkan bahwa kata, “Salam Maria…. terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu” itu tertulis berulang-ulang dalam sebuah doa penghormatan kepada Bunda Maria.
Tahun 1184, Uskup Agung Canterbury, Abbot Baldwin, menulis:
“Terhadap salam dari Malaikat ini, yang dengannya kita setiap hari menyapa Sang Perawan yang Terberkati dengan devosi sedemikian, kita biasa menambahkan, “dan terpujilah buah tubuhmu,” yang dikatakan oleh Elisabet kemudian, setelah mendengar salam dari Maria, seolah melengkapi perkataan dari malaikat itu, dengan berkata: “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.”
Tahun 1196, dekrit sinoda dari Eudes de Sully, Uskup Paris, mengajarkan kepada para klerus, “Salam kepada Perawan Maria” ini sebagai rumusan doa yang telah dikenal di keuskupannya, sebagaimana doa resmi lainnya, seperti doa Bapa Kami dan Aku Percaya. Sejak saat itu, doa Salam Maria ini diperkenalkan dan dianjurkan kepada umat beriman, dimulai dari Sinoda di Durham di Inggris, tahun 1217.
Doa Salam Maria ini kemudian dikenal sebagai doa-doa yang umum didoakan oleh para orang kudus (Santo dan Santa), seperti St. Aybert, St. Louis dari Perancis, St. Margaret, St. Dominic dan doa di biara-biara, sebagai doa ungkapan pertobatan. Doa ini umum diulangi, sampai puluhan kali, 50 atau bahkan 150 kali, mengikuti pola pengulangan doa “Kudus, kudus, kudus” yang terus diulangi tanpa putusnya di hadapan tahta Allah yang Maha Tinggi.
Di zaman St. Louis, doa “Salam Maria” berakhir dengan “… terpujilah buah tubuhmu”. Penambahan “Yesus” sesudah frasa itu umumnya dikenal dari abad 15, menurut anjuran Paus Urban IV (1261) dan Paus Yohanes XXII (1316-1344). Teks doa Salam Maria seperti yang kita ketahui sekarang, tercatat sebagai bagian depan salah satu karya Girolamo Savonarola, di tahun 1495. Savonarola adalah seorang biarawan, yang dikenal sebagai reformer ordo Dominikan. Dua tahun sebelumnya, frasa “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini. Amin,” tercatat dalam Calendar of Shepherds, edisi bahasa Prancis. Namun penerimaan resmi teks doa Salam Maria selengkapnya, meskipun sudah disebutkan dalam Katekismus Konsili Trente, baru akhirnya dinyatakan dalam Roman Breviary tahun 1568.
Sumber:http://www.katolisitas.org/faqs/asal-usul-doa-salam-maria/
✥ Instaurare Omnia in Christo ✥
Minggu, 19 Maret 2017
Mgr Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang yang Baru
Sugeng makaryo Mgr Rubiπππ
Sabtu, 18 Maret 2017, Bapa Suci Paus Franciscus telah menunjuk Romo Dr. Robertus Rubiyatmoko sebagai Uskup Agung Semarang. Romo Robertus Rubiyatmoko, Vikaris peradilan serta pembina dari Seminari Tinggi Semarang
Keuskupan Agung Semarang telah tanpa kepala karena Uskup Agung Johannes Pujasumarta meninggal pada tanggal 10 November 2015. Pengangkatan kepausan datang menjelang Asian Youth Day yang sedang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Semarang dari 30 Juli - 9 Agustus ini tahun. "Joyful Youth Asia! Hidup Injil dalam Multikultural Asia," adalah tema dari reli pemuda itu mengambil pusat magang di Yogyakarta.
Uskup terpilih dilahirkan di Sleman, pada tanggal 10 Oktober 1963, dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 12 Agustus 1992. Sejak ditahbiskan imam beliau pernah mengemban berbagai tugas, termasuk studi lanjut dalam bidang Hukum Kanonik di Universitas Gregoriana di Roma. Pada saat ini beliau adalah Vikaris.
Di bawah ini adalah perjalanan pelayanan romo Rubiyatmoko:
1992-1993: Asisten Paroki Santa Maria Assumpta Gereja di Pakem
1993-1997: Graduation Hukum Canon dari Pontifical Gregorian University, Roma, Italia.
Sejak tahun 1998: Guru Besar Hukum Canon di Kepausan Fakultas Teologi Wedabhakti di Yogyakarta; Formator di Seminari St. Paulus Yogyakarta
2004-2011: Wakil Presiden Kepausan Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta
Sejak 2011: Vikaris Yudisial Keuskupan Agung Semarang
Maret 2017: Ditahbiskan sebagai Uskup Agung Semarang
Keuskupan Agung Semarang Menyediakan pelayanan pastoral untuk lebih 404.000 umat Katolik dari total populasi 22,8 juta. Ada 98 paroki di mana 399 imam (203 diosesan dan 196 religius) bekerja. Keuskupan Agung Semarang juga memiliki 221 orang religius, 1162 perempuan agama serta 60 frater.
Keuskupan Agung Semarang telah tanpa kepala karena Uskup Agung Johannes Pujasumarta meninggal pada tanggal 10 November 2015. Pengangkatan kepausan datang menjelang Asian Youth Day yang sedang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Semarang dari 30 Juli - 9 Agustus ini tahun. "Joyful Youth Asia! Hidup Injil dalam Multikultural Asia," adalah tema dari reli pemuda itu mengambil pusat magang di Yogyakarta.
Uskup terpilih dilahirkan di Sleman, pada tanggal 10 Oktober 1963, dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 12 Agustus 1992. Sejak ditahbiskan imam beliau pernah mengemban berbagai tugas, termasuk studi lanjut dalam bidang Hukum Kanonik di Universitas Gregoriana di Roma. Pada saat ini beliau adalah Vikaris.
1992-1993: Asisten Paroki Santa Maria Assumpta Gereja di Pakem
1993-1997: Graduation Hukum Canon dari Pontifical Gregorian University, Roma, Italia.
Sejak tahun 1998: Guru Besar Hukum Canon di Kepausan Fakultas Teologi Wedabhakti di Yogyakarta; Formator di Seminari St. Paulus Yogyakarta
2004-2011: Wakil Presiden Kepausan Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta
Sejak 2011: Vikaris Yudisial Keuskupan Agung Semarang
Maret 2017: Ditahbiskan sebagai Uskup Agung Semarang
Keuskupan Agung Semarang Menyediakan pelayanan pastoral untuk lebih 404.000 umat Katolik dari total populasi 22,8 juta. Ada 98 paroki di mana 399 imam (203 diosesan dan 196 religius) bekerja. Keuskupan Agung Semarang juga memiliki 221 orang religius, 1162 perempuan agama serta 60 frater.
- Proficiat Romo, Selamat berjuang membawa umat KAS menuju peradaban kasih, dan semoga selalu dalam bimbingan Tuhan. Berkah Dalem ππ
Artikel dan foto diambil dari berbagai sumber media π
Jumat, 17 Februari 2017
Misa Lingkungan Paulus Perumahan Rakyat
Dihari kasih sayang 14 Februari 2017, sebagian besar warga Katolik di lingkungan Paulus Perak juga berkumpul bersama untuk ikut bersama-sama merayakan Ekaristi Lingkungan. Ekaristi ini istimewa karena jatuh pada hari Kasih Sayang 14 Februari. Dan yang lebih istimewa karena yang berkumpul lebih banyak daripada biasanya. Lebih dari 100 umat berkumpul bersama dari yang sudah sepuh hingga bayi-bayi mungil ikut dalam perayaan ini. Semoga ini semua bisa menjadi pertanda bahwa lingkungan Paulus semakin guyup dan diberkati. Dalam Misa lingkungan ini sekaligus untuk penerimaan Sakramen Minyak Suci bagi bpk dan ibu C Sugito yang menjadi tuan rumah untuk Misa kali ini. Maturnuwun untuk romo Rosarius Sapto Nugroho Pr yang telah memimpin Misa dengan homili yang mencerahkan. Maturnuwun untuk semua warga Paulus Perakπππ
Minggu, 08 Januari 2017
SIAPAKAH PARA MAJUS?
oleh: Romo William P. Saunders
Injil Matius menyebut tentang para majus yang datang dari Timur untuk menyembah bayi Kristus yang baru dilahirkan (bdk. Mat 2:1-12). Tetapi, tepatnya siapakah para majus tersebut tetap merupakan suatu misteri.
Seringkali para majus disebut juga sebagai ahli perbintangan. Dalam bahasa Yunani, bahasa asli Injil, kata “magos” (magoi, jamak) mempunyai empat arti: (1) seorang dari golongan imam Persia kuno, di mana astrologi dan astronomi berperan penting pada masa Kitab Suci; (2) seorang yang memiliki pengetahuan dan kuasa gaib (= okultisme), dan mahir dalam menafsirkan mimpi, perbintangan, ramal, hal-hal klenik, dan perantara roh; (3) seorang ahli nujum; atau (4) seorang dukun, yang memeras orang dengan mempergunakan praktek-praktek di atas. Dari definisi yang mungkin di atas dan dari gambaran dalam Injil, para majus kemungkinan adalah para imam Persia ahli perbintangan yang dapat membaca bintang-bintang, teristimewa makna bintang yang mewartakan kelahiran Mesias. (Bahkan ahli sejarah kuno Herodotus (wafat abad ke-5 SM) menegaskan keahlian kaum imam Persia dalam perbintangan).
Yang terpenting, kunjungan para majus menggenapi nubuat Perjanjian Lama: Bileam menubuatkan kedatangan Mesias yang akan ditandai dengan sebuah bintang: “Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel…” (Bil 24:17). Mazmur 72 berbicara mengenai bagaimana bangsa kafir akan datang untuk menyembah Mesias: “kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan, kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!” (Mzm 72:10-11). Yesaya juga menubuatkan persembahan-persembahan: “Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN” (Yes 60:6).
St. Matius mencatat bahwa para majus membawa tiga persembahan; masing-masing persembahan memiliki makna nubuat: emas, persembahan bagi seorang raja; kemenyan, persembahan bagi seorang imam; dan mur - balsam penguburan, persembahan bagi seorang yang akan meninggal. St. Ireneus (wafat 202) dalam tulisannya Adversus haereses menyampaikan tafsiran atas persembahan emas, kemenyan dan mur sebagai berikut: Raja, Tuhan dan Penebus yang Menderita, juga menafsirkannya sebagai keutamaan, doa dan penderitaan.
Pada umumnya, kita berpikiran bahwa ketiga majus tersebut adalah tiga orang raja. Kita biasa menempatkan patung tiga raja di gua natal kita. Kita bahkan menyanyikan, “Kami tiga raja dari Timur….” Di sini, ketiga persembahan, Mazmur 72 dan bintang yang terbit di Timur secara bersama-sama menggambarkan para majus sebagai tiga raja yang datang dari Timur.
Sebenarnya, tradisi awali tidak konsisten mengenai jumlah para majus. Tradisi Timur menyebutkan ada duabelas orang majus. Di Barat, beberapa Bapa Gereja perdana - termasuk Origen, St. Leo Agung, dan St. Maximus dari Turin - setuju ada tiga orang majus. Lukisan Kristen Perdana di Roma yang diketemukan dalam makam St. Petrus dan St. Marcellinus menggambarkan dua orang majus dan di makam St. Domitilla, empat orang.
Sejak abad ketujuh di Gereja Barat, para majus diidentifikasikan sebagai Kaspar, Melkior dan Baltasar. Dalam suatu karya tulis berjudul Excerpta et Collectanea yang ditulis St. Beda (wafat 735) tercatat demikian, “Para majus adalah mereka yang membawa persembahan bagi Tuhan. Yang pertama dikatakan bernama Melkior, seorang tua berambut putih dan berjenggot panjang… yang mempersembahkan emas kepada Kristus bagai kepada seorang raja. Yang kedua bernama Kaspar, seorang muda tanpa jenggot dan kulitnya kemerah-merahan… menyembah-Nya sebagai Tuhan dengan persembahan kemenyan, suatu persembahan yang layak bagi yang ilahi. Yang ketiga, berkulit hitam dan berjenggot lebat, namanya Baltasar… dengan persembahan murnya memberikan kesaksian pada Putra Manusia bahwa ia akan wafat.” Suatu kutipan dari penanggalan para kudus abad pertengahan yang dicetak di Cologne berbunyi, “Setelah mengalami banyak pencobaan dan kelelahan demi Injil, ketiga orang bijaksana tersebut bertemu di Sewa (Sebaste di Armenia) pada tahun 54 untuk merayakan Natal. Kemudian, setelah Perayaan Misa, mereka wafat: St. Melkior pada tanggal 1 Januari, dalam usia 116 tahun; St. Baltasar pada tanggal 6 Januari, dalam usia 112 tahun; dan St. Kaspar pada tanggal 11 Januari, dalam usia 109 tahun.” Martirologi Romawi juga mencatat tanggal-tanggal di atas sebagai pesta masing-masing majus.
Kaisar Zeno membawa reliqui para majus dari Persia ke Konstantinopel pada tahun 490. Reliqui (entah sama atau serupa) muncul di Milano bertahun-tahun kemudian dan disimpan di Basilika St. Eustorgius. Kaisar Frederick Barbarossa dari Jerman, yang menjarah Italia, membawa reliqui ke Cologne pada tahun 1162, di mana reliqui aman tersimpan hingga saat ini dalam sebuah rumah reliqui yang indah di katedral.
Meskipun sebagian misteri tetap tak terungkap mengenai identitas para majus, Gereja menghormati sembah sujud mereka: Konsili Trente, ketika menekankan penghormatan yang patut diberikan kepada Ekaristi Kudus memaklumkan, “Umat beriman Kristus menghormati Sakramen Mahakudus ini dengan penyembahan latria yang diperuntukkan bagi Allah yang benar…. Sebab dalam sakramen ini kita percaya bahwa Allah yang sama hadir, yang diutus Bapa yang kekal ke dalam dunia dengan mengatakan, `Biarlah segenap malaikat Allah menyembah-Nya.' Dialah Allah yang sama yang para Majus sujud menyembah, dan akhirnya, Allah yang sama yang dipuja para Rasul di Galilea seperti dicatat dalam Kitab Suci” (Dekrit tentang Sakramen Mahakudus, 5).
Dengan merayakan Hari Raya Natal dan Epifani (sekarang Hari Raya Penampakan Tuhan), kita pun patut sadar akan kewajiban kita untuk bersembah sujud kepada Kristus melalui doa, sembah bakti, dan perbuatan-perbuatan baik serta kurban. St. Gregorius Nazianze (wafat 389) menyampaikan khotbahnya, “Marilah kita tinggal dalam sembah sujud; dan kepada Dia, yang, guna menyelamatkan kita, merendahkan Diri hingga ke tingkat kemiskinan yang begitu rupa dengan menerima tubuh kita, marilah kita mempersembahkan tidak hanya kemenyan, emas dan mur…, melainkan juga persembahan-persembahan rohani, yang lebih luhur daripada yang dapat dilihat dengan mata” (Oratio, 19).
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
Sumber: “Straight Answers: Who Were the Magi?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.
Selasa, 20 Desember 2016
Jadwal Misa Natal 2016 Paroki Wonosari
Ayo kita rayakan sukacita Natal bersama umat Santo Petrus Kanisius Wonosari.
Berikut jadwal Misa Perayaan Natal 2016
Berikut jadwal Misa Perayaan Natal 2016
ππππ π π ⛄⛄⛄❄❄❄πππ
Senin, 19 Desember 2016
Pesan Natal Bersama PGI dan KWI 2016
“HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU KRISTUS, TUHAN, DI KOTA DAUD”
(Lukas 2:11)
(Lukas 2:11)
Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia,
Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11).
Belarasa Allah itu mendorong kita untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Dia lakukan. Inilah semangat atau spiritualitas inkarnasi. Keikutsertaan kita pada belarasa Allah itu dapat kita wujudkan melalui upaya untuk menyikapi masalah-masalah kebangsaan yang sudah menahun.
Dalam perjuangan mengatasi masalah-masalah seperti itu, kehadiran Juruselamat di dunia ini memberi kekuatan bagi kita. Penyertaan-Nya menumbuhkan sukacita dan harapan kita dalam mengusahakan hidup bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, kita merayakan Natal sambil berharap dapat menimba inspirasi, kekuatan dan semangat baru bagi pelayanan dan kesaksian hidup, serta memberi dorongan untuk lebih berbakti dan taat kepada Allah dalam setiap pilihan hidup.
Saudari-saudara terkasih,
Kita akan segera meninggalkan tahun 2016 dan masuk tahun 2017. Ada hal-hal penting yang perlu kita renungkan bersama pada peristiwa Natal ini. Sebagai warga negara kita bersyukur bahwa upaya pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia semakin memberi harapan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang merata. Walaupun belum sesuai dengan harapan, kita sudah menyaksikan adanya peningkatan dan perbaikan pelayanan publik, penegakan hukum, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas pendidikan. Kita dapat memandangnya sebagai wujud nyata sukacita iman sebagaimana diwartakan oleh malaikat kepada para gembala, “aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk 2:10).
Memang harus kita akui bahwa masih ada juga segi-segi kehidupan bersama yang harus terus kita perhatikan dan perbaiki. Misalnya, kita kadang masih menghadapi kekerasan bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Masalah korupsi dan pungli juga masih merajalela, bahkan tersebar dari pusat hingga daerah. Kita juga menghadapi kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka kemiskinan per Maret 2016 masih sebesar 28,01 juta jiwa. Keprihatinan lain yang juga memerlukan perhatian dan keterlibatan kita untuk mengatasinya adalah peredaran dan pemakaian narkoba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2015 memperlihatkan bahwa pengguna narkoba terus meningkat jumlahnya. Pada periode Juni hingga November 2015 terjadi penambahan sebesar 1,7 juta jiwa, dari semula 4,2 juta menjadi 5,9 juta jiwa. Semakin banyaknya pengguna narkoba itu tidak lepas dari peran produsen dan pengedar yang juga bertambah.
Kita juga harus bekerja keras untuk mendewasakan dan meningkatkan kualitas demokrasi. Penyelenggaraan Pemilu merupakan salah satu sarananya, seperti Pemilihan Umum Kepala Daerah serentak (Pilkada serentak) yang akan dilaksanakan tanggal 15 Februari 2017 di 101 daerah terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Peristiwa itu akan menjadi ujian bagi partisipasi politik masyarakat dan peningkatan kualitas pelaksana serta proses penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut.
Tantangan-tantangan tersebut, sebagaimana juga masalah lainnya, harus kita hadapi. Jangan sampai persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan itu membuat kita merasa takut. Kepada kita, seperti kepada para gembala, malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus mengatakan “jangan takut” (Luk 2:10).
Saudari-saudara terkasih,
Marilah kita jadikan tantangan-tantangan tersebut kesempatan untuk mengambil prakarsa dan peran secara lebih nyata dalam menyikapi berbagai persoalan hidup bersama ini. Kita ciptakan hidup bersama yang damai dengan terus melakukan dialog. Kita lawan korupsi dan pungli dengan ikut aktif mengawasi pelaksanaan dan pemanfaatan anggaran pembangunan. Kita atasi problem kemiskinan, salah satunya dengan meningkatkan semangat berbagi. Kita lawan narkoba dengan ikut mengupayakan masyarakat yang bebas dari narkoba, khususnya dengan menjaga keluarga kita terhadap bahaya barang terlarang dan mematikan itu.
Kita tingkatkan kualitas demokrasi kita melalui keterlibatan penuh tanggungjawab dengan menggunakan hak pilih dan aktif berperan serta dalam seluruh tahapan dan pelaksanaan Pilkada. Kita juga berharap agar penyelenggara Pilkada dan para calon kepala daerah menjunjung tinggi kejujuran dan bersikap sportif, menaati semua aturan yang sudah ditentukan dan aktif berperan menjaga kedamaian demi terwujudnya Pilkada yang berkualitas. Kita tolak politik uang. Jangan sampai harga diri dan kedaulatan kita sebagai pemilih kita korbankan hanya demi uang.
Kita syukuri kehadiran Yesus Kristus yang mendamaikan kembali kita dengan Allah. Inilah kebesaran kasih karunia Allah, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah (1Yoh 2:1). Di dalam Yesus Kristus kita memperoleh hidup sejati dan memperolehnya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Kita syukuri juga berkat yang telah kita terima sepanjang tahun yang segera berlalu.
Kita sampaikan berkat sukacita kelahiran Yesus Kristus ini kepada sesama kita dan seluruh ciptaan. Kita mewujudkan karya kebaikan Allah itu melalui perhatian dan kepedulian kita terhadap berbagai keprihatinan yang ada dengan aktif mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dan yang ramah lingkungan. Dengan demikian, perayaan kelahiran Yesus Kristus ini dapat menjadi titik tolak dan dasar bagi setiap usaha kita untuk lebih memuliakan Allah dalam langkah dan perbuatan kita.
SELAMAT NATAL 2016 dan TAHUN BARU 2017
Jakarta, 10 November 2016
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJADI INDONESIA,
Ketua Umum Pdt Dr Henriette T.H. Lebang
Ketua Umum Pdt Dr Henriette T.H. Lebang
Sekretaris Umum Pdt Gomar Gultom M.Th
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,
Ketua Presidium Mgr Ignatius Suharyo
Sekretaris Jenderal Mgr Antonius S. Bunjamin OSC
Ketua Presidium Mgr Ignatius Suharyo
Sekretaris Jenderal Mgr Antonius S. Bunjamin OSC
Sabtu, 17 Desember 2016
DEVOSI KANAK-KANAK YESUS DARI PRAHA (didaraskan 17 - 25 Desember)
“ Kristus tidak punya tubuh di bumi selain tubuhmu, tidak punya tangan selain tanganmu, tidak punya kaki selain kakimu.
Matamu adalah mata melalui mana cinta kasih Kristus bagi dunia terpancar. Kakimu adalah kaki dengan mana Ia pergi untuk melalukan perbuatan - perbuatan baik dan tanganmu adalah tangan dengan mana Ia memberkati kita sekarang ”. π·
πΊ St. Teresa dari Avila πΊ
ππΉ ASAL MULA PATUNG
Kisahnya dimulai beratus - ratus tahun lalu ketika orang - orang tak bertuhan memerangi tempat - tempat Kristen di semenanjung Spanyol. Sebuah biara berdiri terpencil di tepi jalan antara Seville dan Cordoba. Sementara para biarawan berdoa dalam lingkungan yang tenang ini, pasukan Moor menyerbu biara dan menghancurkannya.
Sekelompok biarawan yang berhasil melarikan diri kembali bertahun - tahun kemudian dan perlahan - lahan membangun kembali biara. Hari - hari panas berdebu yang panjang berlalu dan ketika Yosef, salah seorang biarawan, sedang bekerja di kebun bunga biara, seorang kanak - kanak yang elok datang menghampirinya. Kanak - kanak itu tersenyum dan mengatakan :
" Aku Yesus ".
Dalam sekejap mata, Kanak - Kanak pun menghilang, namun wajah kecilNya terus terukir dalam ingatan sang biarawan kudus.
Tahun - tahun berlalu, Yosef menjadi tua, tapi mustahil baginya untuk melupakan Kanak - kanak kecil yang mengunjunginya semasa muda. Di usia senjanya berulang kali ia mencoba membuat patung Kanak - kanak dengan lilin, namun tak satu pun patung memuaskan hatinya hingga suatu pagi suatu terang cemerlang muncul dan si Kanak - kanak berdiri di sampingnya, berkata :
" Aku datang untuk memperlihatkan DiriKu lagi kepadamu, supaya engkau dapat menyelesaikan patung seturut gambaranKu ".
Jari - jemari si biarawan tua giat berupaya kembali hingga sebuah gambaran sempurna selesai dibuat.
Keesokan paginya komunitas mendapati Yosef terbaring di ambang ajal dengan menyungging senyum bahagia . Sahabat kecilnya telah mengunjunginya lagi untuk membawanya serta pulang ke rumahNya.
Selama bertahun - tahun sesudahnya patung itu dihormati oleh orang-orang Spanyol, di antaranya oleh St Teresa dari Avila ( St. Teresa dari Yesus ) yang selalu membawa replika kecil patung dalam perjalanan - perjalanannya.
Sekitar tahun 1556, Dona Isabela Manrique menghadiahkan patung Kanak - kanak kepada anaknya, Puteri Spanyol Maria Maxmiliana Manriquez de Lara y Mendoza dari Borgos sebagai hadiah pernikahannya dengan seorang bangsawan Bohemia ( Ceko ) Lord Vratislav dari Pernstein.
Patung kemudian dibawa ke Praha, ibukota Republik Ceko. Pasangan ini dikaruniai seorang puteri, Polyxena ( 1566 - 1642 ), yang pada tahun 1587 menikah dengan Lord William dari Rozmberk. Patung lilin kecil dihadiahkan kepada Polyxena sebagai hadiah pernikahan.
Polyxena menempatkan patung dalam kapel keluarga kerajaan di Kastil Praha di Hradcany. Pada tahun 1628, sebagai ungkapan syukur atas semua berkat yang Allah anugerahkan sepanjang hidupnya, Lady Polyxena yang telah lanjut usia menghadiahkan patung kepada penduduk Praha dengan gelar " Kanak - kanak Yesus Yang Maharahim dari Praha ".
Patung diserahkan kepada Prior dengan pesan : " Aku memberikan kepadamu yang paling berharga dari apa yang kumiliki. Hormatilah patung ini dan kalian tidak akan pernah berkekurangan ".
Patung Kanak - kanak dari Praha kemudian disemayamkan di Gereja Biara Karmel Bunda Kemenangan di Mala Strana, Praha.
Banyak mukjizat terjadi : mereka yang tuli dan buta dipulihkan, yang sakit dan timpang disembuhkan dan gereja menjadi tempat ziarah.
Sungguh sayang, tak lama kemudian terjadilah tragedi " Perang Tiga puluh Tahun " ( 1618 - 1648 ), yang berawal dari perang agama antara Katolik dan para reformis Protestan dalam Kekaisaran Roma, meski di dalamnya pertikaian politik juga memainkan perang penting. Kelaparan, penyakit dan pelanggaran hukum merongrong penduduk Bohemia dan negeri yang tadinya kaya makmur berubah menjadi tempat penderitaan dan kehancuran.
Pada tahun 1631, di bawah pendudukan bangsa Saxon, ( Jerman Utara ) dan kemudian Swedia, Praha dijarah dan Biara Karmel dirampok dan ditinggalkan dalam keadaan menyedihkan, sementara patung Kanak - kanak direnggut dari tempatnya ditahtakan dan dibuang begitu saja di antara puing - puing dengan kedua tanganNya patah.
ππΉ PATER VENERABILIS CYRILLUS A MATER DEI, OCD
Mikulas Schockvilberg ( 1590 - 1675 ), seorang pemuda dari Luxembourg, menggabungkan diri dengan Ordo Karmel dan memilih nama Cyrillus a Mater Dei ( Cyrillus dari Alexandria ). Ia telah berada di Praha sebelum terjadinya Konflik Perang Tiga puluh Tahun yang memaksa para Karmelit melarikan diri ke Munich. Tujuh tahun kemudian, pada Pentakosta tahun 1637, Cyrillus yang telah ditahbiskan sebagai imam kembali ke biaranya di Praha yang dibiarkan terbengkalai sesudah dirampok habis - habisan.
Di antara puing - puing dan sampah, Pater Cyrillus, seorang devosan setia Kanak - kanak Yesus, mencari tanpa kenal lelah berharap dan akhirnya berhasil menemukan patung lilin Kanak - kanak. Seijin Prior, patung ditempatkan kembali di Oratorium.
Suatu malam, semua biarawan lain sudah kembali ke selnya, sementara P Cyrillus masih tinggal dalam doa di gereja.
Suatu suara kanak - kanak berkata :
" Kasihanilah Aku dan Aku akan mengasihani engkau, kembalikan tangan - tanganKu dan Aku akan memberimu damai dan semakin engkau menghormati Aku, semakin Aku akan memberkatimu ".
P Cyrillus tercengang dan baru menyadari bahwa di balik jubah birunya kedua lengan dan tangan telah hilang dari tubuh Kanak - kanak Kristus.
Gereja tidak memiliki dana untuk membeli makanan ataupun lilin, apalagi dana untuk membiayai perbaikan patung. Tambahan lagi Prior tidak percaya akan kisah yang diceritakan sang Pater.
P Cyrillus berdoa agar boleh mendapatkan uang untuk perbaikan patung. Doa - doa yang dengan tekun dipanjatkannya kelihatannya dikabulkan. Seorang dermawan yang tua dan rapuh datang menyerahkan satu buli - buli uang yang dapat dibelikan seratus patung baru. Dan kendati permohonan P Cyrillus, sang Prior enak saja membeli satu patung kanak - kanak yang baru untuk menggantikan patung lama yang sudah dekil dan rusak. Segera sesudah patung baru ditahtakan di altar, terjadilah bencana. Sebuah tempat lilin yang berat roboh menimpa dan meremukkan patung yang baru. Prior dipensiun dan dipindahkan ke biara lain.
Kepada Prior yang baru, P Cyrillus kembali mengajukan perkaranya perihal patung, akan tetapi sang Prior, yang masih ragu, minta suatu bukti pertolongan dari Kanak - kanak.
P Cyrillus kembali berdoa dengan tekun. Ia memohon Bunda Allah untuk menjadi perantara. Suatu panggilan membangunkan sang pater dari doa khusuknya, seorang perempuan ingin bertemu. Kemilau mistis terpancar dari perempuan misterius ini. Pater menghampirinya dan perempuan itu menyerahkan kepada pater sekantung penuh uang dengan permintaan agar uang dipergunakan begitu rupa sehingga biara tidak berkekurangan.
Dan sementara membalikkan badan tamu " perempuan " itu pun dalam sekejap mata menghilang dalam kegelapan malam.
P Cyrillus hingga akhir hidupnya percaya bahwa perempuan ningrat ini adalah
" Bunda Tuhan kita ".
Walau telah mendapatkan dana, ternyata uang tidak diperbolehkan untuk memperbaiki lengan dan tangan patung, melainkan untuk merenovasi gereja. Tak sepeser pun diberikan untuk keperluan patung kecil. malang yang ada di bilik P Cyrillus. Sekali lagi suara Kanak - kanak berkata dalam kegelapan :
" Tempatkan Aku di pintu masuk Sakristi dan kau pada akhirnya akan mendapati dia yang akan berbelas kasihan kepadaKu ".
Segera sesudahnya seorang asing muncul dan menawarkan diri untuk membayar perbaikan patung yang patah. Beberapa seniman dan pematung secara bergantian ditugaskan, namun tak satu pun yang memberikan hasil memuaskan. Hingga suatu hari seorang seniman muda yang berparas bak seorang kanak - kanak dalam waktu kurang dari sehari menyelesaikan apa yang tak dapat dilakukan yang lain. Pemuda misterius itu segera menghilang bahkan sebelum ia menunjukkan hasil kerjanya.
P Cyrillus dalam hidup selanjutnya diganjari dengan menjadi saksi akan begitu banyak rahmat berkat yang memancar dari tangan Kanak - kanak Yesus dari Praha. Ia wafat dalam wangi kekudusan pada tanggal 4 Februari 1675, pada usia 85 tahun. Gereja memberinya gelar Venerabilis ( yang pantas dihormati ).
ππΉ PENGAKUAN RESMI GEREJANI
Mendengar bahwa Kanak - kanak Yesus telah ditahtakan kembali di tempatnya di altar, masyrakat Praha sekali lagi kembali menghaturkan doa - doa dan kebutuhan - kebutuhan mereka di hadapan kanak - kanak Yesus.
Mukjizat - mukjizat awal yang terjadi dituliskan dalam sebuah buku oleh Pater Emerich a St Stephano, yang dipublikasikan di Jerman pada tahun 1736 dan di Ceko pada tahun 1749. Salah satu mukjizat yang terjadi adalah ketika dari waktu ke waktu Praha berada dalam kesulitan terjangkit wabah penyakit dan invansi oleh para musuh, dapur biara tidak pernah kehabisan makanan hingga tak ada penduduk termiskin sekalipun yang kelaparan. Dengan ketekunan doa penduduk, seorang utusan misterius menampilkan diri di hadapan jenderal musuh dan membujuknya agar menarik mundur militer.
Pada tanggal 3 Mei 1648 Kardinal Ernest Albrecht dari Harrach, Uskup Agung Praha memberikan persetujuan gerejani pertama atas devosi kepada Kanak - kanak Yesus dari Praha.
Selanjutnya, pada tanggal 4 April 1655, Uskup Agung Josef Corta secara resmi memahkotai Kanak - kanak Yesus dengan mahkota emas bertabur mutiara dan batu-batu berharga serta memaklumkanNya sebagai Raja.
Pada tahun 1896 Paus Leo XIII memberikan indulgensi penuh kepada devosi.
Pada tanggal 13 Maret 1913, Paus St Pius X membentuk Persaudaraan Kanak - kanak Yesus dari Praha.
Pada tanggal 27 September 1924, Paus Pius XI memberikan Pemahkotaan Kanonik yang pertama.
Pada bulan September 2009 Paus Benediktus XVI melakukan kunjungan apostolik ke Republik Ceko dan mengunjungi Gereja Bunda Kemenangan di Praha. Paus menyumbangkan sebuah mahkota emas dengan delapan kerang dengan banyak mutiara dan garnet ( batu akik merah tua ) yang hingga sekarang menghiasi patung setinggi 47 cm tersebut.
ππΉ KAPLET KEPADA KANAK-KANAK YESUS DARI PRAHA πΉπ
Kaplet kepada Kanak - kanak Yesus, sering disebut juga " Mahkota Kecil untuk Kanak - kanak Yesus ", diajarkan sendiri oleh Yesus kepada Venerabilis Margaret dari Sakramen Mahakudus ( Margaret Parigot, 1619 - 1648 ), seorang biarawati Karmel Tak Berkasut dari Perancis. Yesus memintanya untuk memperkenalkan kaplet ini di kalangan umat beriman dan menjanjikan rahmat - rahmat khusus, teristimewa kemurnian hati dan kepolosan kanak - kanak, kepada semua yang membawa dan mendaraskan kaplet demi menghormati misteri masa kanak - kanakNya yang suci. Sebagai tanda, Yesus memperlihatkan kaplet yang berkilauan cahaya surgawi kepada Sr Margaret.
Kaplet terdiri dari 15 manik - manik :
3 manik Bapa Kami demi menghormati Keluarga Kudus dan 12 manik Salam Maria demi mengenang dua belas tahun masa kanak - kanak Yesus.
Kaplet didaraskan sebagai berikut :
πΈ ( didaraskan teristimewa mulai tanggal 17 hingga 25 Desember ) πΈ
π Diawali dengan :
" Kanak - kanak Yesus yang Ilahi, aku menyembah salibMu dan aku bersedia menerima semua salib yang Engkau berkenan kirimkan untukku. Tritunggal Mahakudus yang patut disembah, aku mempersembahkan kepadaMu, demi kemuliaan Nama Allah yang Kudus, semua adorasi Hati Kudus Kanak - kanak Yesus yang Tersuci ”.
π Daraskan tiga kali:
" Dan Sabda telah menjadi daging dan tinggal di antara kita ".
Bapa Kami ….
π Daraskan duabelas kali :
" Dan Sabda telah menjadi daging dan tinggal di antara kita ".
Salam Maria...
π Diakhiri dengan :
Kanak - kanak Yesus yang Kudus, berkati dan lindungilah kami ".
ππΉππΉππΉππΉππΉππΉππΉπ
Diambil dari FB Michael Cristiano Hady
Langganan:
Postingan (Atom)































