Kamis, 18 Juni 2015

BAPA KAMI

Hehehe…..Homili Misa pagi ini, Romo Anton menyinggung kalau beliau risau bila ada umat yang tanya ,“ siapa yang mimpin Misa?”, Romo Anton ternyata nyadar juga bila banyak yang ngrasani kalo Misa yang dipimpin Romo Anton  dan  Romo Ipeng itu lamaaaaa….. Sedangkan yang dipimpin oleh Romo Ponco itu cepat…… Maaf  ya  Mo, kalo umat dibelakang selalu ngomongin hal ini,  soalnya emang bener begitu sih……. Hehehe……Peace, MoA…..mungkin Romo Anton bisa meniru Romo Endra yang curhat lewat FBnya ( Litani serba salah seorang Pastor...https://www.facebook.com/endra.wijayanta/posts/10204519747298132?pnref=story#
atau jawab saja seperti ini Mo.... Engkau berkata, ’Misanya lama’, maka aku menjawab, ’karena cintamu terlalu singkat’” — St. Josemaria Escriva.

Balik lagi ke homili tentang bacaan Injil hari ini tentang doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri yaitu doa Bapa Kami, ada artikel menarik yang saya ambil dari FB: Romo Josep Susanto


BAPA KAMI YANG ADA DI SURGA

          Doa diawali dengan sebuah seruan, di mana Yesus berseru memanggil BAPANya (harafiahnya: O Bapa atau Ya Bapa). Yang menarik adalah di Injil Matius, bentuk seruan seperti ini hanya muncul dalam 3 peristiwa penting hidup Yesus di mana digambarkan Yesus sedang berdoa (11:25; 26:39.42).
Yang menarik adalah dalam kesempatan ini Yesus menyebut Allah dengan sebutan BAPA KAMI, bukan BAPAKU.  Kata “KAMI” adalah undangan Yesus kepada para muridNya untuk ambil bagian dalam relasi yang dimiliki Yesus dengan BapaNya. Yesus mengundang para muridNya juga untuk mengingat relasi persaudaraan mereka dengan sesamanya, bahwa mereka semua adalah satu keluarga yaitu Keluarga dari Bapa yang sama. 
Sebutan “Yang ada di surga” menunjukan kemuliaan Allah, bahwa Allah yang kita sebut Bapa ini jauh melebihi segala Bapa yang ada di dunia ini. Namun bukan cuma itu saja, kata ini juga membuka suatu rahasia baru bahwa para murid meskipun masih tinggal di dunia, karena mereka kini sudah menjadi anak dari Bapa, maka mereka juga disebut anak-anak surga. Mereka punya suatu hubungan dengan surga, merekalah pemilik atau pewaris Kerajaan Surga.

DIMULIAKANLAH NAMAMU

            Permohonan pertama yang harus diucapkan Anak adalah memuliakan Bapa. Dalam dunia Perjanjian Lama, Nama Allah mewakili pribadi Allah sendiri, melambangkan kehadiran Allah dan kekuasaanNya (Kej 21:33, Lek 20:7, Im 24:11, Bil 6:27, Ul 12:5).

            Kemuliaan tidak bisa dipisahkan dari pribadi Allah, keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tindakan memuliakan Allah mempunyai arti MENGENAL DAN MENERIMA siapa Allah dengan segala kekuasaanNya. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel harus memuliakan Allah. Namun tindakan itu selalu berkaitan dengan melakukan kehendak dan peraturan Allah. Tindakan memuliakan Allah ini menekankan lagi-lagi soal RELASI antara Allah dan umatNya, bahwa Israel adalah bangsa yang diselamatkan dan dipilih oleh Allah. Inilah yang menjadi dasar mengapa Israel harus memuliakan Allah.

            Tindakan memuliakan Nama Allah juga mengandung arti bahwa para murid diajak untuk menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya. Hanya Allahlah yang mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia.

            Lawan dari tindakan memuliakan nama Allah adalah membuat nama Allah menjadi cemar atau profan belaka. Tindakan mencemarkan nama Allah dalam Perjanjian Lama seperti menyembah berhala (Im 18:21), tindakan kejahatan dan ketidakadilan (Jer 34:16, Amos 2:6-7).

DATANGLAH KERAJAANMU

            Setelah memuliakan Nama Bapa, para murid diajak untuk memohon datangnya Kerajaan Bapa. Kata “Kerajaan” di dalam Injil Matius muncul hanya 55x. Pewartaan Yohanes pembaptis dan Yesus adalah Kerajaan Allah yang sudah dekat”. Perumpamaan-perumpamaan Yesus berbiacara tentang Kerajaan Allah. Kata “kerajaan” di sini tidak berbicara tentang “kerajaan duniawi” dengan segala kekuasaan politik dan teritori tertentu. Kata “Kerajaan” di sini mengacu pada kemahakuasaan dan kemuliaan Allah terhadap alam semesta. Dunia dengan segala isinya berasal dari Allah dan milik Allah, sudah saatnya Allah mengambil alih milikNya, yang terampas karena manusia jatuh ke dalam dosa. Saatnya Allah  sebagai RAJA memimpin umatNya dan mengambil apa yang menjadi miliknya sejak semula. Allah membebaskan umatNya dari segala kekuatan lain yang membelenggu hidup manusia.

            Kata-kata “datanglah KerajaanMu” juga mengandung makna terselubung yaitu ajakan Yesus kepada para murid untuk terus menerus mempunyai harapan agar mereka menjadi warga kerajaan Allah. Selain itu juga ajakan Yesus kepada para murid untuk mulai mengubah cara hidup mereka yang tidak membuat mereka tidak bisa masuk ke dalam kerajaan Allah. Dengan kata lain, ungkapan “datanglah KerajaanMu” adalah suatu ajakan PERTOBATAN.

JADILAH KEHENDAKMU, DI ATAS BUMI SEPERTI DI DALAM SURGA

            Ketika Kerajaan Allah datang dan hadir di muka bumi, Allah dengan segala-galanya akan diatur oleh kehendak Allah. Kata “Kehendak Allah” mengingatkan kita pada doa Yesus di taman Getsemani (Mat 26:42).  Kata “kehendak” mengandung arti: harapan, keinginan, tujuan yang mau dicapai. Bila seseorang menginginkan sesuatu, ia akan berusaha dengan segala cara untuk memperoleh apa yang dia inginkan itu. Ia akan menyusun program dan strategi yang mendukung untuk terwujudnya keinginan itu.

            Keinginan atau harapan Allah tidak lain tidak bukan adalah MENEBUS UMAT MANUSIA DARI DOSA DAN KEMATIAN. Allah tidak ingin satu dari umatNya hilang. Allah sebagai BAPA berjuang untuk menyatukan kembali KELUARGANYA. Dengan ungkapan “Di atas bumi seperti di dalam Surga” di sini mau ditekankan bahwa betapa para murid diajak untuk ikut berjuang agar kehendak Allah itu dapat benar-benar terlaksana, bukan hanya nanti di akhir jaman atau di surga tetapi juga di bumi selama mereka masih hidup di dunia. Caranya adalah dengan membuat SINKRONISASI antara kehendak mereka dengan kehendak Allah sendiri.

BERILAH KAMI REJEKI (ROTI) PADA HARI INI/SEHARI-HARI

            Bagian ini adalah bagian kedua dari Doa Bapa Kami, di mana permohonan mulai beralih kepada kebutuhan hidup para murid. Dimulai dengan “permohonan atas rejeki (roti). Apa maksudnya dari kata “rejeki” atau “roti”, apa manfaatnya bagi para murid?
            Kata “hari ini” menjadi perdebatan keras di atara para ahli bahasa. Terjemahan pertama mengacu pada “makanan harian” atau “makanan untuk besok”. Makanan ini adalah yang dibutuhkan seseorang saat ini dan di sini.  Terjemahan kedua adalah “makanan” yang bersifat eskatologis, yaitu apa yang mereka butuhkan untuk sampai pada hidup kekal yang akan datang. Kedua terjemahan ini masuk akal dan bisa diterima. Yang pertama mengacu pada hidup para murid di dunia, sedangkan yang kedua mengacu pada hidup para murid ketika mereka masuk ke dalam Kerajaan surga.

            Namun, kata “roti” dalam Injil Matius muncul 21x dan semuanya mengacu kepada makanan manusia sehari-hari. Roti atau makanan adalah kebutuhan manusia, situasi tanpa makanan membuat manusia menjadi begitu lemah dan ringkih sampai ancaman kematian. Tanpa makanan manusia bisa menjadi budak dari sesamanya bahkan membuat manusia jatuh dalam dosa seperti mencuri atau membunuh (melanggar perintah Allah). Dari fakta ini kita, permohonan tentang “roti atau rejeki sehari-hari” mengandung lagi-lagi ajakan untuk menyadari keterbatasan manusia.     

            Kata “kami” juga merupakan ajakan untuk menyadari bahwa rejeki atau makanan yang kita terima dari Bapa bukanlah bersifat individu melulu, melainkan juga rejeki yang kita terima untuk bersama orang lain sebagai satu keluarga Allah. Kata “pada hari ini” bukan “semua hari” juga menekanakan bahwa betapa setiap orang memperoleh hak yang sama untuk menerima rejeki itu. Ini adalah ajakan untuk berbagi. Rejeki yang kita punya harus kita berikan juga kepada mereka yang berkekurangan.

AMPUNILAH KESALAHAN KAMI
SEPERTI KAMIPUN MENGAMPUNI YANG BERSALAH KEPADA KAMI

            Kalimat ini terdiri dari dua bagian. Yang pertama adalah permohonan agar para murid diampuni oleh Allah karena dosa dan kesalahan mereka. Sedangkan yang kedua adalah keinginan para murid untuk mengampuni sesamanya yang bersalah kepada mereka. Dalam ayat 14-15 Yesus sekali lagi menegaskan betapa pentingnya bagian yang kedua, karena menjadi syarat untuk memperoleh pengampunan dari Allah. Dalam Mat 18 tentang perumpamaan pengampunan juga lagi-lagi.

            Rahasia yang terkandung dalam kalimat ini adalah para murid diajak untuk menyadari identitas mereka sebagai ANAK dari BAPA. Kehendak Bapa adalah menebus dan mengampuni dosa manusia. Para murid diajak untuk mempunyai sikap seperti Bapa mereka. Jadi identitas bukan hanya tempelan belaka tetapi sebagai undangan untuk menjadi sempurna seperti Bapa yang maha pengampun. Bapa itu maha baik dan pengampun, Anak-anaknya juga harus demikian.

DAN JANGANLAH MASUKAN KAMI KE DALAM PENCOBAAN
TETAPI BEBASKAN KAMI DARI YANG JAHAT.

            Ini adalah permohonan yang terakhir dari doa Bapa Kami. Dibagi menjadi 2 bagian. Yang pertama permohonan agar Bapa tidak memasukan mereka kedalam pencobaan. Yang kedua adalah permohonan untuk dibebaskan dari yang jahat.

            Bagian yang pertama menimbulkan perdebatan teologis yang hebat: apakah Bapa membawa anak-anakNya kedalam pencobaan?

            Dalam Perjanjian Lama, Allah memasukan umatNya ke dalam pencobaan untuk menguji iman mereka (Kej 22:1; Kel 15:25; 16:4, dll). Yesus sendiri dalam Mat 4:1 juga dicobai oleh iblis sebagai bagian dari kehendak Bapa. Apakah Bapa sungguh tega memasukan anakNya ke dalam pencobaan, terlebih ketika pencobaan itu beruba pengalaman yang tidak menyenangkan. Tetapi Kitab Suci menggarisbawahi bahwa tidak ada satupun terjadi pada anak-anak, tanpa sepengetahuan Bapa. Bapa akan memberi kekuatan kepada anak untuk berjuang melawan cobaan yang datang.

            Permohonan yang pertama ini mengungkapkan kesadaran bahwa para murid masih sangat lemah dan penuh dengan keterbatasan. Mereka diajak untuk menyadari “kemanusiaan” mereka dengan segala kelemahannya. Para murid diajak untuk meminta Bapa untuk melindungi mereka dari pencobaan dan keadaan terpisah dari Bapa.

            Permohonan pertama dihubungkan dengan permohonan yang kedua dengan kata “TETAPI”. Para murid diminta untuk memohon kepada Bapa untuk melindungi dari yang jahat (harafiah: roh jahat, Inggris: EVIL). Roh jahat inilah yang terus menerus berusaha memisahkan Anak dari Bapa.  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar