Kamis, 07 Mei 2015

JOGJA TANPA SENGSU

Dari beberapa obrolan pas sehabis sembayangan , ada terlontar kalau beberapa orang menyukai sengsu, ini menggelitik saya untuk curhat tentang konsumsi daging anjing ini bahkan mereka yang menjadi tokoh agama. Terlebih bagi umat Kristiani, konsumsi daging ini tidak di haramkan. Apalagi ada yang melontarkan kalau daging ini enak, harganya terjangkau dan selama ini tidak ada orang yang keracunan makan daging ini.
Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan kalau memang mereka mengonsumsi ini dengan menyembelih  dan  memasak sendiri dari hewan sehat yang dibeli hidup, bukan dari penjual di lapak-lapak kakilima.

Tahukah Kamu Bagaimana Manusia Menangkap dan Membunuh Mereka Untuk Dimakan? 

Cara menangkap anjing liar di luar batas kengerian yang bisa kamu bayangkan. Terkadang mereka harus rela diracun, dipukul hingga pingsan, dibakar hidup-hidup belum lagi berdesak-desakan di kandang yang sangat sempit sebelum diangkut ke penjagalan yang menempuh perjalanan berjam-jam. 


Dari investigasi beberapa animal rescuer lolongan yang menyayat bercampur bau anyir darah dan daging segar menjadi pemandangan nan memilukan di rumah jagal anjing di bilangan Cawang, Jakarta Timur. Dengan mulut terikat tali plastik, kawanan anjing itu dibungkus karung dan diangkut dengan sebuah truk menempuh perjalanan sepanjang puluhan hingga ratusan kilometer. Dalam sehari, paling tidak sekitar 100 ekor anjing masuk ke rumah jagal itu. Mereka dikumpulkan di sebuah ruang isolasi seluas 3 x 3 meter berpintu teralis besi mirip kamar tahanan. Anjing-anjing itu bersesak-sesak di ruangan yang pengap, bau kotoran, dan jarang dibersihkan itu. Tanpa air dan makanan, sehingga tak jarang ada anjing yang mati diterkam kawannya sendiri, yang tak kuat menahan lapar.

Tetapi sesungguhnya, penderitaan mereka baru mulai di tempat penjagalan ini. Mereka harus menyaksikan kawan dan keluarganya dibantai sebelum tiba giliran mereka. Moncong dan kaki diikat dengan kuat dan mereka harus rela tubuh mereka dihajar habis-habisan hingga mereka menyerah, kalah dan menghembuskan napas pasrah. Bahkan mereka harus mau bagian tubuhnya ditebas dengan golok berkali-kali dalam keadaan sadar. Cobalah tanyakan pada hati nuranimu sendiri, sesakit apakah kira-kira mereka sebelum mati dan dihantarkan ke meja makan kita
.
Bagaimana Manusia Bisa Punya Hati Untuk Melahap Sahabatnya Sendiri?

Anjing adalah salah satu hewan yang sejak dulu menjadi sahabat dekat manusia. Ini bukan cuma telaah kosong atau riset tanpa bukti. Para peneliti di ELTE University di Hungaria membuktikan bahwa anjing memiliki kesamaan emosi dengan manusia. Mereka menggunakanMagnetic Resonance Scanner untuk memindai otak anjing. Mereka juga meneliti 200 suara emosional anjing yang berupa lenguhan, gongongan, bahkan hingga tangisan. Dari rangkaian emosinya, disimpulkan anjing bisa menjadi sahabat manusia karena mereka sanggup memahami serta memiliki emosi yang serupa dengan kita.

Sungguh, makhluk seperti ini bukan makanan. Anjing adalah hewan yg manis dan sangat setia tidak pantas buat di komsumsi 
.
Berdasarkan data Animal Friends Jogja (AFJ), JAAN dan Garda Satwa menyebutkan, perdagangan anjing untuk konsumsi di berbagai kota besar di Indonesia seperti Yogyakarta, Solo, Jakarta, Bandung, Bali, Medan dan Manado serta berbagai kota lain di Jawa Tengah makin marak. 

Di Yogyakarta saja diperkirakan 360 ekor anjing dibunuh tiap minggunya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti perdagangan anjing untuk konsumsi manusia sebagai faktor kontributif terhadap penyebaran rabies di Indonesia, karena perdagangan tersebut mendorong hewan ini dari berbagai sumber untuk diangkut antar pulau.  Pengangkutan jarak jauh dan dalam jumlah besar dari anjing-anjing ini yang dibunuh untuk daging mereka juga dikaitkan dengan berjangkitnya rabies. Dari beberapa riset merilis kalau penyakit rabies ini tidak mati walaupun daging anjing ini sudah dimasak.

Berikut saya lampirkan posting mengenai hal ini yang saya dapat via Facebook  / media sosial
( surat yang dikirim dog lover di Jogja)

Anjing ini menitikkan airmata

Ia  satu dari sekitar enam puluh ekor anjing yang pagi itu tiba di Jogja dari Pangandaran, Jawa Barat. Sejak berangkat tubuh mereka disekap dalam karung dan moncongnya dibebat erat rafia. Sebetulnya inilah akhir langkah mereka sebagai mahluk hidup. Karena mereka tidak akan pernah lagi mencecap makanan, sekalipun rempahan kerupuk, dan hanya minum dari guyuran air sungai atau tetesan hujan atas kebaikan sopir truk dan awaknya yang tidak akan membiarkannya menjadi bangkai di tengah perjalanan panjang.
Mereka baru akan lepas dari bagor dan rafianya setelah melepas nyawa.
Anjing malang tadi menangisi dirinya dan teman-temannya. Tiba di tujuan mereka diturunkan dari truk dengan digajuli atau dilempar satu per satu seperti karungan sampah. Sebuah kamar pengap menyekap mereka. Tak ada makanan, tak ada air, tak ada gonggongan. Mereka hanya saling menatap dan mendengarkan tangis. Tangis diri mereka sendiri-sendiri. Karena suara yang tertahan di kerongkongan hanya akan terjun ke dalam, ke batin.
Mereka menangis  sebab divonis tak berguna. Mereka akan memberikan lebih dari yang sudah pernah dilakukannya untuk manusia jika dianugerahi kesempatan. Tapi orang-orang di sekeliling mereka mengharap kalkulasi yang eksak: bathi, keuntungan. Itu sebabnya tak ada secuilpun makanan untuk mereka, karena akan mencuil laba.
Seusai order para pedagang sengsu penjagal akan mengeluarkan kelompok demi kelompok. Dan satu demi satu dihajar pukulan batang kayu tepat di kepala. Di hadapan teman-temannya yang menunggu hitungan. Entah mati entah pingsan penjagal dengan dingin memutuskan leher dan semangat hidupnya.
Ayam, kambing, dan sapi lebih beruntung karena Dinas Peternakan selalu memantau dan menjaga kondisinya sebelum diserahkannya tubuhnya untuk kebutuhan manusia. Sebagian orang yang bekerja untuk kebutuhan itupun masih mengucap syukur saat melakukan tugasnya. Bahkan ada yang mengelus punggungnya dan menepuk-nepuk kepalanya sebagai ungkapan terimakasih. Anjing-anjing ini dilibas dengan keji seolah mereka bukan ciptaan Tuhan.
Saya mohon dengan sangat bantuan dari Bapak Sultan untuk membantu menghentikan perdagangan ini.  Dan harapan saya adalah Wilayah Yogyakarta akan menjadi wilayah yang bebas dari kekejaman ini.  Apabila ada kata-kata yang kurang pantas saya mohon maaf sebelumnya. Terima kasih.

Cerita mahasiswa Universitas  Negeri Solo yang di muat di Kompasiana


Saya mengetahui hal ini juga tidak sengaja, saat ramai-ramainya Pemilihan Walikota di Solo, tahun 2005, kebetulan saya ngobrol di rumah salah satu teman, yang dekat dengan tempat penjagalan anjing. Awalnya saya heran, kok mulai pukul 02.00 dini hari, selalu ada lolongan anjing, tapi tidak panjang, kemudian terdiam, selang beberapa saat terdengar lagi. Kata teman saya, suara itu dari tempat penjagalan anjing. 

Cara membunuhnya, Kepala anjing itu dikepruk pakai kayu, kemudian anjing tersebut diikat dalam karung, di masukkan (dilelebke) ke sungai, sampai mati. Hal ini dimaksudkan supaya darah anjing tersebut tidak keluar, sehingga dagingnya lebih gurih. Dalam sehari, di tempat penjagalan tersebut, tidak kurang dari 30 ekor anjing yang dikepruk. Saya agak bergidik membayangkan, sebab kalau model menyembelih anjing dengan jalan “ngepruk kepala” kemudian “menenggelamkan” saya pernah memergoki pelaku pengeprukan ini di jembatan di belakang kampus Pertanian, saat jalan-jalan sehabis sholat shubuh. Seseorang sedang memasukkan anjing yang sekarat ke dalam karung, kemudian menenggelamkannya di jembatan belakang Fakultas Pertanian.
Perlunya pengawasan supaya dalam penjagalannya, anjing-anjing tersebut diperlakukan lebih “manusiawi”, tidak dengan model penyiksaan seperti itu. Seperti yang juga pernah saya dengar, katanya dalam penyembelihan babi, ada juga yang dengan cara menusuk leher babi dengan besi panas, sehingga aliran darah ke otak terhenti kemudian mati, tapi darah tidak keluar dari tubuh. Cara ini sekali lagi katanya untuk mempertahankan cita rasanya. Namun, apakah hanya sekedar untuk memenuhi “syahwat lidah” ini kemudian manusia punya hak untuk menyiksa ?

Curhat seorang blogger di JalanSutra                                                                                                 

Koran Tempo Minggu kemarin memuat foto-foto tempat penjagalan anjing. Saya lupa di rubrik apa, saking langsung keder, pokoknya di halaman ke-3 dari  belakang. Foto-fotonya mengerikan, sadis. Salah satunya adalah foto yang menampakkan anjing-anjing masih hidup dibungkus karung, hanya kepala mereka yang kelihatan, dengan moncong diikat tali, digeletakkan bertumpukan begitu saja.
Yang bikin saya menangis adalah di hadapan anjing-anjing itu tampak wadah besi kosong, dengan ceceran darah di dekatnya. Saya sedih sekali membayangkan betapa ngerinya perasaan anjing-anjing itu, melihat teman mereka dijagal di depan mata tanpa mereka bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri.   Saya tidak tahu bagaimana keadaan di tempat jagal sapi, yang terus terang  dagingnya memang saya makan. Mungkin saja sesadis tempat jagal anjing ini. Tapi saya kok miris banget ya lihat foto-foto kemarin itu.... Saya menyesal melihat foto-foto mengerikan tersebut, soalnya sampai hari ini masih terbayang.
Dari cerita seorang saudara dan teman  mengatakan kalau disekitarnya ada peternakan anjing yang memang khusus untuk suplai ke lapo-lapo pedagang sengsu. Dari anjing –anjing ini tentunya tidak semua  sehat ada beberapa kali kasus yang terkena parvovirus sehingga anjing ini  kejang dan kaku badannya. Setelah sekarat anjing ini akhirnya di sembelih.  Bayangkan bagaimana mungkin dari daging yang sudah sakit terkena virus bisa menyehatkan badan kita. Mungkin belum ada kasus keracunan tapi kita tidak tahu efek jangka panjang dari konsumsi daging yang seperti ini.

Cerita lain berasal dari penulis terkenal Alberthine Endah yang juga seorang animal rescuer, dari cerita beberapa rekannya terungkap kalau ada anjing-anjing hidup yang menjadi bahan praktikum anak-anak FKH,  setelah di udel-udel dan mungkin di suntik (dengan beberapa obat percobaan) badannya, konon setelah itu anjing-anjing ini dijual ke lapo-lapo sengsu dalam keadaan sekarat. Bayangkan penderitaan mereka !!!!! Tegakah kita yang dikaruniai akal dan budi ini memuaskan nafsu duniawi diatas penderitaan anjing-anjing ini.

Apa yang sebaiknya kita perbuat???
  • ·         Hentikan makan daging anjing ini, terlebih  jangan beli dari  lapo-lapo penjual sengsu karena mereka  ini  disuplai dari rumah penjagalan hewan yang kejam
  • ·         Yang terakhir : bukan kah dalam ajaran yang kita yakini, selalu didenggungkan tentang ajaran kasih??? Kalau kita bisa mengasihi sesama kita, harusnya kita juga mengasihi mahluk hidup lain sesama ciptaan Tuhan.  Jika permintaan konsumsi daging anjing ini bisa turun atau malah hilang sama sekali, bisa dipastikan rumah-rumah penjagalan anjing yang kejam ini juga  akan tutup. Dan kita secara tidak langsung berkontribusi  dalam pencegahan penyebaran rabies.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar