Di hari perayaan Ulang Tahun Gunungkidul yang ke 184 ini, salah satu warga Lingkungan Perak juga melaksanakan Pemberkatan Pernikahannya. Ibu Meini dan bpk Udin, akhirnya melaksanakan pemberkatan Pernikahan di Gereja St Petrus Kanisius. Dipimpin oleh Romo Ipeng, pemberkatan ini berlangsung singkat dan khidmat. Proficiat buat bu Meini dan bpk Udin.
Rabu, 27 Mei 2015
Senin, 25 Mei 2015
MAAFKAN AKU BILA MENGELUH
·
Hari ini, di sebuah bus, aku melihat
seorang gadis cantik dengan
rambut indah. Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan
kuharap akupun sama. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan. Dia
mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu. Namun ketika dia
lewat tersenyum. Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya
dua kaki. Dunia ini milikku!
rambut indah. Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan
kuharap akupun sama. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan. Dia
mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu. Namun ketika dia
lewat tersenyum. Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya
dua kaki. Dunia ini milikku!
Aku berhenti untuk membeli bunga lili.
Anak laki-laki penjualnya
begitu mempesona. Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira.
Seandainya aku terlambat, tidaklah apa-apa. Ketika aku pergi, dia
berkata, "Terimakasih. Engkau sudah begitu baik. Menyenangkan
berbicara dengan orang sepertimu. Lihat saya buta." Oh Tuhan,
maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.
begitu mempesona. Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira.
Seandainya aku terlambat, tidaklah apa-apa. Ketika aku pergi, dia
berkata, "Terimakasih. Engkau sudah begitu baik. Menyenangkan
berbicara dengan orang sepertimu. Lihat saya buta." Oh Tuhan,
maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.
·
Lalu, sementara berjalan, aku melihat seorang anak dengan bola
mata
biru. Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain. Dia tidak tahu
apa yang bisa dilakukannya. Aku berhenti sejenak, lalu
berkata, "Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak?" Dia
memandang ke depan tanpa bersuara, lalu aku tahu dia tidak bisa
mendengar. Oh Tuhan, maafkan aku bila aku selalu mengeluh.
Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.
biru. Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain. Dia tidak tahu
apa yang bisa dilakukannya. Aku berhenti sejenak, lalu
berkata, "Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak?" Dia
memandang ke depan tanpa bersuara, lalu aku tahu dia tidak bisa
mendengar. Oh Tuhan, maafkan aku bila aku selalu mengeluh.
Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.
Dengan dua kaki untuk membawa aku ke mana aku mau.
Dengan dua mata untuk memandang matahari terbenam.
Dengan dua telinga untuk mendengar apa yang ingin kudengar.
Oh Tuhan, maafkan aku bila aku selalu mengeluh... berkah dalem Gusti
(Artikel diambil
dari FB :Bunda Maria Santa
Perawan Suci)
”Kehidupan adalah perjuangan yang tidak boleh kita hindari tapi harus kita menangkan.” – St. Padre
Sabtu, 16 Mei 2015
RENUNGAN BERSYUKUR
Musim terus berganti, waktu terus
berlalu, usia kian bertambah. Banyak yang sudah kita lalui di kehidupan ini.
Ada masa dimana kita merasa
senang. Tatkala Anda menemukan pekerjaan idaman Anda, mendapatkan promosi, dan
terus menapaki tangga karir yang lebih tinggi dengan fasilitas yang lebih baik
pula, Anda memiliki perasaan senang. Ini mungkin merupakan salah satu titik
puncak dalam kehidupan Anda. Dunia seakan sangat indah masa itu.
Tak dapat dielakkan, ada
pula masa dimana Anda mengalami begitu banyak masalah. Anda merasa sangat
tertekan. Proyek Anda mengalami hambatan ini dan itu, atasan Anda terus
menuntut Anda dengan kinerja tertentu, persoalan rumah tangga, kejenuhan dan
lain sebagainya. Pada titik ini, Anda menjadi sangat bingung, konsentrasi Anda
terpecah, wajah Anda muram, dan antusiasme serta semangat Anda semakin menurun.
Musim boleh berganti, waktu
boleh berlalu, tapi Anda harus terus belajar menjadi orang yang bijak. Bila
Anda sedang melalui masa-masa yang senang, apa yang Anda lakukan? Anda tentunya
bersyukur. Bila Anda sedang melalui badai dalam hidup Anda, apa yang Anda
lakukan? Biasanya, mengeluh. Setiap manusia normal, pasti pernah mengeluh.
Memang hal tersebut bukan sesuatu yang salah, tapi mengeluh juga bukan sesuatu
yang baik dan bijak. Anda merasa kecewa, Anda merasa jenuh, bahkan Anda marah
terhadap orang lain sebagai manifestasi dari permasalahan yang Anda hadapi.
Jelas ini tidak baik bagi mental Anda. Lalu apa yang harus Anda lakukan?
Yang harus Anda lakukan
adalah BERSYUKUR.
Mari kita ubah paradigma
berpikir kita. Anda harus mensyukuri segala permasalahan yang terjadi dalam
hidup Anda. Jadilah orang yang memiliki sikap yang positif.
Mulailah dengan hal-hal kecil yang
dapat menjadi latihan mental bagi Anda.
Bersyukur
atas hari ini. Anda memiliki Anda masih dapat bernafas sementara banyak orang
yang untuk bernafas saja masih memerlukan bantuan. (lihat di rumah sakit)
Bersyukur
atas hari ini. Anda memiliki pekerjaan sementara banyak orang terpaksa harus
mengemis untuk hidup. (lihat di jalanan, anak-anak dan orangtuanya mengemis)
Bersyukur
atas hari ini. Anda dapat mengenyam pendidikan yang layak
sementara banyak orang yang membacapun tidak bisa. (lihat di daerah terpencil
tanpa sekolah)
Bersyukur
atas hari ini. Anda masih dapat makan enak sementara di belahan dunia yang lain
banyak orang yang menjadi kurus kering dan kurag gizi ( lihat berita di TV yang
terjadi di Afrika)
Bersyukur
atas hari ini.
Bersyukur
karena Anda mengalami masalah.Bersyukur karena masalah diperkenankan terjadi
dalam hidup Anda. Bersyukur karena masalah hadir membantu untuk membentuk
pribadi Anda.
Ambil waktu tenang sejenak
di sela-sela kesibukan Anda atau mungkin malam hari sebelum Anda tidur.
Pejamkan mata Anda agar dapat lebih berkonsentrasi. Lakukan refleksi diri.
Lihat kembali perjalan hidup Anda. Mengapa Anda ada di sini saat ini?
Berapa banyak sudah hal-hal luar biasa,
hal-hal baik dan positif yang terjadi pada hidup Anda? Syukurilah. Lihat juga berapa banyak
permasalahan yang muncul dan sudah Anda lalui? Syukurilah. Rasakan di setiap
detik kehidupan Anda.
Bersyukurlah
karena badai pasti berlalu. Ingat, ada musim berikutnya dalam hidup Anda. Ada
babak baru di hadapan Anda. Siapkan diri Anda untuk musim yang baru dengan
sejuta keindahan di dalamnya. Seindah kasih Allah yg selalu menyertai kita.
Berkah Dalem
diambil dari FB :
Bunda Maria Santa Perawan
Suci
Kamis, 07 Mei 2015
JOGJA TANPA SENGSU
Dari beberapa obrolan pas sehabis sembayangan , ada terlontar kalau
beberapa orang menyukai sengsu, ini menggelitik saya untuk curhat tentang
konsumsi daging anjing ini bahkan mereka yang menjadi tokoh agama. Terlebih
bagi umat Kristiani, konsumsi daging ini tidak di haramkan. Apalagi ada yang
melontarkan kalau daging ini enak, harganya terjangkau dan selama ini tidak ada
orang yang keracunan makan daging ini.
Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan kalau memang mereka mengonsumsi
ini dengan menyembelih dan memasak sendiri dari hewan sehat yang dibeli
hidup, bukan dari penjual di lapak-lapak kakilima.
Tahukah
Kamu Bagaimana Manusia Menangkap dan Membunuh Mereka Untuk Dimakan?
Cara menangkap anjing liar di luar
batas kengerian yang bisa kamu bayangkan. Terkadang mereka harus rela diracun,
dipukul hingga pingsan, dibakar hidup-hidup belum lagi berdesak-desakan di
kandang yang sangat sempit sebelum diangkut ke penjagalan yang menempuh
perjalanan berjam-jam.
Dari investigasi
beberapa animal rescuer lolongan yang menyayat bercampur bau anyir darah dan
daging segar menjadi pemandangan nan memilukan di rumah jagal anjing di
bilangan Cawang, Jakarta Timur. Dengan mulut terikat tali plastik, kawanan
anjing itu dibungkus karung dan diangkut dengan sebuah truk menempuh perjalanan
sepanjang puluhan hingga ratusan kilometer. Dalam sehari, paling tidak sekitar
100 ekor anjing masuk ke rumah jagal itu. Mereka dikumpulkan di sebuah ruang
isolasi seluas 3 x 3 meter berpintu teralis besi mirip kamar tahanan.
Anjing-anjing itu bersesak-sesak di ruangan yang pengap, bau kotoran, dan
jarang dibersihkan itu. Tanpa air dan makanan, sehingga tak jarang ada anjing
yang mati diterkam kawannya sendiri, yang tak kuat menahan lapar.
Tetapi sesungguhnya, penderitaan mereka baru mulai di tempat penjagalan ini. Mereka harus menyaksikan kawan dan keluarganya dibantai sebelum tiba giliran mereka. Moncong dan kaki diikat dengan kuat dan mereka harus rela tubuh mereka dihajar habis-habisan hingga mereka menyerah, kalah dan menghembuskan napas pasrah. Bahkan mereka harus mau bagian tubuhnya ditebas dengan golok berkali-kali dalam keadaan sadar. Cobalah tanyakan pada hati nuranimu sendiri, sesakit apakah kira-kira mereka sebelum mati dan dihantarkan ke meja makan kita
.
Bagaimana
Manusia Bisa Punya Hati Untuk Melahap Sahabatnya Sendiri?
Anjing adalah salah satu hewan
yang sejak dulu menjadi sahabat dekat manusia. Ini bukan cuma telaah
kosong atau riset tanpa bukti. Para peneliti di ELTE University di
Hungaria membuktikan bahwa anjing memiliki kesamaan emosi dengan
manusia. Mereka menggunakanMagnetic Resonance Scanner untuk
memindai otak anjing. Mereka juga meneliti 200 suara emosional anjing yang
berupa lenguhan, gongongan, bahkan hingga tangisan. Dari rangkaian emosinya,
disimpulkan anjing bisa menjadi sahabat manusia karena mereka sanggup memahami
serta memiliki emosi yang serupa dengan kita.
Sungguh, makhluk seperti ini bukan makanan. Anjing adalah hewan yg manis dan sangat setia tidak pantas buat di komsumsi
.
Berdasarkan
data Animal Friends Jogja (AFJ), JAAN dan Garda Satwa menyebutkan,
perdagangan anjing untuk konsumsi di berbagai kota besar di Indonesia seperti
Yogyakarta, Solo, Jakarta, Bandung, Bali, Medan dan Manado serta berbagai kota
lain di Jawa Tengah makin marak.
Di Yogyakarta saja diperkirakan 360 ekor
anjing dibunuh tiap minggunya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti
perdagangan anjing untuk konsumsi manusia sebagai faktor kontributif terhadap
penyebaran rabies di Indonesia, karena perdagangan tersebut mendorong hewan ini
dari berbagai sumber untuk diangkut antar pulau. Pengangkutan jarak jauh dan dalam jumlah
besar dari anjing-anjing ini yang dibunuh untuk daging mereka juga dikaitkan
dengan berjangkitnya rabies. Dari beberapa riset merilis kalau penyakit rabies
ini tidak mati walaupun daging anjing ini sudah dimasak.
Berikut saya lampirkan posting mengenai
hal ini yang saya dapat via Facebook / media
sosial
( surat yang dikirim dog lover di Jogja)
Anjing ini menitikkan airmata
Ia
satu dari sekitar enam puluh ekor anjing
yang pagi itu tiba di Jogja dari Pangandaran, Jawa Barat. Sejak berangkat tubuh
mereka disekap dalam karung dan moncongnya dibebat erat rafia. Sebetulnya
inilah akhir langkah mereka sebagai mahluk hidup. Karena mereka tidak akan
pernah lagi mencecap makanan, sekalipun rempahan kerupuk, dan hanya minum dari
guyuran air sungai atau tetesan hujan atas kebaikan sopir truk dan awaknya yang
tidak akan membiarkannya menjadi bangkai di tengah perjalanan panjang.
Mereka
baru akan lepas dari bagor dan rafianya setelah melepas nyawa.
Anjing
malang tadi menangisi dirinya dan teman-temannya. Tiba di tujuan mereka
diturunkan dari truk dengan digajuli atau dilempar satu per satu seperti
karungan sampah. Sebuah kamar pengap menyekap mereka. Tak ada makanan, tak ada
air, tak ada gonggongan. Mereka hanya saling menatap dan mendengarkan tangis.
Tangis diri mereka sendiri-sendiri. Karena suara yang tertahan di kerongkongan
hanya akan terjun ke dalam, ke batin.
Mereka
menangis sebab divonis tak berguna.
Mereka akan memberikan lebih dari yang sudah pernah dilakukannya untuk manusia
jika dianugerahi kesempatan. Tapi orang-orang di sekeliling mereka mengharap
kalkulasi yang eksak: bathi, keuntungan. Itu sebabnya tak ada secuilpun makanan
untuk mereka, karena akan mencuil laba.
Seusai
order para pedagang sengsu penjagal akan mengeluarkan kelompok demi kelompok.
Dan satu demi satu dihajar pukulan batang kayu tepat di kepala. Di hadapan
teman-temannya yang menunggu hitungan. Entah mati entah pingsan penjagal dengan
dingin memutuskan leher dan semangat hidupnya.
Ayam,
kambing, dan sapi lebih beruntung karena Dinas Peternakan selalu memantau dan
menjaga kondisinya sebelum diserahkannya tubuhnya untuk kebutuhan manusia.
Sebagian orang yang bekerja untuk kebutuhan itupun masih mengucap syukur saat
melakukan tugasnya. Bahkan ada yang mengelus punggungnya dan menepuk-nepuk
kepalanya sebagai ungkapan terimakasih. Anjing-anjing ini dilibas dengan keji
seolah mereka bukan ciptaan Tuhan.
Saya
mohon dengan sangat bantuan dari Bapak Sultan untuk membantu menghentikan
perdagangan ini. Dan harapan saya adalah
Wilayah Yogyakarta akan menjadi wilayah yang bebas dari kekejaman ini. Apabila ada kata-kata yang kurang pantas saya
mohon maaf sebelumnya. Terima kasih.
Cerita mahasiswa Universitas
Negeri Solo yang di muat di Kompasiana
Saya
mengetahui hal ini juga tidak sengaja, saat ramai-ramainya Pemilihan Walikota
di Solo, tahun 2005, kebetulan saya ngobrol di rumah salah satu teman, yang
dekat dengan tempat penjagalan anjing. Awalnya saya heran, kok mulai pukul
02.00 dini hari, selalu ada lolongan anjing, tapi tidak panjang, kemudian
terdiam, selang beberapa saat terdengar lagi. Kata teman saya, suara itu dari
tempat penjagalan anjing.
Cara membunuhnya, Kepala anjing itu dikepruk pakai
kayu, kemudian anjing tersebut diikat dalam karung, di masukkan (dilelebke) ke
sungai, sampai mati. Hal ini dimaksudkan supaya darah anjing tersebut tidak
keluar, sehingga dagingnya lebih gurih. Dalam sehari, di tempat penjagalan
tersebut, tidak kurang dari 30 ekor anjing yang dikepruk. Saya agak bergidik
membayangkan, sebab kalau model menyembelih anjing dengan jalan “ngepruk
kepala” kemudian “menenggelamkan” saya pernah memergoki pelaku pengeprukan ini
di jembatan di belakang kampus Pertanian, saat jalan-jalan sehabis sholat
shubuh. Seseorang sedang memasukkan anjing yang sekarat ke dalam karung,
kemudian menenggelamkannya di jembatan belakang Fakultas Pertanian.
Perlunya
pengawasan supaya dalam penjagalannya, anjing-anjing tersebut diperlakukan
lebih “manusiawi”, tidak dengan model penyiksaan seperti itu. Seperti yang juga
pernah saya dengar, katanya dalam penyembelihan babi, ada juga yang dengan cara
menusuk leher babi dengan besi panas, sehingga aliran darah ke otak terhenti
kemudian mati, tapi darah tidak keluar dari tubuh. Cara ini sekali lagi katanya
untuk mempertahankan cita rasanya. Namun, apakah hanya sekedar untuk memenuhi
“syahwat lidah” ini kemudian manusia punya hak untuk menyiksa ?
Curhat seorang blogger di
JalanSutra
Koran Tempo Minggu kemarin memuat foto-foto tempat
penjagalan anjing. Saya lupa di rubrik apa, saking langsung keder, pokoknya di
halaman ke-3 dari belakang. Foto-fotonya
mengerikan, sadis. Salah satunya adalah foto yang menampakkan anjing-anjing
masih hidup dibungkus karung, hanya kepala mereka yang kelihatan, dengan
moncong diikat tali, digeletakkan bertumpukan begitu saja.
Yang bikin saya menangis adalah di hadapan anjing-anjing itu
tampak wadah besi kosong, dengan ceceran darah di dekatnya. Saya sedih sekali membayangkan
betapa ngerinya perasaan anjing-anjing itu, melihat teman mereka dijagal di
depan mata tanpa mereka bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri. Saya tidak tahu bagaimana keadaan di tempat
jagal sapi, yang terus terang dagingnya
memang saya makan. Mungkin saja sesadis tempat jagal anjing ini. Tapi saya kok
miris banget ya lihat foto-foto kemarin itu.... Saya menyesal melihat foto-foto
mengerikan tersebut, soalnya sampai hari ini masih terbayang.
Dari cerita seorang saudara dan teman mengatakan kalau disekitarnya ada peternakan
anjing yang memang khusus untuk suplai ke lapo-lapo pedagang sengsu. Dari
anjing –anjing ini tentunya tidak semua sehat ada beberapa kali kasus yang terkena
parvovirus sehingga anjing ini kejang
dan kaku badannya. Setelah sekarat anjing ini akhirnya di sembelih. Bayangkan bagaimana mungkin dari daging yang
sudah sakit terkena virus bisa menyehatkan badan kita. Mungkin belum ada kasus
keracunan tapi kita tidak tahu efek jangka panjang dari konsumsi daging yang
seperti ini.
Cerita lain berasal dari penulis terkenal Alberthine Endah
yang juga seorang animal rescuer, dari cerita beberapa rekannya terungkap kalau
ada anjing-anjing hidup yang menjadi bahan praktikum anak-anak FKH, setelah di udel-udel
dan mungkin di suntik (dengan beberapa obat percobaan) badannya, konon setelah
itu anjing-anjing ini dijual ke lapo-lapo sengsu dalam keadaan sekarat. Bayangkan
penderitaan mereka !!!!! Tegakah kita yang dikaruniai akal dan budi ini
memuaskan nafsu duniawi diatas penderitaan anjing-anjing ini.
Apa yang sebaiknya kita perbuat???
- · Hentikan makan daging anjing ini, terlebih jangan beli dari lapo-lapo penjual sengsu karena mereka ini disuplai dari rumah penjagalan hewan yang kejam
- · Yang terakhir : bukan kah dalam ajaran yang kita yakini, selalu didenggungkan tentang ajaran kasih??? Kalau kita bisa mengasihi sesama kita, harusnya kita juga mengasihi mahluk hidup lain sesama ciptaan Tuhan. Jika permintaan konsumsi daging anjing ini bisa turun atau malah hilang sama sekali, bisa dipastikan rumah-rumah penjagalan anjing yang kejam ini juga akan tutup. Dan kita secara tidak langsung berkontribusi dalam pencegahan penyebaran rabies.
Sabtu, 25 April 2015
Lingkungan Paulus PERAK akhir th 80an
Pas bongkar-bongkar ternyata nemu foto ini.....
Seingatku ini Natalan yang bertempat dirumah ibu Endang Sumaryo(Endang Mebel)...sekitar th 1988 -1990 .......... ternyata dulu aku sempat ikutan dance juga......... dan sekarang sudah tua...hehehe......
Tapi aku sudah lupa itu Romo (foto yang paling atas) namanya siapa ya?????
Seingatku ini Natalan yang bertempat dirumah ibu Endang Sumaryo(Endang Mebel)...sekitar th 1988 -1990 .......... ternyata dulu aku sempat ikutan dance juga......... dan sekarang sudah tua...hehehe......
Tapi aku sudah lupa itu Romo (foto yang paling atas) namanya siapa ya?????
Selasa, 10 Maret 2015
MY FAVORIT QUOTE
*Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow, without a little rain*
*Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yg menganiaya kamu: KEMENANGAN TERBESAR ADALAH
KETIKA KITA BERHASIL MENGASIHI LAWAN*
*Berbagilah apa yang Anda miliki kepada orang ketika mereka membutuhkannya.
(Sta. Faustina)*
*Mengasihi sesama itu sudah biasa. Mengasihi musuh itu baru sempurna*
KITA AKAN SULIT MEMBENCI SESEORANG, KETIKA KITA MEMUJI-NYA, BUKAN? SELAMAT BERBAGI PUJIAN,
JANGAN GOSIPAN,
JANGAN PULA MAKIAN.
Mayoritas selalu menciptakan kedunguan.. sementara Minoritas membentuk kesabaran...
*KETIKA ... aku takut MEMBERI, aku lupa, bahwa semua yang aku miliki adalah PEMBERIAN*
Mengapa engkau gemar mengkafirkanku, padahal saat kuberdoa Tuhan tak pernah menanyakan agamaku?
“Ketika aku melihat seseorang sedang sedih, aku selalu berpikir ia sedang menolak sesuatu dari Yesus.” — Beata Teresa DOA Kalkutta
Mulailah hari ini dengan DOA dan tersenyumlah pada Yesus sebagai ucapan syukur apapun keadaan kita."
Selamat pagi Sobat. Terjadilah padamu menurut kehendak Allah dan terjadilah apa yg baik yaitu mukjizat bagi Anda hari ini
Aku inilah pokok Anggur, kamulah rantingnya. Tinggallah beserta-Ku, maka Aku tinggal besertamu, & kamu akan berbuah banyak. (Yoh 15:5 :)
No matter how many times you mess up, God is always there to give you a fresh start.
Yesus, ajarlah aku dlm hidup ini spy tidak mudah cemas bila mengalami kesulitan hidup namun mampu mengalahkan ke-egois-anku
“Sometimes the only way the good Lord can get into some hearts is to break them.”
(“Terkadang, satu-satunya cara agar Tuhan yang baik dapat masuk ke dalam hati adalah dengan mematahkannya.”) — Uskup Agung Fulton J. Sheen
1 Petrus 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
“Di dalam hidup, kita membuat banyak sekali kesalahan. Marilah kita belajar untuk mengakui kesalahan kita dan meminta pengampunan.” Paus Fransiskus
Betapa dahsyatnya kekuatan doa. Semoga kita tdk pernah kehilangan keberanian untuk berkata, 'Tuhan berilah aku damaiMu' ~ Paus Fransiskus
Seorang pemenang tdk pernah menyerah. Karena yg menyerah tdk pernah menang. Jatuh itu biasa, bangkit itu yang Luar Biasa!!!!
Bila aku rajin berdoa maka aku akan selalu dijaga dan dilindungi Allah dari mara bahaya.
Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri... Mat 6:34
Kalimat terakhir St. Bernadeth S: "Voyes comme’est simple, il suffit d’aimer - lihat bagaimana sederhana, smua yg kau lakukan tuk mencintai"
Kecilkan volume emosi kita dgn bersabar dan bersyukur.
Org yg kehilangan harta benda, kehilangan sedikit, Org yg kehilangan sahabat, kehilangan banyak, Org yg kehilangan iman, kehilangan segalanya
Berpuasa yang Kukehendaki ialah membagi-bagikan rotimu kepada orang lapar…
Orang tidak perlu kaya untuk bisa memberi. Selalu ada sesesuatu yang dapat kita berikan untuk memperkaya hidup orang lain, baik materi maupun rohani. Cinta selalu ingin memberi yang terbaik, bukan sisa.
Setiap hari, kt dipelihara oleh tangan Tuhan yg tak terlihat mata. Jgnlah km kuatir akan apapun, bahkan burung2 di udara pun Tuhan pelihara.
Serahkan kekhawatiranmu pada Tuhan, sebab Dia lah yang menjaga kamu.Biarkan Tuhan memimpinmu, Dia tau jalannya.
Hiburlah orang lain maka Tuhan sendirilah yang akan menghiburmu dengan cara yang mengagumkan dan menggetarkan jiwa ragamu.
Bapa yang Mahamurah, berkatilah rencana-rencanaku hari ini agar terwujud sesuai dengan kehendak-Mu. Amin. #Doa Pagi
Berbuat baiklah kepada orang-orang jahat karena merekalah yang paling banyak membutuhkan kebaikan.
Baik jika tanganmu kau lipat untuk berdoa, tetapi lebih baik lagi jika tanganmu kau buka untuk memberi.
Setiap kita memiliki KEKUATAN untuk membuat orang lain #BAHAGIA.. Mulailah dgn SAPAan hangat dan SENYUMan tulus.
Kunci Kebahagiaan tersimpan dalam jiwa yang BERSYUKUR.
Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan” (St. Padre Pio dari Pietrelcina)
Ipse Deus pacis sanctíficet vos per ómnia,
Semoga Allah, pembawa damai, menguduskan kamu sepenuh-penuhnya.
Glória in excélsis Deo, et in terra pax homínibus bonæ voluntátis
Kemuliaan kepada Allah di surga & damai di bumi kepada orang yg berkenan
Aku percaya Allahku tdk tidur, Allah melihat diriku scr menyeluruh kedlm hatiku.
Gangguan saat berdoa, hati yg kosong, tdk khusyuk & bosan, pernah dialami setiap orang.
Namun,kesetiaan yg gigih itu sudah merupakan doa.
.
Ave Maria, gratia plena = Salam Maria, penuh rahmat
BERBAGILAH karena sesaat ketika kita kehabisan maka Tuhan sendirilah yang akan memenuhi rumahmu dgn kelimpahan berkat-Nya.
"Fiat Mihi secundum verbum tuum."--"Jadilah padaku menurut perkataanmu." (Luk. 1:38)
Kai ho logos sarx egeneto
Kai eskennoosen en hemin.
Firman itu telah menjadi daging dan berkemah di antara kita(Yoh 1:14)
”Kehidupan adalah perjuangan yang tidak boleh kita hindari tapi harus kita menangkan” – St. Padre Pio
Ya Tuhan, bukalah hati dan mulutku untuk saling berbagi salam, yakni doa dan harapan yg baik bagi siapa pun yg ada bersama kami.
+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. ~Thomas A Kempis
Kadang karna alasan ksibukan kita lupa utk menyapa, tersenyum atau berhenti sjenak utk seorang sahabat.
"MEMÉNTO HOMO, QUIA PULVIS ES, ET IN PULVEREM REVERTÉRIS"
Ingatlah, hai manusia, engkau itu debu dan akan kembali menjadi debu"
Serviens Domino Cum Omni Humulitate (Aku Melayani Tuhan dengan Segala Kerendahan Hati)
"Adjutorium nostrum in nomine Domini, Qui fecit caelum et terram."
"Pertolongan kita dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi."
Jube, Dómine, benedícere
Sudilah kiranya Tuhan memberi berkat.
"Non nobis, non nobis, Domine Sed nomini tuo da gloriam"
"Bukan untuk kami, bukan untuk kami, Ya Tuhan, melainkan utk kemuliaan Nama-Mu"
Quod ore súmpsimus, Dómine, pura mente capiámus
Tuhan, semoga apa yang kami sambut dengan mulut, kami terima pula dengan hati yang suci
Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yg menganiaya kamu (Mat 5:44): KEMENANGAN TERBESAR ADALAH
KETIKA KITA BERHASIL MENGASIHI LAWAN
KEBAHAGIAAN itu bukanlah sesuatu yg kebetulan. Itu didapat lewat perjuangan, usaha, bahkan pengorbanan.
Membalas kebaikan dg kjahatan = tabiat Iblis; membalas kebaikan dg kebaikan = tabiat manusiawi; membalas kjahatan dg kebaikan = tabiat ilahi
"KASIH" : kita bisa melihat luka tanpa dendam; kepahitan tanpa amarah; kekecewaan tanpa geram, sakit tanpa byk rasa pahit. Jadilah berkat!!!
melawan kebencian dg kebencian sama dengan melipatgandakan kebencian, seperti gelap yang tidak bisa dilawan dg gelap, tetapi harus dg terang
Ada terlalu byk kebencian + terlalu sedikit belas kasihan: bersekutu jgn menggerutu, berkati jgn sakiti, pahami jgn hakimi. Jadilah berkat!!
MEMBALAS KEBAIKAN DENGAN KEBAIKAN ADALAH TINDAKAN TERPUJI
MEMBALAS KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN BERARTI SERUPA DGN KRISTUS. BERAT TAPI INDAH !
The heart grows hard when it does not love. Lord, give us a heart that knows how to love.
Give light to my eyes lest I fall asleep in death, lest my enemy say: I have overcome him.
Dear God, Thank You for LOVING ME unconditionally.
Kita harus mengingat Allah Bapa lebih sering daripada tarikan napas kita~St. Gregorius dari Nazianze, Uskup n Pujangga Gereja
Let the peoples recount the wisdom of the Saints, and let the Church proclaim their praise. Their names will live on and on.
Abraham : "Deus providebit", "God will provide", "Allah akan menyediakan".
Kebahagiaan sejati akan datang ketika kita mampu bertahan dalam penderitaan.
Ayo dong. Jangan jalan ditempat. Tuhan menciptakan kaki kita memhadap kedepan utk melangkah kedepan
There is no sin that God cannot pardon. All we need to do is ask for forgiveness.~ Pope Francis
Jesus intercedes for us each day. Let us pray: Lord, have mercy on me; intercede for me!
Kekecewaan adalah pupuk kehidupan dan air mata menyuburkan kehidupan.
Yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi milik-Ku.
SAAT kita mulai menyimpan kemarahan di dalam hati, waspadalah, karena dosa sudah mengintai di ambang pintu hati...
Tell among the nations his glory, and his wonders among all the peoples, for the Lord is great and highly to be praised.
"If there is no peace between us, it is because we have forgotten that we have each other" (Mother Theresa)
Forgiveness is More than Words
"If there is no peace between us, it is because we have forgotten that we have each other" (Mother Theresa)
If we are too attached to riches, we are not free. We are slaves.
Orang yg jujur, damai hatinya, tenang hidupnya. Saat ia melangkah kebenaran ada dalam dirinya.
Homo Homini SOCIUS: Manusia adalah SAHABAT bagi sesamanya.
Senin, 23 Februari 2015
IMAN DISERTAI PERBUATAN KASIH SEMAKIN HIDUP
(AKSI PUASA PEMBANGUNAN KAS 2015)
Permenungan dalam masa Prapaskah 2015 ini, umat Keuskupan Agung Semarang diajak untuk semakin memperdalam iman, sehingga bisa menjadi seseorang yang Cerdas, Tangguh dan Missioner seperti yang dicita-citakan selama ini. Iman kepada Kristus tidak cukup hanya dimengerti dan diungkapkan. Iman perlu diwujudkan dalam kehidupan. Apapun hal yang dilakukan dalam penggungkapan iman, namun kalau hanya terfokus pada perayaan, tidak akan banyak berarti. Iman akan semakin utuh ketika ditampakkan dalam kesaksian hidup. Di Alkitab disebutkan “Jika iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17).
Selama masa Prapaskah ini, kita sebagai umat beriman diharapkan semakin memperdalam pengetahuan iman kita, yang juga akan semakin memperdalam juga penghayatan dan cinta kita kepada Yesus sebagai pokok iman kita. Semakin kita mencintai Yesus, kitapun semakin rela untuk mengabdi kepadaNya dengan penuh keterlibatan hati.
Dalam hidup keseharian tidak jarang para anggota Gereja hidup membatasi diri dari realitas sekitarnya. Hidup dan bergaul hanya dengan sesama yang seiman, padahal anggota Gereja adalah bagian dari masyarakat. Gereja bukanlah sebuah realita yang terpisah dari masyarakat.Gaudium et Spes artikel 1 menyatakan bahwa “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga”. Maka tugas Gereja dalam dunia ini tidak terlepas dari keberadaannya dalam dunia yaitu mengusahakan “kesejahteraan bersama”. Tugas pelayanan Gereja tidak hanya terarah ke dalam, tetapi terarah kepada masyarakat luas.
Dalam Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus menegaskan bahwa mengevangelisasi adalah menjadikan Kerajaan Allah hadir di tengah dunia kita. Gerakan APP bukan hanya gerakan berpuasa/berpantang semata dan mengumpulkan uang namun haruslah menjadi gerakan pertobatan disertai dengan solidaritas kemanusiaan. APP diharapkan semakin membuat iman kita hidup dan terwujud secara konkret terutama bagi saudara kita yang lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Melalui APP kita diajak untuk semakin memuliakan Allah dengan menghargai manusia sebagai citra Allah agar manusia semakin sejahtera dan bermartabat. . Jadi gerakan APP bukan diakhiri dengan 'menepuk dada', melainkan justru dengan menyangkal diri dan merendahkan diri serendah-rendahnya (Lukas 9:23). Untuk itulah umat perlu diajak melakukan dan menghayati puasa sebagai tindakan menyangkal diri dan mengasihi orang lain.
Beriman harus beranikeluar dari dirinya sendiri dan komunitasnya. Iman bersifat missioner, menggerakkan oranguntuk bertindak dan terlibat dalam kehidupan. Semangat missioner Gereja ditegaskan oleh Paus Fransiskus “ Saya lebih suka Gereja yang memar,terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan. Bukan Gereja yang sehat dan sibuk dengan kenyamanannya sendiri.”
PESAN PRAPASKAH 2015 PAUS FRANSISKUS
Masa Prapaskah adalah masa pembaharuan bagi seluruh Gereja, bagi masing-masing jemaat dan setiap orang percaya. Terutama itu adalah "waktu rahmat" (2 Kor 6:2). Allah tidak meminta kita apa pun yang tidak lebih dulu Ia berikan sendiri kepada kita. "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yoh 4:19). Ia tidak jauh dari kita. Masing-masing orang memiliki sebuah tempat dalam hati-Nya. Ia mengenal kita dengan nama, Ia memperdulikan kita dan Ia mencari-cari kita setiap kali kita berpaling daripada-Nya. Ia tertarik pada kita masing-masing; kasih-Nya tidak memungkinkan-Nya acuh tak acuh terhadap apa yang terjadi pada kita. Biasanya, ketika kita sehat dan nyaman, kita lupa tentang orang lain (sesuatu yang tidak pernah dilakukan Allah Bapa): kita tidak peduli dengan masalah-masalah mereka, penderitaan-penderitaan mereka dan ketidakadilan-ketidakadilan yang mereka alami ... Hati kita menjadi dingin. Selama saya relatif sehat dan nyaman, saya tidak berpikir tentang orang-orang yang kurang mampu tersebut. Hari ini, sikap egoistis ketidakpedulian ini telah mengambil proporsi global, sampai-sampai kita bisa berbicara tentang globalisasi ketidakpedulian. Ini adalah sebuah masalah yang kita, sebagai orang-orang Kristiani, harus hadapi.
Ketika umat Allah bertobat kepada kasih-Nya, mereka menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terus ditimbulkan sejarah. Salah satu tantangan yang paling mendesak yang ingin saya sampaikan dalam Pesan ini justru adalah globalisasi ketidakpedulian.
Ketidakpedulian terhadap sesama dan terhadap Allah juga mewakili sebuah godaan nyata bagi kita orang-orang Kristiani. Setiap tahun selama Masa Prapaskah kita perlu mendengarkan sekali lagi suara para nabi yang menjerit dan mengganggu hati nurani kita.
Allah tidak acuh tak acuh terhadap dunia kita; Ia begitu mengasihinya sehingga Ia memberikan Putra-Nya untuk keselamatan kita. Dalam penjelmaan, dalam kehidupan duniawi, kematian, dan kebangkitan Putra Allah, pintu gerbang antara Allah dan manusia, antara surga dan bumi, terbuka sekali lahi bagi semua orang. Gereja seperti tangan membuka gerbang ini, berkat pemberitaan sabda Allahnya, perayaan sakramen-sakramennya dan kesaksian imannya yang bekerja melalui kasih (bdk. Gal 5:6). Tetapi dunia cenderung menarik diri ke dalam dirinya sendiri dan menutup pintu yang melaluinya Allah datang ke dalam dunia dan dunia datang kepada-Nya. Oleh karena itu tangan, yang adalah Gereja, tidak pernah terkejut jika ditolak, ditindas dan dilukai.
Maka, umat Allah memerlukan pembaharuan batin ini, jangan sampai kita menjadi acuh tak acuh dan menarik diri ke dalam diri kita sendiri. Untuk pembaharuan ini selanjutnya, saya ingin mengusulkan untuk refleksi kita tiga teks biblis.
1. "Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita" (1 Kor 12:26) - Gereja
Kasih Allah menerobos bahwa penarikan fatal ke dalam diri kita sendiri itu yang merupakan ketidakpedulian. Gereja menawarkan kita kasih Allah ini dengan pengajarannya dan terutama dengan kesaksiannya. Tetapi kita hanya bisa menjadi saksi apa yang kita sendiri alami. Orang-orang Kristiani adalah mereka yang membiarkan Allah memberi mereka pakaian dengan kebaikan dan belas kasih, dengan Kristus, sehingga menjadi, seperti Kristus, hamba-hamba Allah dan orang lain. Hal ini jelas terlihat dalam liturgi Kamis Putih, dengan ritual pembasuhan kakinya. Petrus tidak mau Yesus membasuh kakinya, tetapi ia menyadari bahwa Yesus tidak ingin menjadi hanya sebuah contoh bagaimana kita harus saling mencuci kaki. Hanya mereka yang telah lebih dahulu mengizinkan Yesus membasuh kaki mereka kemudian dapat menawarkan pelayanan ini kepada orang lain. Hanya mereka yang memiliki "bagian" dengan Dia (Yoh 13:8) dan dengan demikian dapat melayani orang lain.
Masa Prapaskah adalah waktu yang menguntungkan untuk membiarkan Kristus melayani kita sehingga kita pada gilirannya dapat menjadi semakin seperti Dia. Hal ini terjadi setiap kali kita mendengarkan sabda Allah dan menerima sakramen-sakramen, terutama Ekaristi. Di sana kita menjadi apa yang kita terima: Tubuh Kristus. Di dalam tubuh ini tidak ada ruang untuk ketidakpedulian yang begitu sering tampaknya dimiliki hati kita. Sebab barangsiapa milik Kristus, milik satu tubuh, dan di dalam Dia kita tidak bisa saling acuh tak acuh. "Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita" (1 Kor 12:26).
Gereja adalah communio sanctorum bukan hanya karena orang-orang kudusnya, tetapi juga karena ia adalah sebuah persekutuan dalam hal-hal kudus: kasih Allah dinyatakan kepada kita di dalam Kristus dan semua karunia-Nya. Di antara karunia-karunia tersebut ada juga tanggapan dari orang-orang yang membiarkan diri mereka tersentuh oleh kasih ini. Dalam persekutuan para kudus ini, dalam berbagi dalam hal-hal kudus ini, tidak seorang pun yang memiliki apa-apa sendiri saja, tetapi berbagi segalanya dengan orang lain. Dan karena kita dipersatukan dalam Allah, kita bisa melakukan sesuatu bagi mereka yang jauh, mereka yang kepadanya kita sendiri tidak pernah bisa capai, karena bersama mereka dan bagi mereka, kita meminta Allah agar kita semua sudi terbuka terhadap rencana keselamatan-Nya.
2. "Di mana adikmu?" (Kej 4:9) - Paroki-paroki dan Jemaat-jemaat
Semua yang telah kita katakan tentang Gereja universal kini harus diterapkan pada kehidupan paroki-paroki dan jemaat-jemaat kita. Apakah struktur gerejawi ini memungkinkan kita mengalami menjadi bagian dari satu tubuh? Tubuh yang menerima dan berbagi apa yang Allah ingin berikan? Tubuh yang mengakui dan peduli pada anggota-anggotanya yang paling lemah, paling miskin dan paling tidak penting? Atau apakah kita berlindung dalam kasih universal yang akan merangkul seluruh dunia, sementara gagal untuk melihat Lazarus duduk di depan pintu-pintu tertutup kita (Luk 16:19-31)?
Dalam rangka untuk menerima apa yang Allah berikan kepada kita dan untuk membuatnya berbuah melimpah, kita harus menekan melampaui batas-batas Gereja yang kelihatan dalam dua cara.
Pertama, dengan mempersatukan diri dalam doa bersama Gereja di surga. Doa-doa Gereja di bumi membangun sebuah persekutuan pelayanan dan kebaikan yang saling menguntungkan yang mencapai ke dalam pandangan Allah. Bersama dengan para kudus yang telah menemukan pemenuhan mereka di dalam Allah, kita menjadi bagian dari persekutuan yang di dalamnya ketidakpedulian ditaklukkan oleh kasih. Gereja di surga tidak berjaya karena ia telah berpaling pada penderitaan-penderitaan dunia dan bersukacita dalam semaraknya keterasingan. Sebaliknya, para kudus yang sudah sukacita merenungkan fakta bahwa, melalui kematian dan kebangkitan Yesus, mereka telah berjaya segera sesudahnya dan atas seluruh ketidakpedulian, kekerasan hati dan kebencian. Hingga kemenangan kasih ini menembus seluruh dunia, para kudus terus menyertai kita pada jalan perziarahan kita. Santa Teresia dari Lisieux, seorang pujangga Gereja, mengungkapkan keyakinannya bahwa sukacita di surga atas kemenangan kasih yang tersalib tetap tidak sempurna selama masih ada satu orang laki-laki atau perempuan di bumi yang menderita dan berteriak kesakitan: "Aku percaya sepenuhnya bahwa aku tidak akan tinggal diam di surga, keinginanku adalah terus berkarya bagi Gereja dan bagi jiwa-jiwa" (Surat 254, 14 Juli 1897).
Kita berbagi dalam pahala dan sukacita para kudus, bahkan ketika mereka berbagi dalam pergumulan kita dan kerinduan kita akan perdamaian dan rekonsiliasi. Sukacita mereka dalam kemenangan Kristus yang bangkit memberi kita kekuatan ketika kita berusaha untuk mengatasi ketidakpedulian dan kekerasan hati kita.
Kedua, setiap jemaat Kristiani dipanggil untuk pergi keluar dari dirinya sendiri dan untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat yang lebih besar yang ia adalah bagiannya, terutama dengan orang-orang miskin dan orang-orang yang jauh. Gereja bersifat misioner pada hakikatnya sesungguhnya; ia tidak tertutup pada dirinya sendiri tetapi diutus kepada setiap negara dan bangsa.
Misinya adalah untuk memberikan kesaksian yang sabar bagi Dia yang ingin menarik semua ciptaan dan setiap laki-laki dan perempuan kepada Bapa. Misinya adalah untuk membawa kepada semua orang kasih yang tidak bisa tinggal diam. Gereja mengikuti Yesus Kristus di sepanjang jalan yang mengarah kepada setiap laki-laki dan perempuan, hingga ke ujung bumi (Kis 1:8). Dalam setiap sesama kita, lalu, kita harus melihat seorang saudara atau saudari yang baginya Kristus telah wafat dan bangkit kembali. Apa yang kita sendiri telah terima, kita telah terima untuk mereka juga. Demikian pula, semua yang saudara dan saudari kita miliki adalah sebuah karunia bagi Gereja dan bagi seluruh umat manusia.
Saudara dan saudari saya yang terkasih, betapa saya ingin agar semua tempat-tempat tersebut di mana Gereja hadir, khususnya paroki-paroki kita dan jemaat-jemaat kita, bisa menjadi pulau rahmat di tengah-tengah lautan ketidakpedulian!
3. "Teguhkanlah hatimu!" (Yak 5:8) - Orang-orang Kristiani secara perorangan
Sebagai perorangan juga, kita telah tergoda oleh ketidakpedulian. Dibanjiri kabar berita dan gambar mengganggu penderitaan manusia, kita sering merasakan lengkapnya ketidakmampuan kita untuk membantu. Apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari terjebak dalam pilinan kesusahan dan ketidakberdayaan ini?
Pertama, kita bisa berdoa dalam persekutuan dengan Gereja di bumi dan di surga. Janganlah kita meremehkan kekuatan begitu banyak suara yang bersatu dalam doa! 24 jam bagi prakarsa Tuhan, yang saya harapkan akan dirayakan pada 13-14 Maret 2015 di seluruh Gereja, juga di tingkat keuskupan, yang dimaksudkan untuk menjadi sebuah tanda kebutuhan doa ini.
Kedua, kita dapat membantu dengan tindakan-tindakan amal, menjangkau baik yang dekat maupun yang jauh melalui banyak organisasi amal Gereja. Masa Prapaskah adalah waktu yang menguntungkan untuk menunjukkan keprihatinan untuk orang lain ini dengan tanda-tanda kecil dan nyata terhadap kepemilikan satu keluarga manusia.
Ketiga, penderitaan orang lain adalah panggilan untuk pertobatan, karena kebutuhan mereka mengingatkan saya pada ketidakpastian hidup saya sendiri dan ketergantungan saya pada Allah dan saudara dan saudariku. Jika kita dengan rendah hati memohon rahmat Allah dan menerima keterbatasan-keterbatasan kita sendiri, kita akan percaya pada kemungkinan tak terbatas yang kasih Tuhan ulurkan kepada kita. Kita juga akan dapat menahan godaan setan berpikir bahwa dengan usaha kita sendiri kita dapat menyelamatkan dunia dan diri kita sendiri.
Sebagai sebuah cara untuk mengatasi ketidakpedulian dan tuntutan-tuntutan untuk kecukupan diri, saya akan mengajak semua orang untuk menjalani Masa Prapaskah ini sebagai sebuah kesempatan untuk terlibat dalam apa yang disebut oleh Benediktus XVI sebuah formasi hati (bdk. Deus Caritas Est, 31). Hati yang penuh belas kasihan bukan berarti hati yang lemah. Siapa pun yang ingin bermurah hati harus memiliki hati yang kuat dan teguh, tertutup bagi si penggoda tetapi terbuka bagi Allah. Hati yang memungkinkan dirinya ditikam oleh Roh agar supaya membawa kasih di sepanjang jalan yang mengarah kepada saudara dan saudari kita. Dan, pada akhirnya, hati yang miskin, hati yang menyadari kemiskinannya sendiri dan memberikan dirinya secara cuma-cuma bagi orang lain.
Selama Masa Prapaskah ini, maka, saudara dan saudari, marilah kita semua memohon kepada Tuhan: "Fac cor nostrum secundum cor tuum" : Jadikanlah hati kami seperti hati-Mu (Litani Hati Kudus Yesus). Dengan jalan ini kita akan menerima hati yang teguh dan penuh belas kasihan, penuh perhatian dan murah hati, hati yang tidak tertutup, acuh tak acuh atau mangsa bagi globalisasi ketidakpedulian.
Ini adalah harapan saya yang penuh doa sehingga Masa Prapaskah ini akan membuktikan secara rohani berbuah bagi setiap orang percaya dan setiap jemaat gerejani. Saya meminta Anda semua untuk mendoakan saya. Semoga Tuhan memberkati Anda dan Bunda Maria menjaga Anda.
My Fav Quote: KETIKA …….aku takut MEMBERI, aku lupa, bahwa semua yang aku miliki adalah PEMBERIAN
Permenungan dalam masa Prapaskah 2015 ini, umat Keuskupan Agung Semarang diajak untuk semakin memperdalam iman, sehingga bisa menjadi seseorang yang Cerdas, Tangguh dan Missioner seperti yang dicita-citakan selama ini. Iman kepada Kristus tidak cukup hanya dimengerti dan diungkapkan. Iman perlu diwujudkan dalam kehidupan. Apapun hal yang dilakukan dalam penggungkapan iman, namun kalau hanya terfokus pada perayaan, tidak akan banyak berarti. Iman akan semakin utuh ketika ditampakkan dalam kesaksian hidup. Di Alkitab disebutkan “Jika iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17).
Selama masa Prapaskah ini, kita sebagai umat beriman diharapkan semakin memperdalam pengetahuan iman kita, yang juga akan semakin memperdalam juga penghayatan dan cinta kita kepada Yesus sebagai pokok iman kita. Semakin kita mencintai Yesus, kitapun semakin rela untuk mengabdi kepadaNya dengan penuh keterlibatan hati.
Dalam hidup keseharian tidak jarang para anggota Gereja hidup membatasi diri dari realitas sekitarnya. Hidup dan bergaul hanya dengan sesama yang seiman, padahal anggota Gereja adalah bagian dari masyarakat. Gereja bukanlah sebuah realita yang terpisah dari masyarakat.Gaudium et Spes artikel 1 menyatakan bahwa “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga”. Maka tugas Gereja dalam dunia ini tidak terlepas dari keberadaannya dalam dunia yaitu mengusahakan “kesejahteraan bersama”. Tugas pelayanan Gereja tidak hanya terarah ke dalam, tetapi terarah kepada masyarakat luas.
Dalam Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus menegaskan bahwa mengevangelisasi adalah menjadikan Kerajaan Allah hadir di tengah dunia kita. Gerakan APP bukan hanya gerakan berpuasa/berpantang semata dan mengumpulkan uang namun haruslah menjadi gerakan pertobatan disertai dengan solidaritas kemanusiaan. APP diharapkan semakin membuat iman kita hidup dan terwujud secara konkret terutama bagi saudara kita yang lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Melalui APP kita diajak untuk semakin memuliakan Allah dengan menghargai manusia sebagai citra Allah agar manusia semakin sejahtera dan bermartabat. . Jadi gerakan APP bukan diakhiri dengan 'menepuk dada', melainkan justru dengan menyangkal diri dan merendahkan diri serendah-rendahnya (Lukas 9:23). Untuk itulah umat perlu diajak melakukan dan menghayati puasa sebagai tindakan menyangkal diri dan mengasihi orang lain.
Beriman harus beranikeluar dari dirinya sendiri dan komunitasnya. Iman bersifat missioner, menggerakkan oranguntuk bertindak dan terlibat dalam kehidupan. Semangat missioner Gereja ditegaskan oleh Paus Fransiskus “ Saya lebih suka Gereja yang memar,terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan. Bukan Gereja yang sehat dan sibuk dengan kenyamanannya sendiri.”
PESAN PRAPASKAH 2015 PAUS FRANSISKUS
Masa Prapaskah adalah masa pembaharuan bagi seluruh Gereja, bagi masing-masing jemaat dan setiap orang percaya. Terutama itu adalah "waktu rahmat" (2 Kor 6:2). Allah tidak meminta kita apa pun yang tidak lebih dulu Ia berikan sendiri kepada kita. "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yoh 4:19). Ia tidak jauh dari kita. Masing-masing orang memiliki sebuah tempat dalam hati-Nya. Ia mengenal kita dengan nama, Ia memperdulikan kita dan Ia mencari-cari kita setiap kali kita berpaling daripada-Nya. Ia tertarik pada kita masing-masing; kasih-Nya tidak memungkinkan-Nya acuh tak acuh terhadap apa yang terjadi pada kita. Biasanya, ketika kita sehat dan nyaman, kita lupa tentang orang lain (sesuatu yang tidak pernah dilakukan Allah Bapa): kita tidak peduli dengan masalah-masalah mereka, penderitaan-penderitaan mereka dan ketidakadilan-ketidakadilan yang mereka alami ... Hati kita menjadi dingin. Selama saya relatif sehat dan nyaman, saya tidak berpikir tentang orang-orang yang kurang mampu tersebut. Hari ini, sikap egoistis ketidakpedulian ini telah mengambil proporsi global, sampai-sampai kita bisa berbicara tentang globalisasi ketidakpedulian. Ini adalah sebuah masalah yang kita, sebagai orang-orang Kristiani, harus hadapi.
Ketika umat Allah bertobat kepada kasih-Nya, mereka menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terus ditimbulkan sejarah. Salah satu tantangan yang paling mendesak yang ingin saya sampaikan dalam Pesan ini justru adalah globalisasi ketidakpedulian.
Ketidakpedulian terhadap sesama dan terhadap Allah juga mewakili sebuah godaan nyata bagi kita orang-orang Kristiani. Setiap tahun selama Masa Prapaskah kita perlu mendengarkan sekali lagi suara para nabi yang menjerit dan mengganggu hati nurani kita.
Allah tidak acuh tak acuh terhadap dunia kita; Ia begitu mengasihinya sehingga Ia memberikan Putra-Nya untuk keselamatan kita. Dalam penjelmaan, dalam kehidupan duniawi, kematian, dan kebangkitan Putra Allah, pintu gerbang antara Allah dan manusia, antara surga dan bumi, terbuka sekali lahi bagi semua orang. Gereja seperti tangan membuka gerbang ini, berkat pemberitaan sabda Allahnya, perayaan sakramen-sakramennya dan kesaksian imannya yang bekerja melalui kasih (bdk. Gal 5:6). Tetapi dunia cenderung menarik diri ke dalam dirinya sendiri dan menutup pintu yang melaluinya Allah datang ke dalam dunia dan dunia datang kepada-Nya. Oleh karena itu tangan, yang adalah Gereja, tidak pernah terkejut jika ditolak, ditindas dan dilukai.
Maka, umat Allah memerlukan pembaharuan batin ini, jangan sampai kita menjadi acuh tak acuh dan menarik diri ke dalam diri kita sendiri. Untuk pembaharuan ini selanjutnya, saya ingin mengusulkan untuk refleksi kita tiga teks biblis.
1. "Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita" (1 Kor 12:26) - Gereja
Kasih Allah menerobos bahwa penarikan fatal ke dalam diri kita sendiri itu yang merupakan ketidakpedulian. Gereja menawarkan kita kasih Allah ini dengan pengajarannya dan terutama dengan kesaksiannya. Tetapi kita hanya bisa menjadi saksi apa yang kita sendiri alami. Orang-orang Kristiani adalah mereka yang membiarkan Allah memberi mereka pakaian dengan kebaikan dan belas kasih, dengan Kristus, sehingga menjadi, seperti Kristus, hamba-hamba Allah dan orang lain. Hal ini jelas terlihat dalam liturgi Kamis Putih, dengan ritual pembasuhan kakinya. Petrus tidak mau Yesus membasuh kakinya, tetapi ia menyadari bahwa Yesus tidak ingin menjadi hanya sebuah contoh bagaimana kita harus saling mencuci kaki. Hanya mereka yang telah lebih dahulu mengizinkan Yesus membasuh kaki mereka kemudian dapat menawarkan pelayanan ini kepada orang lain. Hanya mereka yang memiliki "bagian" dengan Dia (Yoh 13:8) dan dengan demikian dapat melayani orang lain.
Masa Prapaskah adalah waktu yang menguntungkan untuk membiarkan Kristus melayani kita sehingga kita pada gilirannya dapat menjadi semakin seperti Dia. Hal ini terjadi setiap kali kita mendengarkan sabda Allah dan menerima sakramen-sakramen, terutama Ekaristi. Di sana kita menjadi apa yang kita terima: Tubuh Kristus. Di dalam tubuh ini tidak ada ruang untuk ketidakpedulian yang begitu sering tampaknya dimiliki hati kita. Sebab barangsiapa milik Kristus, milik satu tubuh, dan di dalam Dia kita tidak bisa saling acuh tak acuh. "Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita" (1 Kor 12:26).
Gereja adalah communio sanctorum bukan hanya karena orang-orang kudusnya, tetapi juga karena ia adalah sebuah persekutuan dalam hal-hal kudus: kasih Allah dinyatakan kepada kita di dalam Kristus dan semua karunia-Nya. Di antara karunia-karunia tersebut ada juga tanggapan dari orang-orang yang membiarkan diri mereka tersentuh oleh kasih ini. Dalam persekutuan para kudus ini, dalam berbagi dalam hal-hal kudus ini, tidak seorang pun yang memiliki apa-apa sendiri saja, tetapi berbagi segalanya dengan orang lain. Dan karena kita dipersatukan dalam Allah, kita bisa melakukan sesuatu bagi mereka yang jauh, mereka yang kepadanya kita sendiri tidak pernah bisa capai, karena bersama mereka dan bagi mereka, kita meminta Allah agar kita semua sudi terbuka terhadap rencana keselamatan-Nya.
2. "Di mana adikmu?" (Kej 4:9) - Paroki-paroki dan Jemaat-jemaat
Semua yang telah kita katakan tentang Gereja universal kini harus diterapkan pada kehidupan paroki-paroki dan jemaat-jemaat kita. Apakah struktur gerejawi ini memungkinkan kita mengalami menjadi bagian dari satu tubuh? Tubuh yang menerima dan berbagi apa yang Allah ingin berikan? Tubuh yang mengakui dan peduli pada anggota-anggotanya yang paling lemah, paling miskin dan paling tidak penting? Atau apakah kita berlindung dalam kasih universal yang akan merangkul seluruh dunia, sementara gagal untuk melihat Lazarus duduk di depan pintu-pintu tertutup kita (Luk 16:19-31)?
Dalam rangka untuk menerima apa yang Allah berikan kepada kita dan untuk membuatnya berbuah melimpah, kita harus menekan melampaui batas-batas Gereja yang kelihatan dalam dua cara.
Pertama, dengan mempersatukan diri dalam doa bersama Gereja di surga. Doa-doa Gereja di bumi membangun sebuah persekutuan pelayanan dan kebaikan yang saling menguntungkan yang mencapai ke dalam pandangan Allah. Bersama dengan para kudus yang telah menemukan pemenuhan mereka di dalam Allah, kita menjadi bagian dari persekutuan yang di dalamnya ketidakpedulian ditaklukkan oleh kasih. Gereja di surga tidak berjaya karena ia telah berpaling pada penderitaan-penderitaan dunia dan bersukacita dalam semaraknya keterasingan. Sebaliknya, para kudus yang sudah sukacita merenungkan fakta bahwa, melalui kematian dan kebangkitan Yesus, mereka telah berjaya segera sesudahnya dan atas seluruh ketidakpedulian, kekerasan hati dan kebencian. Hingga kemenangan kasih ini menembus seluruh dunia, para kudus terus menyertai kita pada jalan perziarahan kita. Santa Teresia dari Lisieux, seorang pujangga Gereja, mengungkapkan keyakinannya bahwa sukacita di surga atas kemenangan kasih yang tersalib tetap tidak sempurna selama masih ada satu orang laki-laki atau perempuan di bumi yang menderita dan berteriak kesakitan: "Aku percaya sepenuhnya bahwa aku tidak akan tinggal diam di surga, keinginanku adalah terus berkarya bagi Gereja dan bagi jiwa-jiwa" (Surat 254, 14 Juli 1897).
Kita berbagi dalam pahala dan sukacita para kudus, bahkan ketika mereka berbagi dalam pergumulan kita dan kerinduan kita akan perdamaian dan rekonsiliasi. Sukacita mereka dalam kemenangan Kristus yang bangkit memberi kita kekuatan ketika kita berusaha untuk mengatasi ketidakpedulian dan kekerasan hati kita.
Kedua, setiap jemaat Kristiani dipanggil untuk pergi keluar dari dirinya sendiri dan untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat yang lebih besar yang ia adalah bagiannya, terutama dengan orang-orang miskin dan orang-orang yang jauh. Gereja bersifat misioner pada hakikatnya sesungguhnya; ia tidak tertutup pada dirinya sendiri tetapi diutus kepada setiap negara dan bangsa.
Misinya adalah untuk memberikan kesaksian yang sabar bagi Dia yang ingin menarik semua ciptaan dan setiap laki-laki dan perempuan kepada Bapa. Misinya adalah untuk membawa kepada semua orang kasih yang tidak bisa tinggal diam. Gereja mengikuti Yesus Kristus di sepanjang jalan yang mengarah kepada setiap laki-laki dan perempuan, hingga ke ujung bumi (Kis 1:8). Dalam setiap sesama kita, lalu, kita harus melihat seorang saudara atau saudari yang baginya Kristus telah wafat dan bangkit kembali. Apa yang kita sendiri telah terima, kita telah terima untuk mereka juga. Demikian pula, semua yang saudara dan saudari kita miliki adalah sebuah karunia bagi Gereja dan bagi seluruh umat manusia.
Saudara dan saudari saya yang terkasih, betapa saya ingin agar semua tempat-tempat tersebut di mana Gereja hadir, khususnya paroki-paroki kita dan jemaat-jemaat kita, bisa menjadi pulau rahmat di tengah-tengah lautan ketidakpedulian!
3. "Teguhkanlah hatimu!" (Yak 5:8) - Orang-orang Kristiani secara perorangan
Sebagai perorangan juga, kita telah tergoda oleh ketidakpedulian. Dibanjiri kabar berita dan gambar mengganggu penderitaan manusia, kita sering merasakan lengkapnya ketidakmampuan kita untuk membantu. Apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari terjebak dalam pilinan kesusahan dan ketidakberdayaan ini?
Pertama, kita bisa berdoa dalam persekutuan dengan Gereja di bumi dan di surga. Janganlah kita meremehkan kekuatan begitu banyak suara yang bersatu dalam doa! 24 jam bagi prakarsa Tuhan, yang saya harapkan akan dirayakan pada 13-14 Maret 2015 di seluruh Gereja, juga di tingkat keuskupan, yang dimaksudkan untuk menjadi sebuah tanda kebutuhan doa ini.
Kedua, kita dapat membantu dengan tindakan-tindakan amal, menjangkau baik yang dekat maupun yang jauh melalui banyak organisasi amal Gereja. Masa Prapaskah adalah waktu yang menguntungkan untuk menunjukkan keprihatinan untuk orang lain ini dengan tanda-tanda kecil dan nyata terhadap kepemilikan satu keluarga manusia.
Ketiga, penderitaan orang lain adalah panggilan untuk pertobatan, karena kebutuhan mereka mengingatkan saya pada ketidakpastian hidup saya sendiri dan ketergantungan saya pada Allah dan saudara dan saudariku. Jika kita dengan rendah hati memohon rahmat Allah dan menerima keterbatasan-keterbatasan kita sendiri, kita akan percaya pada kemungkinan tak terbatas yang kasih Tuhan ulurkan kepada kita. Kita juga akan dapat menahan godaan setan berpikir bahwa dengan usaha kita sendiri kita dapat menyelamatkan dunia dan diri kita sendiri.
Sebagai sebuah cara untuk mengatasi ketidakpedulian dan tuntutan-tuntutan untuk kecukupan diri, saya akan mengajak semua orang untuk menjalani Masa Prapaskah ini sebagai sebuah kesempatan untuk terlibat dalam apa yang disebut oleh Benediktus XVI sebuah formasi hati (bdk. Deus Caritas Est, 31). Hati yang penuh belas kasihan bukan berarti hati yang lemah. Siapa pun yang ingin bermurah hati harus memiliki hati yang kuat dan teguh, tertutup bagi si penggoda tetapi terbuka bagi Allah. Hati yang memungkinkan dirinya ditikam oleh Roh agar supaya membawa kasih di sepanjang jalan yang mengarah kepada saudara dan saudari kita. Dan, pada akhirnya, hati yang miskin, hati yang menyadari kemiskinannya sendiri dan memberikan dirinya secara cuma-cuma bagi orang lain.
Selama Masa Prapaskah ini, maka, saudara dan saudari, marilah kita semua memohon kepada Tuhan: "Fac cor nostrum secundum cor tuum" : Jadikanlah hati kami seperti hati-Mu (Litani Hati Kudus Yesus). Dengan jalan ini kita akan menerima hati yang teguh dan penuh belas kasihan, penuh perhatian dan murah hati, hati yang tidak tertutup, acuh tak acuh atau mangsa bagi globalisasi ketidakpedulian.
Ini adalah harapan saya yang penuh doa sehingga Masa Prapaskah ini akan membuktikan secara rohani berbuah bagi setiap orang percaya dan setiap jemaat gerejani. Saya meminta Anda semua untuk mendoakan saya. Semoga Tuhan memberkati Anda dan Bunda Maria menjaga Anda.
My Fav Quote: KETIKA …….aku takut MEMBERI, aku lupa, bahwa semua yang aku miliki adalah PEMBERIAN
Langganan:
Postingan (Atom)













