Selasa, 04 Agustus 2015

4 Agustus

Santo Yohanes Maria Vianney

(Santo Pelindung Para Imam)


Santo  Yohanes Maria Vianney termasyhur karena mukjizat-mukjizatnya. Tak terhitung banyaknya yang memberi kesaksian bahwa Santo  Yohanes Maria Vianney dianugerahi karunia yang luar biasa dapat membaca jiwa-jiwa, membedakan roh, dan nubuat.

Petunjuk dan nasehat yang ia berikan biasanya singkat saja, tetapi mengandung daya kuasa dan pemahaman mendalam akan jiwa. Kesahajaannya menggerakkan hati banyak orang. Sekedar doa singkat, sepatah kata, atau sentuhan tangannya sudahlah cukup untuk mengadakan penyembuhan-penyembuhan ajaib. Walau demikian, yang terpenting baginya adalah penyembuhan jiwa. Dan ia tidak suka perhatian ataupun pujian yang diberikan orang kepadanya.

Mulanya ia dianggap remeh karena kelambanannya dan kebodohannya. Setelah ditabhiskan menjadi imam, ia tidak diperkenankan uskup melayani sakramen pengakuan dosa karena dianggap tidak mampu memberi bimbingan rohani. Setelah beberapa, ia ditempatkan di paroki Ars, sebuah paroki yang terpencil, dan tak terurus. Di paroki ini Yohanes Maria Vianney mengabdikan dirinya dan menjadikan desa Ars sebuah tempat ziarah bagi umat di segala penjuru.

JEAN Baptist Marie Vianney lahir di Dardilly, 8 km dari Lyon, di Perancis Selatan, pada tanggal 8 Mei  1786. Ia lahir sebagai anak keempat dari pasangan Mathieu Vianney dan Marie Beluse, sebuah keluarga pedesaan yang bersahaja.  Ketika Jean (dalam bahasa Indonesia disebut Yohanes) masih bayi, kata pertama yang keluar dari bibirnya adalah “Yesus” dan “Maria”. Gerakan tangan pertamanya adalah gerakan membuat tanda salib, yang diajarkan sang ibu kepadanya.

Pada umur 20 tahun, ayahnya dengan berat hati mengizinkan dia masuk Seminari di desa tetangganya, Ecully.  Hal ini bukan karena ayahnya tidak mengijinkan dia menjadi imam tetapi semata-mata karena kelambanan dan kebodohannya tetapi juga karena  alasan ekonomi.

Pendidikannya sempat tertunda karena kewajiban masuk militer yang berlaku di Prancis pada masa itu. Baru pada tahun 1812, ia melanjutkan lagi studinya.  Ia mengalami kesulitan besar sepanjang masa studinya di Seminari. Hampir semua mata pelajaran, terutama bahasa Latin, sangat sulit dipahaminya. Namun ia tidak putus asa.

Ia rajin berziarah ke Louveser untuk berdoa dengan perantaraan Santo Fransiskus Regis agar bisa terbantu dalam mempelajari semua bidang studi. Berkat doa-doanya, ia berangsur-angsur mengalami kemajuan hingga menamatkan pendidikan Seminari Menengah Verriores dan masuk Seminari Tinggi. Di jenjang Seminari Tinggi, ia harus berjuang lebih keras lagi agar lolos dari kegagalan. Meskipun begitu ia terus menerus harus mengulangi setiap ujian. Pemimpin seminari sangat meragukan dia, namun mereka pun tidak bisa mengeluarkan dia karena kehidupan rohaninya sangat baik. Ia seorang calon imam yang saleh. Akhirnya Yohanes pun dianggap layak dan ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1815.

Pastor Vianney dalam kerendahan hatinya, pernah menyatakan dua prinsip yang sebaiknya menjadi  panduan seorang imam: (1) jangan pernah beranggapan bahwa tidak ada hasil berarti yang telah dicapai di paroki, betapapun nampaknya segala upaya yang telah dijalankan bertahun-tahun belum menunjukkan hasil yang diharapkan, dan (2) para imam jangan pernah beranggapan bahwa mereka telah melakukan usaha yang cukup, betapapun berartinya hasil yang telah berhasil mereka capai.

Pastor Jean mempraktekkan hidup pastoralnya dengan penuh kesalehan dan mati raga. Sehari-hari, Pastor Jean hanya makan sedikit sekali, dan semua penghasilannya yang amat minim diberikannya seluruhnya untuk orang miskin.   Baju-baju yang diberikan khusus untuknya, juga diberikannya kepada orang miskin.  Praktis ia tidak memiliki apapun kecuali pakaian yang menempel di badannya.  

Pastor yang baik

Vikaris jendral  mengirimkan Pastor Vianney ke paroki kecil itu sambil berpesan, “Sahabatku, engkau akan bertugas di sebuah paroki kecil di mana sangat sedikit kasih Tuhan bisa dirasakan di sana. Engkau akan membangkitkan lagi api kasih Allah di sana!”
Dengan berkata sedemikian, Sang Vikjen sama sekali tidak menyangka bahwa dalam beberapa dekade, desa kecil Ars akan berkembang begitu rupa bagaikan sebuah jantung yang berdenyut penuh cinta kasih Allah, menyebarkan kehangatannya ke seluruh negeri.

Tanggal 9 Februari 1818, seorang imam muda dengan penuh semangat berjalan sepanjang suatu jalanan sempit yang menghantarnya ke sebuah desa bernama Ars di Perancis Selatan. Ars akan menjadi parokinya, dan ia akan menjadi imamnya. Ketika hampir tiba, ia berlutut untuk berdoa, dan sementara ia berdoa, suatu pikiran yang aneh terlintas di benaknya, “Paroki ini tidak akan cukup menampung banyaknya orang yang akan berkunjung ke sini.”

Sungguh, suatu nubuat yang aneh. Tetapi, mengapakah orang hendak datang ke Ars? Pada waktu itu Ars adalah suatu daerah yang kumuh: 40 rumah dari tanah liat tersebar di suatu lembah, di mana suatu aliran sungai kecil mengalir perlahan. Gereja sangat payah keadaannya dengan sebuah pekuburan tak terawat di belakangnya. Penduduk di sana hanyalah para petani biasa yang acuh tak acuh terhadap iman Katolik, dan menghabiskan waktu luang mereka dengan minum-minum dan bergosip. Walau demikian, Ars akan segera menjadi terkenal, sebab Tuhan telah mengirimkan rahmat-Nya dengan mengutus imam muda ini. Ketika Pastor Jean Baptist Vianney memasuki paroki Ars , Misa harian hanya dihadiri dua atau tiga wanita tua. Kaum pria tidak hadir dalam Misa hari Minggu, apalagi doa harian (Vespers), walau pada saat yang sama, cafe-cafe di desa itu selalu penuh pengunjung.

Karena umat tidak datang kepadanya, dialah yang berinisiatif datang berkunjung ke rumah mereka. Ia tidak puas hanya dengan satu kali kunjungan formal, namun ia mengunjungi umatnya secara berkala, sesuai dengan berbagai kebutuhan spiritual yang ia lihat pada diri mereka. Ia biasa berkunjung saat sebuah keluarga tengah makan siang bersama. Ia akan masuk ke ruang keluarga sambil mengobrol dengan sikap ramah dan bersahabat.

Umat segera menyadari bahwa Pastor Jean adalah bagian dari diri mereka.  Kita tentu masih ingat kelemahan Pastor Vianney berhubungan dengan memorinya, yang telah sempat mempersulit perjalanan studinya hingga nyaris membuahkan kegagalan. Kelemahan ini juga mempersulitnya saat ia sedang menyiapkan kotbah. Banyak malam ia tidak tidur dengan cukup, demi mempersiapkan homili yang baik bagi umatnya. Namun, berkat pertolongan Yang Ilahi, kelemahan itu tidak menjadi penghalang baginya. Sehingga walau ia tidak dikaruniai bakat alam untuk berpidato di depan banyak orang, ia bisa berbicara dengan lancar, serius dan meyakinkan. Bertahun-tahun sesudah Ars menjadi pusat peziarahan umat dari seluruh Perancis, kadang mencapai 20.000 orang per tahunnya, Pastor Jean senantiasa mampu memberikan kotbah harian dari altar tanpa suatu persiapan khusus dan tanpa menimbulkan peristiwa yang memalukan sebagaimana yang ia alami di awal karirnya sebagai imam.

Dengan bantuan umat parokinya, Jean berhasil membangun dua kapel baru yang melengkapi bangunan gereja utama. Salah satu kapel itu didedikasikan kepada St. Filomena, seorang remaja putri yang menjadi martir, yang relikwinya disimpan di Roma di awal abad kesembilan belas. Kapel lainnya dipersembahkan kepada St. Yohanes Pembaptis, dan di dalamnya terletak ruang pengakuan dosa yang digawangi Pastor Jean,  yang dikenal dengan sebutan “Bangku Belas Kasihan”, dari Yang Kuasa, di mana ribuan jiwa mengalami rekonsiliasi kembali dengan Sang Penciptanya, karena pelayanan dan nasehat yang penuh kuasa dan cinta ilahi dari Pastor Jean Vianney.

Ketika seorang rekan imam berkeluh kesah padanya sambil mengatakan bahwa ia tidak merasa berhasil dalam pelayanan di parokinya, walau ia merasa telah melakukan segala cara untuk membangkitkan umat di parokinya, Romo Vianney bertanya padanya, “Sungguhkah engkau sudah melakukan segala yang mungkin dengan seluruh kekuatanmu?  Apakah engkau berpuasa dan beramal? Apakah engkau berdoa?”

Kemurahan hati Pastor Vianney nyaris tak terbatas. Makanan, pakaian, dan pasokan kebutuhan sehari-hari lainnya yang diberikan dengan murah hati oleh bangsawan Ars untuknya, segera berpindah tangan ke orang-orang miskin. Ia hanya menyimpan sangat sedikit untuk dirinya, sekedar cukup supaya ia tidak kelaparan. Bahkan yang sudah sedikit itu pun sering ia berikan juga, jika ada orang miskin yang datang untuk meminta makanan. Pastor Jean selalu berusaha agar hidup mati raga dan penyangkalan dirinya itu tidak diketahui oleh publik.
Suatu hari seorang pengemis dijumpainya di jalan, pengemis itu tak beralas kaki sehingga kakinya luka-luka. Pastor Jean segera menyerahkan sepatu dan kaus kakinya sendiri kepada pengemis itu, kemudian ia pulang ke rumah dengan kaki telanjang. Ia mempersembahkan mati raganya untuk kesejahteraan umatnya, dan meningkatkan kebiasaannya itu menjelang Paskah, dan kapanpun itu jika dapat menyentuh hati para pendosa yang keras.

Perkembangan spiritual yang pesat yang terjadi pada paroki di Ars lama kelamaan didengar oleh seluruh negeri. Imam-imam dari paroki lain memohon bantuannya memberi kotbah dan memberikan Sakramen Pengakuan Dosa. Pastor Vianney tidak pernah menolak permohonan bantuan ini, sehingga dalam dua tahun, ia menjadi rasul Kristus yang sangat dikenal di lingkungan katedral. Begitu suksesnya pekerjaan spiritualnya sehingga orang tidak lagi menunggu dia datang lagi mengunjungi paroki mereka, tetapi mereka sendiri yang datang langsung ke Ars. Segera jalan-jalan desa Ars dipenuhi para pejalan kaki dan kendaraan yang membawa sejumlah besar pengunjung, dan peziarahan itu terus meningkat seiring mulai tersiarnya berbagai kabar mengenai mukjizat-mukjizat yang terjadi di Ars.

“Rumah Penyelenggaraan Ilahi” dan berbagai cobaan

Di tahun 1825, tujuh tahun setelah Pastor Vianney ditunjuk menjadi pastor paroki Ars, ia berkesempatan mewujudkan cita-citanya sejak lama. Seorang donatur menyumbangkan sejumlah besar uang, yang segera dipakainya untuk membeli sebuah rumah yang kemudian dikenal dengan nama “House of Providence  (Rumah Penyelenggaraan Ilahi). Di  rumah itu, dikumpulkannya semua orang miskin yang terabaikan, yang tak punya rumah, dan anak-anak yatim piatu di Ars.  Mereka dirawat dan dicukupi segala kebutuhan fisik dan spiritualnya dalam satu atap.  Dua wanita dari umat paroki ditunjuknya menjadi kepala pengelola rumah itu. Pastor Vianney juga terjun sendiri untuk memberikan katekisasi kepada mereka.  Umat paroki di Ars lambat laun terlibat pula dalam mendukung kegiatan pengajaran tersebut. Rumah ini dikelola Pastor Vianney selama dua puluh lima tahun.

 Kebutuhan finansial rumah dicukupi oleh dana yang disumbangkan para donatur kepadanya, dan sering terjadi bahwa sumbangan dana tiba secara tak terduga, tepat pada saat rumah itu sedang membutuhkan dana yang mendesak. Pada suatu hari tak ada lagi tepung yang tersisa untuk membuat roti dan tak ada lagi cukup uang untuk membeli roti. Semua orang yang didatangi Pastor Vianney menyatakan tak sanggup membantu. Belum pernah Pastor Jean merasa benar-benar ditinggalkan seperti saat itu.

Kemudian ia teringat akan St. Francis Regis dan memutuskan untuk mencari pertolongan dari Surga. Ia membawa relikwi santo Francis ke ruang penyimpanan makanan, lalu menutupinya dengan remah-remah tepung gandum yang tersisa. Keesokan harinya para pengelola rumah itu mengingatkan dia bahwa tak ada lagi tersisa makanan untuk dimakan. Pastor Vianney menangis dan mengatakan bahwa mereka mungkin harus membiarkan anak-anak yang miskin itu pergi. Bagaimanapun, ia memutuskan pergi ke ruang penyimpanan bersama seorang anak buahnya dan dengan kecemasan yang besar membuka pintunya, dan saat itu dilihatnya ruang penyimpanan yang tadinya kosong itu ternyata telah penuh dengan gandum.

Dalam peristiwa semacam itu kekudusan Pastor Vianney menampakkan dirinya. Bukannya menyambut mukjizat publik dengan kegembiraan, ia justru merasa kebalikannya, merasa sangat malu, karena ia telah merasa nyaris putus asa pada awalnya. Ia segera mengatakan kepada anak-anak, “Lihatlah anak-anak terkasih, saya telah sempat tidak mempercayai Tuhan yang begitu baik. Saya telah hampir meminta kalian semua pergi, dan untuk semua ini Dia telah menghukum saya.”
Berita mukjizat penambahan persediaan makanan itu segera tersebar. Seluruh warga paroki mengunjungi ruang penyimpanan itu dan setiap orang merasa yakin dengan apa yang mereka lihat. Uskup Devie dari Belley menyelidiki peristiwa itu secara pribadi dan menemukan kenyataan seperti yang didengarnya.

Pada bulan November 1847, Pastor Vianney mengalami cobaan lagi. “Rumah Penyelenggaraan Ilahi” yang didirikannya untuk para miskin dan anak-anak tak beribu bapa, diputuskan untuk diambil dari pengelolaannya, karena dianggap bukan merupakan institusi sekolah atau rumah sakit, dan dikelola oleh awam. Dengan sedih hati, Pastor Vianney menyerahkan pengelolaannya kepada Suster-suster St. Yusuf dari Bourg, dan rumah itu diubah menjadi institusi “Sekolah Gratis bagi Para Gadis”. Namun peristiwa ini menjadi titik balik rencana Tuhan yang agung baginya, karena sejak itu seluruh kekuatan fisik dan pikirannya semata didedikasikan kepada usaha pertobatan para pendosa, melalui sakramen pengakuan yang diberikannya kepada umat yang berkunjung ke Ars, yang kian hari kian banyak jumlahnya.

Dalam kurun waktu sesudahnya, Pastor Vianney telah beberapa kali berniat untuk mengundurkan diri dari tugas-tugas imamat yang diembannya di Ars, ia ingin menyepi di sebuah biara untuk menghabiskan sisa hidup miskinnya di hadapan Allah. Tetapi gelombang umat yang memprotes rencananya itu akhirnya membuat Pastor Jean membatalkan keinginannya

Peziarahan ke Ars

Sepanjang tahun di antara tahun  1825 dan 1830, gelombang peziarahan yang besar terjadi di Ars. Banyak sekali umat  yang datang ingin bertemu dan berkonsultasi serta mengakukan dosa dosa mereka kepada Pastor Jean Vianney.  Begitu banyaknya jumlah orang yang datang sehingga akomodasi perjalanan yang meningkat pesat memerlukan pengaturan khusus di antara Ars dan desa-desa lain di sekitarnya.

Para peziarah berdatangan dari setiap propinsi di Perancis, sebagian datang pula dari Belgia dan Inggris, sebagian lagi dari Amerika. Ketenaran Pastor Vianney menyebar dari mulut ke mulut, terutama dari mereka yang telah mendapat pengalaman pribadi di bawah bimbingan Pastor Vianney.

Dengan perasaan kagum yang makin meningkat, peziarah yang baru datang menyaksikan bagaimana pastor yang rendah hati itu memenangkan jiwa-jiwa. Setiap hari di sepanjang lorong bangku gereja, dua lajur manusia, berjumlah tak kurang dari enam puluh hingga seratus orang, menanti dengan sabar giliran mereka untuk masuk ke dalam sakristi kecil untuk mengakukan dosa mereka kepada Pastor Vianney. Jika ditanya sejak jam berapa mereka sudah antri di sana, kadang jawabannya, “Sejak jam dua dini hari”, atau, “Sejak tengah malam, segera sesudah pastor Jean membuka gereja.” Tak jarang tampak di antara antrian, umat dari kalangan masyarakat terhormat juga menunggu dengan sabar sepanjang malam dan siang, bukan untuk menghadiri suatu pertemuan penting, namun untuk menyerahkan diri mereka dengan rendah hati kepada bimbingan spiritual sang pastor demi kesejahteraan jiwa mereka. Sudut-sudut lain dari gereja juga tampak sama penuhnya. 

Pemandangan pria dan wanita berdoa dengan khusuk juga berlangsung terus dari jam ke jam, dari hari ke hari, sementara dua-ratusan orang mengantri untuk mengakukan dosa-dosa mereka. Pastor Jean Vianney biasa mendengarkan pengakuan selama enam belas hingga tujuh belas jam setiap harinya, dan kedisiplinan manusia ‘super’ ini berlangsung terus menerus dalam kurun waktu tiga puluh tahun.

Kadang-kadang orang datang ke Ars hanya sekedar ingin tahu, kadang ingin sekedar melihat wajah Pastor Jean, atau ingin melihat sambil sedikit mengolok-olok apa yang mereka anggap sebagai suatu kerumunan orang-orang yang konyol. Namun, setelah mengamati dari dekat bagaimana karya sang Pastor Jean selama sehari atau dua, mereka yang datang dengan motif-motif itu langsung kehilangan selera untuk meneruskan intensi awalnya, dan tidak lama kemudian mereka tampak telah berada di dalam antrian juga, ikut menunggu bersama yang lain untuk mengaku dosanya.

Mukjizat-mukjizat yang dikerjakan Sang Pastor dari Ars

Kemampuan untuk menyingkapkan dosa-dosa tersembunyi dari para pengaku dosa yang datang kepada Pastor Vianney, menjadi kekuatan pelayanannya dan melahirkan banyak pertobatan. Pastor Jean juga mampu melihat ke depan manakala seseorang akan kembali berdosa di masa depan dan membuatnya kembali ke Ars, yang dibantunya untuk sembuh kembali. Kemampuan yang sama juga dimilikinya untuk melihat meningkatnya kekudusan jiwa seseorang di bawah suatu penderitaan fisik dan kehendak Tuhan bahwa kesembuhan tidak akan terjadi pada orang itu. Juga ia dapat melihat suatu salib yang menunggu seorang peziarah sekembalinya dari Ars, atau melihat dengan mata batin, bahwa suatu kesembuhan tengah terjadi di tempat yang jauh.

Berbagai mukjizat yang telah terjadi disambut Pastor Jean hanya dengan satu alasan, yaitu bahwa semua itu dapat mendukung terjadinya pertobatan banyak pendosa dan keselamatan banyak jiwa untuk bersatu kembali dengan Tuhan. Itulah pencapaian sesungguhnya dari pelayanannya yang penuh pengorbanan diiringi mati raga yang terus menerus demi pertobatan umatnya.
Banyak orang bertanya-tanya bagaimana pastor yang telah memberikan banyak sekali waktu dan perhatian bagi keselamatan jiwa begitu banyak orang, masih bisa mempunyai waktu dan tenaga untuk memperhatikan kebutuhan jiwanya sendiri.

Dalam saat-saat luang di mana sebenarnya ia bisa melakukan aktivitas yang bersifat hiburan, Pastor Jean lebih memilih untuk mengerjakan hal-hal yang berguna bagi perkembangan spiritualnya. Hal ini membuat Pastor Jean semakin memperlihatkan kasih dan respek kepada orang lain, tahun demi tahun ia semakin tampak bersinar dalam kerendahan hati, amal kasih, dan pengorbanan. Bagi siapapun yang mendekat padanya, sinar matanya yang jernih memantulkan kesalehan yang tulus yang bersumber dari jiwanya. Ke manapun ia pergi, orang-orang akan mengerumuninya, menarik jubahnya, dan menanyakan berbagai hal kepadanya, termasuk hal-hal yang sangat sederhana, yang tetap ditanggapi Pastor Jean dengan penuh respek. Kebaikannya yang tidak pernah berubah membuatnya dijuluki “Pastor yang baik” sepanjang karirnya sebagai imam. Ia juga sangat menjaga dan menghormati rekan-rekan sesama imam, berusaha agar pekerjaan-pekerjaan yang sulit atau yang tidak menyenangkan tidak sampai ke tangan mereka. Untuk menyatakan kasihnya, ia sering membagikan barang-barang pribadinya kepada mereka termasuk salib, medali, dan relikwi, di mana semua benda itu sebenarnya merupakan benda-benda kesayangannya.

Selama tahun-tahun terakhir menjelang akhir hidupnya, Pastor Jean praktis tidak memiliki apa-apa lagi.  Ia telah menjual segala perabotan, buku-buku, dan berbagai benda miliknya untuk diberikan kepada orang miskin. Padahal dengan tubuh yang sudah begitu lemah karena mati raga, ditambah rasa sakitnya, dan terkurung di dalam sempitnya ruang pengakuan dosa selama enam belas atau tujuh belas jam sehari, tentu penderitaan tubuhnya sama sekali tidak ringan. 

Waktu untuk beristirahat di malam hari seringkali hanya tersisa satu jam saja, dan waktu yang sangat sedikit itu pun sering tak bisa dinikmatinya dengan baik, karena batuk yang hebat mengguncang tubuhnya tak henti. Dalam semalam ia bisa terbangun empat atau lima kali, berharap bisa meringankan penderitaannya dengan berjalan-jalan ringan. Ketika sudah menjadi sangat lelah akhirnya ia tertidur tetapi terkadang karena sudah waktunya matahari terbit, segera ia bangun lagi untuk bekerja kembali di hari yang baru. Waktu luangnya ia habiskan untuk berdoa. Dalam mengunjungi orang sakit, pikirannya selalu tertuju kepada Tuhan. Namun doa-doanya selalu sangat sederhana. Memang ia memilih untuk senantiasa sederhana dalam segala tindakannya.

Wafat dan beatifikasi Sang Pastor Yang Terberkati

Di musim panas tahun 1859, sang pastor yang terberkati menampakkan tanda-tanda bahwa seluruh energinya sudah nyaris tidak bersisa lagi. Ia terdengar beberapa kali mengatakan, “Sayang sekali, para pendosa akan mengakhiri hidup pendosa”

Pada Jumat 29 Juli 1859, setelah menghabiskan enam belas hingga tujuh belas jam di ruang pengakuan seperti biasa, ia kembali ke pastoran dalam keadaan sangat lelah. Ia terduduk sambil berkata, “Aku tak dapat berbuat lebih jauh lagi”. Ia segera dibaringkan di tempat tidur. Keesokan paginya sakitnya menjadi begitu parah sehingga dikhawatirkan ia akan segera meninggal. 

Kesedihan yang mendalam terasa di seluruh pelosok Ars dan di hati seluruh pengunjung. Selama tiga hari, gereja penuh dengan umat, yang berdoa dengan sungguh memohon Tuhan untuk tidak mengambil imam kesayangan mereka. Pastor Jean tidak mengikuti doa bersama umatnya karena merasa bahwa ajalnya telah dekat. Jumat petang ia menerima Sakramen Perminyakan. Ia meneteskan airmata keharuan ketika Viaticum Kudus (Sakramen Ekaristi terakhir sebagai bekal perjalanan pulang ke rumah Bapa) dipersembahkan untuknya dan minyak suci diberikan kepadanya. Untuk terakhir kalinya ia memberkati semua yang hadir beserta seluruh umat parokinya. Hari Rabu pagi ia tersenyum mengenali Bapa Uskup yang hadir di sisi tempat tidurnya.

Pada hari Kamis 4 Agustus 1859, pukul dua dini hari, saat rekan-rekannya dan wakilnya, Abbe Monnin, sedang mengucapkan doa bagi orang yang menghadapi ajal dan tengah berkata: “Kiranya para Malaikat kudus Allah datang menjumpainya dan memimpinnya ke dalam kota kudus Yerusalem Surgawi”, jiwa Pastor Jean meninggalkan tubuhnya, menghadap Sang Penciptanya, yang telah ia layani dengan begitu setia sepanjang hidupnya. Jenazah St Yohanes Maria Vianney yang masih tetap utuh hingga kini disemayamkan di  Ars.


Jarang bahwa proses beatifikasi dimulai begitu cepat seperti yang terjadi pada Jean (Yohanes) Baptis Vianney. Tak sampai empat puluh lima tahun semenjak tubuhnya diistirahatkan di bawah altar paroki Ars, Tahta Suci memutuskan beatifikasinya.

Proses kanonisasi pastor Vianney dimulai pada tahun 1862. Pada tahun 1904 dilakukan rituale penggalian kuburnya dalam rangka beatifikasinya. Ternyata tubuh orang kudus ini dalam keadaan kering dan menggelap, namun masih utuh. 

Wajahnya masih dapat dikenali, akan tetapi kelihatannya seperti terkena efek kematian. Jantungnya masih dalam keadaan utuh. Jubah baru dikenakan pada jenazah orang kudus itu dan topeng dari lilin dibuat untuk relikui. Sekarang relikui itu masih terpelihara di tempatnya yang indah di atas altar basilika yang berhubungan dengan gereja paroki tua Ars. 

Jean-Marie Baptiste Vianney dikanonisasikan oleh Paus Pius XI pada hari Minggu Pentakosta, 31 Mei 1925 dan diangkat menjadi orang kudus ‘Pelindung para Pastor Paroki’ oleh Paus yang sama dalam tahun 1929. 

Paus Benedictus XVI menghendaki agar TAHUN IMAM diadakan antara tanggal 19 sampai tanggal 19 Juni 2010. Pesta Hati Yesus yang Mahakudus tahun 2009 (19 Juni) dipilih sebagai tanggal pembukaan TAHUN IMAM, karena hari itu ditetapkan menjadi Hari Doa sedunia untuk kesucian para imam. TAHUN IMAM dipilih tahun ini, karena bertepatan dengan 150 tahun wafat Santo Jean-Marie Baptiste Vianney. 

Sri Paus akan meresmikannya menjadi pelindung bagi semua imam seluruh dunia. Acara pembukaan di Roma dilaksanakan dengan Ibadat Sore Agung, dipimpin sendiri oleh Paus Benedictus XVI.  Dalam vespers tersebut relikui Santo Jean-Marie Baptiste Vianney dihadirkan di altar. TAHUN IMAM akan ditutup pada tanggal 19 Juni 2010 oleh Paus Bendictus XVI dengan menghadirkan para imam, wakil dari seluruh dunia. 

Catatan Penutup. Kehidupan Pastor dari Ars dapat dirangkum dengan menggunakan kata-katanya sendiri: “Untuk dikasihi oleh Allah, untuk dipersatukan dengan Allah, untuk hidup di hadirat Allah, untuk hidup bagi Allah. Oh! Betapa indah kehidupan dan betapa indahnya kematian!”  

Diambil dari www.katolisitas.org, www.indocell.net, catatanseorangofs.wordpress.com, www.imankatolik.or.id

Doa yang indah, yang saya ambil dari FB:Romo Jost Kokoh 

"Tuhan terkasih, Bapa Pengasih,
aku berdoa kepadaMu,lindungilah para imam GerejaMu,
sebab mereka itu milikMu.
Biarlah hidup mereka terbakar luluh di atas altarMu yang suci,
sebab mereka telah disucikan dan menyucikan diri bagiMu.
Lindungilah mereka sebab mereka ada di tengah dunia meski mereka bukan dari dunia ini.
 Masukkanlah mereka dalam lubuk hatiMu,
bila nikmat dunia menggoda dan memikat.
 Lindungilah dan hiburlah mereka dalam saat sepi,
susah derita dan bila pengorbanan hidupnya nampak sia-sia.
 Ingatlah ya Tuhan tak seorangpun kecuali Engkauyang menjadi pemiliknya.
Dan walaupun mereka Kau beri panggilan Ilahi
 tapi tetaplah mereka memiliki hati insani,  dengan segala kerapuhannya.
 Maka Bapa terkasih, lindungilah mereka bagaikan biji mataMu 
dan peliharalah mereka bagaikan hosti tanpa noda. 

Semoga setiap hari pikiran dan perbuatannya
 aman terjaga dan menjadi teladan indah bagi seluruh umatMu.
 Tuhan terkasih, sudilah memberkati mrk senantiasa.
Terpujilah Engkau yang telah memanggil dan mengutus mereka;
terpujilah Engkau yang tetap mendampingi dan memampukan mereka.
 Ya Hati Kudus Yesus, Imam Agung Yesus, kasihanilah mereka.
Ya Hati Tersuci Maria Ratu para imam, doakanlah mereka.

Ya Santo Yohanes Maria Vianney, doakanlah mereka. Amin."

Jumat, 31 Juli 2015

Peringatan Santo Ignatius Loyola, 31 Juli

Tanggal 31 Juli adalah HARI ISTIMEWA
Kita memperingati St. Ignatius Loyola, pendiri Ordo Serikat Yesus  (SJ). Ia dilahirkan di Kastil keluarga bangsawan Loyola di wilayah Basque, Spanyol. Ketika masih kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang kesatria yang hebat. Ignasius kemudian masuk militer dan menjadi seorang perwira.


Pada penyerbuan benteng Pamplona, Ignasius bertempur dengan berani namun ia terkena peluru meriam dan terluka parah. Di kemudian hari, ia mendapat penghargaan karena kegagahannya dalam pertempuran itu. Tetapi, luka di tubuhnya membuat Ignatius terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola. Ia measa lemah dan tidak berguna.

Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?” Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat ia dambakan, tampak tak berarti lagi baginya sekarang. Ia mulai meneladani para kudus dalam doa, silih dan perbuatan-perbuatan baik.

Setelah sembuh, Ignasius mengunjungi sebuah biara dimana ia menanggalkan jubah militernya dan mempersembahkannya pada lukisan Sang Perawan Maria. Ia kemudian pergi ke kota Catalunya, dan selama beberapa bulan tinggal di sebuah gua di dekat kota itu di mana ia bertapa dengan keras. Ignatius juga mengalami beberapa penampakan di tengah-tengah hari selama di rumah sakit. Penampakan-penampakan yang terjadi berulang kali ini tampil sebagai “suatu wujud yang mengambang di udara yang berada di dekatnya dan wujud ini memberinya rasa ketenangan yang amat mendalam karena wujud itu sangatlah indah … wujud itu entah bagaimana terlihat memiliki bentuk mengular dan memiliki banyak benda yang bersinar seperti mata, tapi bukanlah mata. Ia menjadi bahagia dan mengalami ketenangan hanya dengan menatap wujud ini, namun ketika wujud ini hilang ia menjadi sedih.”

Ignasius lalu berziarah ke Tanah Suci dan ia bertekad untuk mentobatkan orang-orang yang belum mengenal Yesus disana. Namun ia tidak diperkenankan. Lalu veteran perang yang berusia 30 tahun itu pulang dan mulai belajar untuk mempersiapkan dirinya berkarya bagi nama Yesus. Mula-mula ia belajar bahasa Latin bersama anak-anak sekolah Dasar si Barcelona sampai kemudian meraih Gelar sarjana di Universitas Paris.

Sejak masih kuliah Ignasius sering memberikan bimbingan rohani kepada teman-temannya. Ini yang menjadi cikal bakal Latihan Rohani yang ditulis dan diwariskannya kepada kita, khususnya kepada para Jesuit.  Di masa itu (bahkan sampai sekarang) tidaklah lazim apabila seorang awam mengajar spiritualitas; ia lalu dicurigai sebagai penyebar bidaah (=agama sesat) dan dipenjarakan untuk sementara waktu namun kemudian dilepaskan. Kejadian itu tidak menghentikan Ignatius. “Seluruh kota tidak akan cukup menampung begitu banyak rantai yang ingin aku kenakan karena cinta kepada Yesus,” katanya.

Pada Latihan Rohani  tersebut, Ignatius menegaskan bahwa "Tujuan manusia diciptakan adalah memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan, dan dengan demikian menyelamatkan jiwanya". Untuk mencapai tujuan tersebut ada satu sikap yang ditekankan, yakni sikap lepas bebas (indefferent) yang dilawankan dengan sikap "lekat tidak teratur". Sikap "lekat tidak teratur" ini dapat dimaknai sebagai kecenderungan untuk terlalu bergantung pada sesuatu, termasuk juga seseorang, demi kepentingan diri sendiri (sikap-sikap egois). Sedangkan sikap lepas bebas adalah sikap tidak mau terikat secara mutlak terhadap apa pun atau siapa pun supaya dengan demikian kita dapat memilih hanya hal-hal yang mendukung pencapaian tujuan kita diciptakan, yakni untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan, dan dengan demikian menyelamatkan jiwanya. Oleh karena itu, hendaknya kita "tak mencari-cari atau menginginkan kekayaan melebihi kemiskinan, tak menghendaki penghormatan melebihi penghinaan ataupun mengharap-harapkan hidup panjang melebihi hidup pendek, asalkan semua itu sama artinya bagi pengabdian kepada Tuhan kita dan keselamatan jiwaku sendiri"

Di Paris Ignasius mengilhami tujuh mahasiswa (dua diantaranya adalah St.Fransiskus Xaverius dan St. Petrus Faber) untuk bersatu mengadakan ikatan. Mereka berjanji setia dan bersepakat untuk menyebarkan Injil kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Kelompok mereka ini kemudian menghadap Paus Paulus III dan menawarkan diri untuk menjalankan tugas apa saja. Bapa suci yang melihat semangat kerasulan mereka; dan pendidikan mereka yang tinggi akhirnya mengabulkan keinginan Ignasius dan kelompoknya.
Bahkan lebih jauh lagi; Bapa Suci mentahbiskan mereka menjadi imam dan ikatan persaudaraan mereka dikokohkan menjadi Serikat Rohaniwan. Serikat ini kemudian dinamakan Serikat Jesus/SJ dan mendasarkan diri pada tiga kaul yaitu : Kemiskinan, Ketaatan, dan Kemurnian; ditambah lagi dengan satu kaul khusus yaitu : kesigapan untuk melaksanakan perintah Tahta Suci Kapan saja dan dimana saja.

Selama 15 tahun sejak persetujuan Paus itu, Ignasius memimpin Serikat Jesus dari Roma. Ia meyaksikan perkembangan Serikatnya berawal dari 10 orang sampai menjadi lebih dari 1000 orang. Para Jesuit berkarya dari Eropa, Asia sampai ke Benua baru Amerika. Saat ini para Jesuit memiliki lebih dari 500 Universitas dan Perguruan Tinggi, 30.000 anggota, dan mengajar lebih dari 200.000 siswa setiap tahun.

Seringkali Ignatius berdoa, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.”.  St. Ignatius wafat di Roma pada tanggal 31 Juli 1556. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV.

Terimakasih atas jasa dan karya para Jesuit di Paroki Wonosari dan di paroki lainnya yang telah meletakkan dasar iman yang kokoh.  Selamat Pesta Imamat / pesta nama pelindung  untuk semua Jesuit khususnya buat Bapa Paus, Bapa Kardinal Darmaatmaja, Romo Ponco, Romo Surya, Romo Budi, Romo Tarno dan semua Jesuit yang pernah berkarya di Wonosari


Santo Ignatius dari Loyola, doakanlah kami...

Referensi: Yesaya


Senin, 27 Juli 2015

Selamat bertugas di tempat yang baru, Romo


Secara resmi umat Katolik di  Paroki St. Petrus Kanisius Wonosari  sudah mendapatkan pengumuman akan ada mutasi/perpindahan romo Lukas Hari Purnawan MSF (Rm,Ipeng) ke Paroki St. Yusuf, Pati, Jawa Tengah dan romo Antonius Hadi Cahyono PR (romo Anton) ke   Paroki Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari – Katedral Semarang. 
Juga perpindahan Romo Rosarius Sapta Nugroho PR dari Paroki St Maria Fatima Magelang ke Paroki Wonosari

 Romo Lukas Heri Purnawan MSF
Romo Antonius Hadi Cahyono PR

Mutasi artinya perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Peristiwa ini sering dialami oleh para imam dan religius. Mereka selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, setelah berkarya di suatu tempat selama beberapa tahun. Para imam dan religius adalah pelayan umat. Mereka mengemban sebuah perutusan dari pimpinan, entah uskup atau pimpinan ordo/tarekat. Bahkan mereka bisa menyadari bahwa perutusan tersebut tidak hanya berasal dari pimpinan mereka di dunia, tetapi mereka juga diutus oleh Yesus sendiri, seperti dialami oleh para rasul atau para murid yang pertama. Mereka diutus ke suatu tempat tertentu dan diharapkan tinggal di tempat tersebut. Para utusan diharapkan untuk ‘tinggal di situ.’

Romo Anton
Telah banyak karya dan kesan yang dilakukan oleh Romo Ipeng dan Romo Anton, salah satu yang saya ingat adalah Misa Taize pada tahun baru kemarin. Dan juga Romo Ipeng dengan banyak talenta bermusik dan mendalangnya, juga Romo Anton dengan ketegasannya …..selain itu yang pasti akan dikenang oleh umat di Wonosari, pastinya kalau Misa eh homili beliau berdua itu lamanyaaaa……..hehehe
Romo Ipeng
Selamat dan bersyukur atas tugas baru, semoga romo menjadi pewarta keselamatan, semoga karyanya semakin mengakar, mekar dan berbuah. Tuhan memberkati. Selamat berkarya untuk Romo Ipeng dan Romo Anton. Kami turut berdoa semoga Tuhan selalu menyertai, melindungi dan membimbing romo selalu.
Dan mari kita menyambut Romo Sapto di paroki kita, dari hasil browsing saya mendapat sedikit data tentang Romo Sapto.  Romo Sapto sering dijuluki pastor petani karena keperduliannya terhadap para petani, beliau adalah pastor kelahiran Klaten, 4 September 1969 dan menjadi pendamping petani organik.
Akhir kata, selamat bertugas ditempat baru untuk Romo Ipeng dan Romo Anton serta  selamat datang Romo Sapto di Paroki Wonosari.


Romo Sapto

“Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, ‘Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.’” (Mrk 6, 10)



Sabtu, 11 Juli 2015

“Tuhanlah yang menggerakkan hati saya untuk menjadi pastor.”

       Beberapa hari ini entah mengapa saya secara kebetulan menemukan artikel-artikel tentang kisah panggilan menjadi biarawan maupun imam yang cukup menyentuh. Mungkin ini pertanda dari Tuhan supaya kita, para umat tidak berhenti untuk  berdoa mohon panggilan dan juga mendoakan Romonya yang sering terlupakan…..
Semoga salah satu sharing cerita yang diambil dari Hidupkatolik.com / FB: Bunda Maria Santa Perawan Suci, ini dapat menyentuh kita untuk lebih perduli dan terus mendoakan para Hidup Bakti. 


CERITA NYATA TELADAN KELUARGA KATOLIK
"HIDUP LUAR BIASA KARENA ALLAH"

Ini adalah cerita nyata yang bobotnya luar biasa, karena manusia normal pada umumnya akan menolak opsi kehidupan ini. Dua putra keluarga bapak Aloysius Sanjaya dan Esther Widyawati yang sudah dipersiapkan mewarisi usaha di bidang konstruksi baja, memutuskan masuk biara dan menjadi pastor. Tuhan memanggil sewaktu mereka studi  di Amerika.


Suatu malam di penghujung 2004, Edwin Bernard Timothy terjaga dari lelap. Lantas, tak sengaja ia menonton film “The Song of Bernadette” di layar kaca. Keutamaan sikap Santa Bernadette yang mengemuka dalam film hitam putih produksi tahun ‘50-an itu, menyentuh nurani pemuda yang tengah studi S2 bidang geography information system di Universitas Buffalo, New York State, Amerika Serikat ini. “Ada sesuatu yang indah, sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya,” ungkapnya saat ditemui di kediaman orangtuanya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis, 6 Juni 2013. Kisah Santa Bernadette itu membuat hidup rohani Edwin menggeliat. “Sejak itu, setiap hari saya berdoa rosario dan ikut Misa,” kenangnya.

Selanjutnya, pria kelahiran 25 Januari 1982 ini mendulang pengetahuan rohani dari beragam buku agama, hal yang sebelumnya tak terlintas di benaknya. Hingga suatu hari, ia membaca buku mengenai hidup bakti dalam Gereja Katolik. Panggilan membiara pun mulai menggelitik hatinya. “Saya merasa ‘klik’, saya tertarik menjadi biarawan,” ujarnya.

Enam bulan berselang, seusai studi S2, Edwin memilih ordo. “Saya masuk Ordo Pengkhotbah (Dominikan),” katanya. Seiring bergulirnya waktu, panggilan yang ditelusuri Edwin bermuara pada 24 Mei 2013, ketika Mgr Christopher Cardone OP menahbiskannya menjadi imam Dominikan di Gereja St Dominic, Washington DC, Amerika Serikat.

Seperti di Surga
Ketika pertama kali Edwin menjejakkan kaki di Biara Suster-Suster Dominikan di Buffalo New York State, kekaguman menyergapnya. “Suster suster Dominikan sedang mendaraskan Mazmur dan lagu-lagu Gregorian dengan begitu indah. Saya seperti berada di surga,” ujar Edwin sembari melepas tawa.


Namun, seulas kekhawatiran tak sanggup berkhotbah mengganjalnya. “Lalu, saya memohon kepada Tuhan, jikalau memang Dia memanggil saya, tolonglah saya.” Setelah itu, batin Edwin terasa lapang. Juli 2006, Edwin masuk biara. Dengan keteguhan hati, Edwin meniti titian imamat. “Bagi saya, panggilan ini merupakan life time commitment. Meski sejak awal saya tak pernah ragu,” ucap pria tamatan SMA Kanisius Menteng tahun 2000 ini.  “Saya bersyukur, orangtua menerima keputusan saya.”

Sanjaya dan Esther membenarkan, bagi mereka panggilan itu sebuah misteri dan itu sudah direncanakan Tuhan, sehingga mereka tidak memaksa atau melarang putranya masuk seminari dan menjadi imam.
“Semuanya sesuai rencana Tuhan. Siapa yang tahu akan panggilan, semua tidak ada yang tahu. Hanya Tuhan yang tahu. Sebagai orangtua, kami menerima, semuanya berjalan seperti air mengalir.”

Dalam ramah tamah seusai Misa di Redemptor Mundi, 26 Juni 2013, Pastor Edwin bercerita kepada umat bahwa ketika di bangku SD mau pun SMP, dia tak pernah bermimpi bakal menjadi imam. “Tidak tahu, mengapa saya terpanggil menjadi pastor. Padahal, ketika masih anak-anak sampai remaja, saya tidak pernah terlibat dalam tugas-tugas di gereja, baik putra altar, misdinar atau pun rekat (Remaja Katolik),” kisah imam baru itu. Orangtuanya juga tidak pernah mendorong dan tidak pernah melarang dia masuk seminari. “Tuhanlah yang menggerakkan hati saya untuk menjadi pastor,” kata Pastor Edwin.
Lalu, mengapa tertarik masuk Ordo Pewarta atau Ordo Pengkotbah (OP)? Di depan sekitar 1.000 umat yang hadir, Pastor Edwin bercerita, “Sewaktu kecil dan remaja, saya sering mengunjungi biara suster OP. Mungkin terlalu keseringan bertemu para suster OP, eh, malah tertarik. Itulah misteri panggilan. Tuhan sudah memanggil dan kita merespons,” kata imam itu.

Ternyata, hidup membiara juga mempesona sang kakak, Cornelius Leo Adrianus. Cornelius, yang sebelumnya selalu tinggal satu rumah dengan Edwin di Negeri Paman Sam, kerap ikut membaca buku-buku rohani milik adiknya. Ia juga mengikuti siaran-siaran rohani di saluran televisi Katolik setempat.
Meski ia tengah studi S3 bidang geography information system di kampus yang sama dengan kampus adiknya, niatnya masuk biara tak terbendung. “Saya mulai merasakan ada konflik antara hidup profesional saya dengan hidup rohani,” tandas Cornelius yang sudah menjadi dosen di kampusnya.


Setahun setelah Edwin masuk Biara Dominikan, Cornelius masuk Ordo Community of St John (CSJ). Di biara, Cornelius mendapati irama hidupnya sungguh berbeda dengan sebelumnya. “Tapi, saya bahagia karena hidup lebih realistis. Dulu, semua yang saya butuhkan bisa saya beli. Sekarang, semua yang saya butuhkan harus saya kerjakan sendiri,” ucap pria yang saat ini menjadi frater CSJ di Perancis.

Pria kelahiran 30 Juli 1980 ini mengibaratkan panggilan hidupnya sebagai mutiara. “Tuhan memberikan mutiara kepada kami, dan untuk itu, kami harus meninggalkan semua yang kami miliki.”
Luar Biasa
Semula, orangtua Cornelius dan Edwin, Aloysius Sanjaya dan Esther Widyawati, tak pernah menangkap semburat tanda bahwa kedua putranya bakal masuk biara. Semasa di Jakarta, mereka enggan berhimpun dalam Putra Altar atau Orang Muda Katolik (OMK). “Hidup rohani kami biasa-biasa saja, hanya masuk gereja setiap Minggu,” tutur Esther.

Namun, sejak kecil, perilaku Cornelius dan Edwin cenderung tak merepotkan orangtua. Mereka tak pernah bertengkar atau iri hati. Nyaris tak ada tangis anak-anak di rumah keluarga Sanjaya. “Dulu, saya merasa semua itu wajar saja. Tetapi, belakangan saya tersadar bahwa mereka memang spesial,” kenang Esther. Sejak awal perkawinan, 1979, pasangan ini merintis usaha konstruksi baja. “Kami bekerja keras mengembangkan usaha demi anak-anak,” kata Sanjaya. Selepas SMA, mereka mengirim Cornelius dan Edwin ke Amerika Serikat guna menuntut ilmu agar kelak bisa meneruskan usaha. Ternyata, jalan hidup bertutur lain…. “Rencana saya dengan rencana Allah berbeda. Tapi, saya meyakini, rencana Allah pasti yang terbaik,” tegasnya. Berbagai komentar pun menyinggahi telinga Sanjaya dan Esther karena Cornelius dan Edwin tak mungkin meneruskan usaha. Tak sedikit yang menganggap realita ini musibah, terlebih karena garis keturunan mereka tak berlanjut. “Tetapi, kami menerimanya sebagai rahmat Tuhan yang luar biasa,” tandas Sanjaya.
Sejak kedua putranya masuk biara, kehidupan iman pasangan ini bertumbuh. Mereka aktif dalam pelayanan di Gereja, khususnya di Paroki St Yakobus Kelapa Gading. Sementara, dalam mengepakkan sayap usaha, pandangan mereka bergeser. “Ada hak orang-orang lain pada rezeki yang kami terima,” tutur pasangan yang peduli pada pendidikan anak-anak tak berpunya ini. Di usia menyongsong senja, pasangan ini tetap giat berkarya.Meski tak bisa mewariskan bisnisnya kepada Cornelius dan Edwin, tak ada sedikitpun sesal melekat di hati mereka. “Kami yakin, Tuhan yang telah memulainya dengan baik, akan menyelesaikannya dengan baik pula,” tukas Sanjaya.

Awal Juni 2013 ini, kebahagiaan menyelimuti pasangan ini karena kedua putra mereka datang ke Jakarta. Edwin yang baru ditahbiskan sebagai imam berkesempatan mempersembahkan rangkaian Ekaristi di beberapa kota, Misa Perdana di Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading, Pondok si Boncel, Jakarta, Seminari Mertoyudan dan Gereja Ignatius, Magelang tempat keluarga besarnya berasal , dan di satu-satunya paroki di Indonesia yang dijalankan para imam Dominikan, Redemptor Mundi, Surabaya, juga termasuk di kediaman orangtuanya pada Kamis siang, 6 Juni 2013. Kebersamaan ini tentu tak berlangsung lama karena Edwin harus menjalankan tugas sebagai pastor yang diperbantukan di sebuah paroki di Youngstown, Ohio, dan Cornelius harus kembali ke Community of Saint John di Perancis, Perancis.
Semoga kisah ini menjadi berkat yang baik dan kesaksian yang menyentuh bagi umat Katolik di Indonesia..

Dan ada doa untuk para pastor yang saya ambil dari sesawi.net…. [Di berbagai milis katolik, beredar untaian doa khusus untuk para imam (pastor). Kita berterimakasih atas penggagas dan perumus doa yang indah ini ~ Mathias Hariyadi . ]
Berkah Dalem.

Doa untuk Para Pastor

Allah, Bapa Maha Pengasih dan Penyayang,

Pandanglah wajah Kristus,Putra-Mu,Imam Agung Abadi,

demi cinta kasih-Mu kepada-Nya,
Kami memohon,
limpahkanlah belas kasih-Mu kepada para imam.

Ingatlah, ya Bapa,
para imam kami adalah manusia biasa,
dengan segala kekuatan dan kelemahannya.

Kobarkanlah selalu dalam diri mereka,
Rahmat Panggilan yang telah Kaulimpahkan dan Kauresmikan,
dengan urapan Roh Kudus dan penumpangan tangan Uskup, sewaktu tahbisan.

Jagalah mereka agar selalu dekat dengan-Mu,
mampu menjadi tanda dan sarana persahabatan
maupun persaudaraan sejati dalam Gereja,
maupun dengan semua orang beriman
dari agama mana pun.

Jauhkanlah mereka dari segala sesuatu,
yang mengasingkan mereka dari-Mu
dan dari persekutuan umat-Mu.

Yesus, Allah Putra, Imam Agung Abadi,
jadilah Pengantara kami untuk berdoa,

bagi para imam-Mu, yang setia dan gigih dalam pelayanan di tengah umat-Mu,
bagi para imam-Mu, yang mendapat kesulitan dalam kesetiaan dan kegigihan berbakti,
bagi para imam-Mu, yang hidup tegar maupun yang bergulat dengan pelbagai godaan,
bagi para imam-Mu, yang berkarya penuh hiburan maupun yang berkarya dalam kesepian,
bagi para imam-Mu, yang melayani di tengah keramaian kota maupun yang di pelosok-pelosok,
bagi para imam-Mu, yang masih muda, yang tengah umur, maupun yang sudah lanjut usia,
bagi para imam-Mu, yang sehat maupun yang sedang sakit, bahkan yang menghadapi ajalnya,
bagi para imam-Mu, dalam keadaan apa pun juga.

Roh Kudus, Roh Penghibur,
Roh Kebijaksanaan dan Roh Pengudus,
curahkanlah damai Paskah dan kasih Pentakosta dalam para imam kami,

terutama imam yang mengantar kami pada Sakramen Baptis, untuk bersatu dalam Gereja-Mu,
para imam yang mengajak kami senantiasa berbalik kepada-Mu dan merayakan Sakramen tobat,
juga imam yang mengumpulkan kami di sekeliling altar untuk merayakan Ekaristi, Santapan kami,
imam yang dalam Krisma dan pendampingannya menolong kami menjadi dewasa dalam iman,
imam yang menyiapkan dan memberkati Perkawinan keluarga-keluarga kami,
imam yang membantu merasakan kasih-Mu, juga waktu sakit dan menyiapkan kami menghadapi hari-hari terakhir kami dengan Sakramen Pengurapan orang sakit,
semua imam yang bersama kami berusaha menjadi tanda dan sarana hadirnya kerajaan surga di tengah masyarakat kami.

Bunda Maria, Ratu para imam,
dampingi dan doakan kami
bersama para imam kami.
Kini dan sepanjang segala masa. Amien




Jumat, 10 Juli 2015

Jadwal Misa Gereja St Petrus Kanisius Wonosari

Anda umat Katolik dan sedang mudik ke Wonosari? Ingin tetap beribadah? Berikut ini jadwal misa di Gereja Santo Petrus Kanisius

Semoga bermanfaat

Berkah Dalem



*Ralat Jadwal (berlaku mulai tahun 2018)

Senin-Sabtu Misa harian di Gereja St Petrus Kanisius mulai pukul 05.30 kecuali Jumat Pertama (Misa pukul 18.00) dan Jumat selama masa Prapaskah dimulai dgn Jalan Salib pukul 17.30.🙏🙏🙏

Kamis, 09 Juli 2015

INDAHNYA PERBEDAAN

Kiriman video dari teman yang menggambarkan indahnya sebuah perbedaan bila di satukan dalam lagu...... Semoga kita semua yang hidup di Negri ini bisa belajar menerima perbedaan dan hidup damai ditengah perbedaan......Amien


Senin, 06 Juli 2015

Warta Paroki St Petrus Kanisius dan Lingkungan Paulus Perak 5/7/2015

WARTA PAROKI
·         Bagi Calon Babtis Dewasa, pendampingan dimulai  5 Juli 2015 di Susteran Abdi Kristus (belakang Aula Gereja)
·         Pendampingan Krisma setiap hari Minggu pukul 15.00 WIB di Gereja St Petrus Kanisius Wonosari
Petugas Liturgi Minggu Depan
Jumat 10 Juli 2015 : ling Mateus
Sabtu 11 Juli 2015 : ling Dominikus
Minggu 12 Juli 2015: ling Markus
Menghias Altar: Ling Markus
Pengumuman Tahbisan Imam:
·         Selasa 28 Juli 2015 pkl.09.30 WIB di Gereja Keluarga Kudus Banteng  Yogyakarta dari tangan Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF  (Uskup Agung Samarinda); 1 Frater Diakon dari Konggregasi Missionarii a Sacra Familia (MSF) dan 1 Frater Diakon  dari Ordo Don Bosco (SDB).
Fr  Thomas Rasul Budi Riyanto, MSF
Paroki St. Yakobus Bantul, Yogyakarta
Fr Silverius Andang Kencana Aji, SDB
Paroki St Don Bosco Sunter, Jakarta


·         Rabu, 29 Juli 2015 pkl. 09.00 di Gereja St  Antonius Kotabaru Yogyakarta dari tangan Mgr. Johannes Pujasumarta (Uskup Agung  Semarang); 7 Frater Diakon Ordo Societatis Jesu (SJ)
Fr Alexander Koko Siswijayanto, SJ
Paroki St Yusuf Ambarawa, Semarang
Fr Aluisius Pramudya Daniswara, SJ
Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Yogyakarta
Fr Heribertus Heri Setyawan, SJ
Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri, Jateng
Fr Ignatius Suryadi Prajitno, SJ
Paroki Hati St. Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta
Fr Nikolas Kristiyanto, SJ
Paroki St.Maria Annuntiata Sidoarjo, Jatim
Fr Rikhardus Sani Wibowo, SJ
Paroki St. Paulus Wonosobo, Jateng
Fr Yohanes Adrianto Dwi Mulyono, SJ
Paroki St. Perawan Maria Regina Purbowardayan Surakarta, Jateng


Warta Lingkungan

Untuk Umat lingkungan Paulus Perak, sembayangan hari kamis dimajukan menjadi hari RABU 8 JULI 2015 di rumah ibu SARGONO