Rabu, 11 November 2015

Sugeng tindak Mgr Puja

Duc in Altum


Berita mengejutkan diterima oleh umat di Keuskupan Agung Semarang tengah malam tadi. Berita duka berpulangnya Gembala kami, yang sangat dikasihi oleh seluruh umat.
Bapa Uskup Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta wafat pada  10 November 2015 pukul 23.30 Wib dalam usia menjelang 66 tahun. 

Pada saat meninggal kemarin adalah saat tepat 5 tahun setelah Mgr Puja menerima kabar lewat telepon  bahwa beliau ditunjuk sebagai Uskup Agung Semarang. (”Saya menerima penunjukan itu pada 10 November 2010, ketika kami para Uskup sedang mengadakan Sidang Tahunan KWI 2010 di Jakarta,” kata Uskup Pujasumarta). Beliau saat itu adalah Uskup Bandung sejak 2008.

Saat itu Keuskupan Agung Semarang selama hampir lebih dari satu tahun tidak memiliki uskup, setelah Mgr Ignatius Suharyo diangkat menjadi Uskup Agung Jakarta. Pada waktu yang sama, Paus juga menunjuk Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, sebagai Administrator Apostolik untuk Keuskupan Bandung,  menunggu sampai dengan terpilihnya uskup baru. Uskup Pujasumarta dilantik sebagai Uskup Agung Semarang pada 7 Januari 2011.

Pada saat masih menjadi pamong di Seminari Mertoyudan, Romo Puja suka berkebun dan memelihara burung merpati juga  ayam kate, beliau saat itu menjalani tugas imamatnya sebagai pendidik para seminaris muda di Unit Medan Madya II (kelas 2) di Seminari Mertoyudan Magelang. Beliau amat suka menanam aneka tanaman di kebun kecilnya. Bersama Romo Ketut Switra OCSO yang kini menjadi rahib trappist  di Belanda dan beberapa seminaris yang suka berkebun, beliau setiap sore mencangkul tanah di kebun tersebut. Di situ dia menanam bunga lily, tanaman kenikir, dan sejumlah bunga lain. Tidak ada pohon buah-buahan yang ‘bisa’ ditanam di lahan sempit tersebut.
Namun, di ujung taman, persis di belakang gua maria mungil di taman yang juga mungil tersebut, suatu kali alm. Mgr. Puja membawa piyik ayam-ayam kecil jenis kate. Menurut Rm Switra yang juga gemar berkebun, kate-kate itu dipelihara untuk meramaikan taman tersebut.

Pada saat itu beliau dikenal sebagai imam sangat sederhana, bertutur kata santun, dan sangat perhatian pada seminaris, dan cenderung berpenampilan “apa adanya”. Selepas berkarya di Seminari Mertoyudan, Romo Pujasumarta berkarya sejenak di Pendidikan Tahun Rohani untuk para frater praja (diosesan) di Wisma Jangli Semarang dan baru kemudian ditugaskan belajar spiritualitas di Roma hingga memperoleh gelar doktor. Di kemudian hari, Romo Puja bertugas sebagai pendidik untuk para frater mahasiswa di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan sebagai Rektor.

Tahun-tahun panjang di Seminari Mertoyudan, Seminari Tahun Rohani Praja KAS, dan kemudian di Seminari Tinggi St. Paulus di Kentungan Yogyakarta adalah dunia pendidikan formatio yang digeluti alm. Mgr. Johannes Pujasumarta sebagai pendidik para calon imam. 


Dari tangan beliau dan para pamong lainnya, inilah sudah ribuan imam dari berbagai ordo, kongregasi, dan diosesan ‘tercetak’. Termasuk tentu saja tiga uskup yang sekarang kita kenal; Mgr. Nicolaus Adi Seputra MSC, Uskup Agung Keuskupan Agung Merauke, Papua, Mgr. Pius Riana Prabdi Pr, Uskup Diosis Ketapang, Kalimantan Barat, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, Uskup Diosis Bandung

Akhirnya, Romo Puja mendapat tugas istimewa dari Vatikan untuk ditahbiskan menjadi uskup di Diosis Bandung. Hanya berlangsung sampai kurang lebih tiga tahun saja, Mgr. Pujasumarta Pr ditugaskan “pulang mudik” ke Keuskupan Agung Semarang oleh Tahta Suci menjadi Uskup Agung Semarang.

Mgr Pujasumarta boleh dibilang uskup internet dengan sangat aktifnya beliau mengisi blog pribadinya dengan laporan karya pastoral, renungan, dan catatan perjalanan pastoralnya.
Mgr Pujasumarta ikut mempopulerkan istilah Latin yang merupakan kutipan Injil: Duc in Altum. “Bertolaklah ke tempat yang dalam”. Inilah Uskup Indonesia yang mengawali langkah baru yang tidak lazim: mengakrabi gadget dan menggunakan internet sebagai media pewartaan. Ini terbukti bahwa gadget dan internet di tangan alm. Mgr. Johannes Pujasumarta menjadi media pewartaan efektif dan efisien.



Nama lengkap   : Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta
Tempat, tgl. Lahir : Surakarta, Jawa Tengah, 27 Desember 1949
Nama orang tua : Hubertus Soekarto Pudjasumarta (alm) dan Agnes Soekarti Pudjasumarta(alm). 
Salah seorang kakaknya juga menjadi imam, yaitu Pastor Ignatius Ismartono SJ. Ia mengawali pendidikan imamatnya di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, tahun 1963. Rm Puja adalah anak ke-3 dari 9 bersaudara.

Jejak rekam karya :
25 Januari 1977 : Prefek Seminari Menengah Mertoyudan
1 Januari 1981 : Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang
12 Mei 1983 : Sementara di Wisma Sanjaya, Semarang, untuk persiapan studi ke Roma, Italia
Agustus 1983 : Studi Teologi Spiritual di Universitas St. Thomas Aquinas, Roma, Italia
(Licentiate in Spiritual Theology: 1983 – 1985); (Doctorate in Spiritual Theology: 1985 – 1987)
1 Oktober 1987 : Pastor pembantu Paroki Ganjuran
1 September 1988 : Pastor pembantu Paroki St. Maria Assumpta, Klaten
15 Agustus 1989 : Studi “Focus in Leadership” di Gonzaga University, Spokane, Amerika
12 Juli 1990 : Rektor seminari di Wisma Sanjaya, Semarang
1 Oktober 1995 : Anggota Dewan Pengurus Yayasan Driyarkara
1 November 1995 : Moderator ISKA (Ikatan Sarjana Katolik) Semarang
1 Agustus 1997 : Rektor Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta
1 Agustus 1998 : Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang; Ketua Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang; moderator Serikat Santa Rosa Mistika (SRM)
1 September 1998 : Moderator Rumah Sakit St. Elizabeth, Semarang
25 September 1998 : Moderator PERDHAKI wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta
9 Oktober 2000 : Pejabat pastor kepala Paroki Kebondalem, Semarang (hingga 1 Agustus 2001)
2 Desember 2002 : Ketua Tim Supervisi Paroki Keuskupan Agung Semarang
10 Januari 2005 : Ketua Tim Supervisi Keuangan (Internal Auditor) Keuskupan Agung Semarang; Ketua Jaringan Persaudaraan antar kelompok Doa Keuskupan Agung Semarang
17 Mei 2008 : Ditunjuk sebagai Uskup Keuskupan Bandung oleh Bapa Paus Benediktus XVI
12 November 2010 : Ditunjuk sebagai Uskup Agung Semarang oleh Bapa Paus Benediktus XVI
7 Januari 2011 : Mgr Yohanes Pujasumarta dilantik sebagai Uskup Agung Semarang, melalui perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Kardinal Julius Darmaatmaja di Gereja Katederal Semarang, diikuti lebih dari seribu umat Katolik dari wilayah Semarang dan sekitarnya.
Upacara pelantikan yang juga dihadiri oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Leopoldo Girelli , diawali dengan perarakan rombongan Keuskupan Agung Semarang dan Keuskupan Bandung.
10 November 2015 : Mgr  Pujasumarta wafat ... diiringi lagu NDEREK DEWI MARIA... yang dilantunkan para sahabat dan saudara, beliau menutup mata dengan tenang dan penuh kasih.



REQUIESCÀT IN PACE….. Sugeng tindak Bapa Uskup Pujasumarta, mugi katampia wonten sunaring pepadang Dalem Gusti Yesus  lan saget ngaso kanti tentrem ing pangayunan Dalem Gusti.  Semoga damai abadi bersama Bapa dan para kudus di surga…
Mgr Puja, engkau adalah inspirasi bagi kami dalam semangat pelayanan dan pewartaan sabda Allah….engkau gembala yang baik bagi umat Katolik khususnya di Keuskupan Agung Semarang, doa kami selalu menyertai engkau.

Tak lupa Mgr, kami mohon doakan kami juga yang masih berziarah didunia ini, agar kami dapat meneladani semangat pelayanan dgn sukacita dan pantang menyerah yang selalu engkau ajarkan pada kami..... Amin.

Minggu, 08 November 2015

PERSEMBAHAN JANDA MISKIN

“Memberi sampai sakit” 



“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk 12:43-44).

Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan apa yang sudah kita persembahkan bagi Tuhan
Kita terkadang bingung jika ditanya tentang persembahan. Sepersepuluh dari penghasilankah? 10% dari pendapatan bersih atau pendapatan kotor, kalau anda seorang pedagang?  Atau, berapa nominal persembahan yang menyukakan-Nya? Sebuah pelajaran penting bisa kita dapat dari kisah janda miskin yang menghaturkan persembahan. 

Umumnya manusia cenderung merasa kekurangan ini dan itu. Karena itu ada keinginan kuat juga untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya dengan keyakinan semakin banyak memiliki, semakin terjamin hidup hari ini dan masa depan. Maka dapat timbul rasa haus akan harta yang semakin banyak dari waktu ke waktu dan dapat berkurang rasa rela memberi atau membagi apa yang dimiliki kepada orang lain yang berkekurangan. Selain itu keberhasilan dalam mengumpulkan lebih banyak dapat menimbulkan rasa perasaan bangga atas karya sendiri, semacam rasa mengandalkan kekuatan diri sendiri, rasa sukses karena kerja keras dan bisa saja pada akhirnya mengurangi kepekaan akan anugerah daya kekuatan dari atas, dari Allah sebagai sumber hidup.

Nilai suatu persembahan  bukan dilihat dari berapa besar atau berapa banyaknya uang yang kita persembahkan kepada Allah, atau  berapa banyaknya kita berikan dalam kantong kolekte dalam misa. Tetapi berapa banyaknya yang tinggal tersimpan untuk kita sendiri! Orang yang memberikan sebagian dari miliknya, mungkin terlihat jumlah nominalnya sangat besar namun jika mau jujur persembahan itu hanya sebagian kecil dari apa yang disimpannya untuk diri sendiri!

“Memberi sampai sakit” dilakukan oleh orang-orang miskin, bukan orang-orang kaya. Memang hal ini adalah kenyataan hidup yang menyedihkan yang ada pada segala zaman dalam sejarah manusia. Seandainya saja orang-orang yang kaya memiliki kemurahan-hati seperti orang-orang miskin, maka tidak akan ada seorang pun yang berkekurangan. Dengan demikian, tidak mengherankanlah apabila Yesus seringkali berbicara dengan kata-kata keras tentang bahayanya kekayaan (lihat misalnya Mrk 10:23-27).

Yesus memiliki preferensi terhadap orang-orang miskin dan Ia sendiri pun memilih menjadi orang miskin. Ini adalah sebuah tanda kemurahan-hati-Nya yang tanpa batas. Ingatlah, bahwa mayoritas dari para pengikut Kristus adalah orang-orang miskin, karena mereka lebih mau untuk mendengarkan Dia. Orang-orang kaya merasa takut bahwa mereka kehilangan kuasa dan pengaruh apabila mereka mengikuti contoh yang diberikan Yesus. Hal ini berarti bahwa mereka tidak mau menaruh kepercayaan kepada Allah. Mereka lebih suka menaruh kepercayaan pada kekuasaan dan kekayaan.

Dalam soal memberi kepada Allah, janda miskin tak perhitungan. Ia memberikan seluruh miliknya. Kemiskinan bukan alasan baginya untuk tak memberi persembahan kepada Allah! Ia percaya Allah memelihara hidupnya.Pemberian si janda miskin dalam Injil itu amat bermakna karena sebenarnya mengungkapkan pemberian seluruh diri. Si janda miskin itu tidak menunda kesempatan untuk memberi sesuatu kepada orang lain meskipun ia tidak mengenal orang-orang itu. Ia tidak menanti sampai ia berkecukupan atau berkelebihan. Kesempatan yang tersedia untuk memberi dimanfaatkannya dengan segera. 

Inilah persembahan yang menyukakan Tuhan!
Kemiskinan bukan alasan baginya untuk tak memberi persembahan kepada Allah! 
Kebiasaan menunda-nunda dalam memberi karena macam-macam pertimbangan dapat membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain yang sangat mendesak. Setiap pemberian (termasuk derma atau kolekte) selain bermaksud menolong orang yang berkekurangan, sebenarnya pertama-tama menjadi suatu tanda untuk menyampaikan pujian dan syukur kepada Tuhan, sumber hidup yang memberi kepada semua makluk anugerah berlimpah yang menguatkan dan menghidupkan.


Persembahan tersebut merupakan perwujudan rasa syukur dan terima kasih atas segala kasih karunia Allah yang telah diterima. Dengan persembahan persembahan tersebut kita berharap agar kita juga semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, bukan hanya sebagian saja.
Di dalam Perayaan Ekaristi juga ada persembahan atau kolekte yang dan kita berdoa dengan penuh harap "Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus" (TPE).
Maka marilah kita mawas diri: sejauh mana harapan akan kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita dan seluruh umat Allah tersebut tidak hanya berhenti pada kata-kata melainkan kita iringi atau lengkapi dengan tindakan-tindakan nyata.

Dengan kata lain jika kita memberi 'pesembahan' dari kelebihan ini seperti membuang sampah, karena yang kita berikan hanya sisa atau yang berasal dari kelebihan yang kita miliki....bukan suatu pengorbanan diri.
Menurut hukum Taurat persembahan yang benar adalah 10 % (sepuluh persen) dari penghasilan, maka jika orang berpenghasian 10 juta rupiah per bulan ia diharapkan mempersembahkan 1 juta rupiah per bulan, jika ia berpenghasilan 800 ribu rupiah per bulan diharapkan mempersembahkan 80 ribu rupiah per bulan.
Sekilas atau secara nominal 1 juta lebih besar daripada 80 ribu, tetapi secara konkret (pengalaman spiritual dan sosial) 80 ribu lebih besar nilainya daripada 1 juta: penderitaan lebih besar dihayati oleh pemberi persembahan 80 ribu. 

Namun dalam Gereja Katolik tidak ada kewajiban perpuluhan.
Selama Gereja masih hidup di dunia ini, maka akan selalu dibutuhkan dana untuk mendukung kehidupan dan pelayanan Gereja. Demikian  juga dibutuhkan bantuan untuk orang-orang miskin. Gereja mengajarkan dengan tegas bahwa membantu Gereja dan membantu orang miskin bukan bersifat manasuka tetapi suatu "kewajiban" (KHK Kan 222 # 1 dan 2; bdk Kan 1260-1266).

Dalam Perjanjian Baru: Rasul Paulus mengatakan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7). Tidak ada gunanya memberi perpuluhan dengan hati bersungut-sungut. Yang diharapkan adalah kerelaan hati namun tetap pantas,yang mencerminkan ungkapan syukur kita atas kasih Tuhan yang tanpa batas.

 

Harapannya kita semua berani meneladan semangat dan cara bertindak janda tersebut: memberi dari kekurangan bukan kelebihan, entah harta/uang, waktu maupun tenaga, sehingga persembahan tersebut sungguh terasa dan berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari.

Persembahan yang benar antara lain berakibat pada kita ada 'sesuatu yang berkurang' (secara phisik), sebagaimana dihayati oleh janda tersebut yang mempersembahkan sesuatu dari kekurangan, bahkan seluruh nafkahnya.
Sebenarnya janda ini punya pilihan, dengan memasukan 1 saja dari dua peser yang dia punya. Tetapi dia memasukan semuanya.
Mungkin setelah itu dia mencari nafkah lagi. Dia yakin dia pasti nanti juga dapat rejeki lagi untuk makan. Bagi janda miskin ini Allah dulu yang utama. Urusan perutnya bisa dikesampingkan. Totalitasnya dalam memberi kepada Allah, itulah yang dipuji oleh Yesus.

Mari kita mengasihi Tuhan dengan mempersembahkan apa yang ada di dalam diri kita, baik uang, waktu dan talenta.


Teladan yang bisa kita ambil adalah BAGAIMANA JANDA INI DENGAN LUAR BIASA MENEMPATKAN ALLAH DI ATAS SEGALANYA, TERMASUK DIRINYA SENDIRI.


Selasa, 27 Oktober 2015

AYO WARGA WONOSARI, TOLAK SIRKUS LUMBA-LUMBA

Warga Wonosari mungkin beberapa hari ini melihat atau mendengar iklan pementasan lumba-lumba yang marak. Ini sangat memprihatinkan karena  di banyak tempat masyarakat sudah memiliki kesadaran bahwa sirkus ini tidak memiliki muatan edukasi  tapi malah mengancam kelestarian hidup lumba-lumba. Kalau kita membiarkan lumba-lumba ini ditangkapi untuk pertunjukan sirkus mungkin di masa depan, anak cucu kita hanya bisa melihat gambar/foto-foto mahluk mamalia ini saja karena telah punah.



Jadi kalau anak, keponakan ,saudara bahkan tetangga atau yang berprofesi sebagai pendidik kalau ada murid  yang ingin melihat atraksi ini, beri kesadaran bahwa hal ini salah. Dan anjurkan untuk menghidari menonton hal semacam ini. Bukankah kita diajarkan untuk mencintai setiap mahluk ciptaan Tuhan?

Pertunjukan atau sirkus lumba-lumba yang selama ini diklaim menjadi ajang edukasi bagi anak-anak, justru merupakan kegiatan yang tidak mendidik. Sirkus lumba-lumba menjadikan satwa liar yang dilindungi tersebut dieksploitasi secara besar-besaran dan diperlakukan dengan kejam. Sirkus tersebut harus segera dihentikan karena konsumen sirkus ini adalah anak-anak. Hal tersebut tidak bagus untuk pendidikan anak usia sekolah lantaran dapat mengakibatkan anak-anak menjadi terbiasa menyiksa dan semena-mena dengan binatang yang seharusnya harus dilindungi.


Indonesia menjadi satu dari puluhan negara yang menjadi jalur migrasi lumba-lumba hidung botol Indopasifik. Di negara kepulauan ini, lumba-lumba dijaring ke darat dan dipindahkan ke berbagai kota untuk tampil sebagai satwa sirkus.

Dari puluhan negara tersebut, hanya Indonesia yang masih mengadakan pertunjukan sirkus lumba-lumba keliling. “Indonesia menjadi negara terakhir di dunia yang memiliki sirkus lumba-lumba keliling,” ujar Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Pramudya Harzani. “Selama ini masyarakat seringkali beranggapan bahwa pertunjukkan sirkus lumba-lumba diperlukan untuk pendidikan kepada anak-anak mereka. Melalui aksi ini, kami ingin mengimbau kepada masyarakat bahwa sirkus lumba-lumba keliling itu justru hanya menyiksa hewan-hewan itu,” tegas Pramudya.

“Bayangkan, sirkus itu hanya punya dua lumba-lumba. Per hari ada 5 pertunjukan, kecuali Sabtu-Minggu ada 7 kali pertunjukan. Lumba-lumba tersebut sengaja dibiarkan tersiksa. Tidak heran di antara lumba-lumba itu ada yang mati dan semua ini menurut pengelola sirkus sudah sesuai dengan pendidikan dan pelestarian? Pembohongan publik ini namanya,” ujarnya.

Menurut Pramudya Harzani, maraknya sirkus lumba-lumba memicu perburuan liar lumba-lumba di perairan Laut Jawa, terutama sekitar pulau Karimun Jawa. “Sekitar 90 persen lumba-lumba yang dipakai sirkus di Indonesia dari Karimun Jawa,” katanya.

Indonesia merupakan tempat terakhir di dunia yang memiliki sirkus lumba keliling. Ada beberapa poin yang patut dipertimbangkan mengapa sirkus ini pantas untuk ditolak…..


  • ·         Dalam sirkus keliling paling banyak hanya 2 ekor lumba-lumba yang dimiliki. Lumba-lumba itu dipaksa tampil nonstop  tiga sampai lima kali dalam sehari. Padahal, setiap pertunjukan itu digelar selama  lebih dari 1 mingggu . Ini jelas penyiksaan dengan dalih hiburan dan pendidikan.
  • ·         Pertunjukan lumba-lumba terlihat seolah-olah lumba-lumba melakukan segala atraksi karena lumba-lumba menyukainya. Hal ini tidak benar dan tidak pernah terjadi,  lumba-lumba melakukannya karena lapar setelah dibuat kelaparan sebelum pertunjukan dan  mereka melakukan segala atraksi untuk mendapatkan makan.
  • ·         Lumba-lumba di alam bebas bisa hidup hingga 50 tahun, tetapi dalam sirkus hanya bertahan hidup lima tahun. Sirkus lumba-lumba merupakan pembodohan bagi masyarakat. Habitat mereka hidup tidak berjoget dangdut dan tidak meloncat dalam lingkaran bola api. Lumba-lumba dilaut hidup secara berkelompok dan setiap hari bergerak hingga berpuluh-puluh mil jauhnya.
  • ·         Air kolam over-klorinasi. Klorin digunakan untuk menjernihkan air, tujuannya agar pengunjung percaya bahwa lumba-lumba berada di dalam air biru yang jernih. Kolam pementasan dengan diameter 6 meter berkedalaman 3 meter ini diisi air laut buatan. Penyelenggara membuat air asin ini dengan mencampurkan air ledeng dengan berton-ton garam. Senyawa pembunuh kuman bernama klorin dicampurkan ke dalam air kolam. Klorin yang bersifat korosif dipastikan merusak organ mata yang sensitif. lumba-lumba pun menjadi rabun. Klorin dalam kolam sering membuat mereka buta.Penelitian labortorium pada tahun 2012 membuktikan bahwa kandungan klorin dalam air delapan kali lebih banyak dari batas yang dapat ditoleransi oleh mamalia. Klorinasi dapat menyebabkan kebutaan, gangguan kulit dan penurunan umum pada kesehatan. Kondisi di air kotor (biasanya penuh kotoran) akan menyebabkan infeksi dan kematian secara perlahan-lahan bagi lumba-lumba.

  • ·         Semua lumba-lumba yang berada di dalam kolam tidak dapat berenang jarak jauh.  Lumba-lumba akan mengalami tekanan stres yang tinggi, karena biasanya ketika berada di laut terbuka, lumba-lumba melakukan perjalanan yang jauh setiap harinya. Pembatasan gerak dan isolasi dari kelompoknya akan menyebabkan stres sehingga kesehatannya akan dengan cepat memburuk. Suara bising saat diangkut truk, pesawat, atau musik keras saat pertunjukan juga bisa merusak sonar  sehingga tak jarang ada yang mati.Kita manusia yang hidup dengan menghirup oksigen, jika diangkut dengan duduk di bak belakang truk dan perjalanan jauh dari kota kekota mungkin akan mengalami mabuk, pusing, sakit dll.Bayangkan jika kalian berada pada posisi lumba2 itu!!!! 











  • ·         Lumba-lumba yang digunakan dalam pertunjukan sirkus keliling ditempatkan dalam wadah yang kecil dan sempit, tujuannya untuk mengurangi gerak yang sering dilakukan oleh luma-lumba. Lumba-lumba menghabiskan waktu berjam-jam dan jalan yang bergelombang dari satu tempat ke tempat lainnya. Lumba-lumba yang mati selama proses transportasi akan digantikan dengan lumba-lumba liar baru yang tertangkap.
  • ·         Selama proses pemindahan dari satu kota ke kota lainnya, kulit lumba-lumba mengering dan terluka,  terkadang untuk mengatasi ini hanya diberi pelembab atau bahkan hanya mentega yang membuat mereka semakin tersiksa karena zat-zat ini memang tidak sesuai dengan kebutuhan mahluk mamalia ini.

Nah, masihkah kalian akan menikmati pertunjukan yang mengatas namakan hiburan dan eduksi selama beberapa menit setelah mengetahui siksaan yang dialami lumba lumba ini sampai akhir hayatnya?
Lumba-lumba termasuk hewan yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia, seperti diatur dalam UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati.


Telah banyak perusahaan besar yang mendukung kampanye STOP SIRKUS LUMBA-LUMBA ini  antara lain meliputi Garuda Indonesia, LotteMart, Carrefour, Hero, Giant, Coca-Cola.dan Teh Botol Sosro . 

Menonton pertunjukan sirkus lumba-lumba berarti kita juga mengambil bagian yang  mengakibatkan penderitaan bagi satwa mamalia ini.

Semoga artikel ini dapat sedikit membuka mata kita terhadap kekejaman sirkus lumba-lumba.

Foto diambil dari berbagai sumber.

Kamis, 22 Oktober 2015

Jadwal Novena Goa Maria Tritis Wonosari


01 November 2015, (Misa bernuansa budaya Dayak)

Romo Grasius SVD

Koor dari Komunitas Pakat Dayak

06 Desember 2015 

Romo Walidi MSF (rektor Skolastikat)

Koor dari Johanes Bosco School Yogyakarta

03 Januari 2016 (Misa bernuansa Sunda)

Romo Handi Pr (dari Keuskupan Purwokerto, dalang wayang wahyu)

Koor dari Lingkungan Pulutan Wonosari

07 Februari 2016 (Misa bernuansa Mandarin)

Romo Hari Susanto SJ

Koor dari

06 Maret 2016

Romo D Bismoko Mahamboro Pr (dosen FTW)

Koor dari Frater Frater Kentungan

03 April 2016 (Misa bernuansa budaya Sumba)

Romo Mateus Mali CSSR

Koor dari Frater dan Bruder CSSR

01 Mei 2016(Misa bernuansa budaya Jawa)

Romo Budi Subanar SJ (Dosen Sanata Dharma)

Koor kolaborasi UKM Kerawitan Sadhar dan Shakuntala Voice


Sebelum Misa diadakan Rosario dimulai pukul 09.30

SANTO PAUS YOHANES PAULUS II


22 Oktober

 Pesta St. Yohanes Paulus II


Siapa diantara kita yang tidak terkesan oleh Bapak Suci Paus Yohanes Paulus II, seorang Paus yang paling menonjol diantara paus-paus lain dalam Gereja Katolik. Dimana saja dan kemana saja beliau selalu disambut antusias oleh seluruh Umat Katolik.
Paus Yohanes Paulus II yang lahir pada tanggal 18 Mei 1920 di Krakow, Polandia. Nama aslinya adalah Karol Wojtyla, juga dikenal sebagai paus peziarah karena  beliau sudah banyak mengunjungi negara-negara di dunia.
Beliau sangat aktif dan berpengaruh dalam Konsili Vatikan II. Pada tahun 1978 Beliau terpilih sebagai Paus.  Paus Yohanes Paulus II ini sangatlah dikagumi dunia karena beliau merupakan pemimpin moral dan kepeduliannya terhadap kedamaian, kerukunan serta penderitaan manusia amatlah besar sehingga Beliau mewartakan kabar keselamatan kepada seluruh umat manusia di belahan dunia ini tanpa kenal lelah.
Nama Yohanes Paulus II disandangnya sejak 16 Oktober 1978.  Kala itu sang Santo yang nama aslinya Karol Jozef Wojtyla dipilih menjadi uskup Roma sekaligus pemimpin umat Katolik sedunia. Karol Yosef Wojtyla lahir 18 Mei 1920 di Wadowice, Polandia Selatan.
 Karol adalah anak ketiga dari pasangan Karol Wojtyla dan Emilia Kaczorowska. Ayah Karol bekerja sebagai opsir tentara Kekaiseran Habsburg-Austria.

Sejak remaja, Karol suka bermain bola kaki dan tak kepalang tanggung dia merupakan seorang kiper yang terkenal dalam kesebelasannya. Tahun 1939 Karol bersama ayahnya hijrah ke Krakow. Di sana ia masuk Universitas Jagiellonian. Karol memperdalam filologi dan beberapa bahasa asing. Kemampuan menguasai bahasa asing luar biasa. Dikisahkan bahwa pada waktu itu dia sudah menguasai 12 bahasa asing.

Tahun 1941 merupakan tahun kelabu bagi Karol muda. Ayah tercinta meninggal dunia karena serangan jantung, dalam medan tugas. "Saya tidak ada pada saat kematian ibu saya, saya tidak ada saat kematian kakak saya, saya juga tidak ada pada saat kematian ayah saya. Pada usia 20 tahun saya sudah kehilangan semua orang yang saya cintai," desah Karol. Peristiwa kelabu itu membuat Karol muda mulai serius menata masa depanya. Ada niatan untuk menjadi imam atau pastor. Oktober 1942 Karol memperjelas cita-citanya dengan masuk seminari rahasia yang dijalankan oleh Uskup Agung Krakow, Kardinal Adam Stefan. Ia juga selamat dalam sebuah penyerbuan Nazi Jerman ke seminari tempat Karol dan teman-temannya belajar. Karol terkenal juga sebagai seseorang yang banyak menyelamatkan nyawa orang Yahudi yang pada waktu itu dikejar dan dibunuh oleh Nazi Jerman.

Karol ditahbiskan menjadi imam Katolik pada 1 November 1946 oleh Uskup Agung Krakow, Kardinal Adam Stefann Sapieha di Karedral Krakow. Sesudah itu Karol berangkat ke Roma untuk belajar teologi di Universitas Kepausan Thomas Aquina. Bebera tahun kemudian ia menggondol gelar doktor dengan disertasinya: Doktrin Imam Menurut Santo Yohanes dari Salib. Usai menyandang gelar doktor, Dr. Karol kembali ke negara asalnya, Polandia dan bertugas sebagai pastor di paroki dan juga mengajar di beberapa perguruan tinggi. Ia banyak menulis dan menghasilkan karya ilmia lainnya.

Pada 4 Juli 1958 Pastor Karol diangkat oleh Paus Pius XII menjadi uskup pembantu di Krakow dan saat itu ia termasuk uskup yang termuda di Polandia, dengan usia 38 tahun. 16 Juli 1962 Uskup Karol diangkat menjadi administrator keuskupan karena Uskup Krakow waktu itu Eugeniusz Baziak meninggal dunia dan pada 13 Januari 1963 Paus Paulus VI mengangkatnya menjadi uskup agung di Krakow. Pada 26 Juni 1967 Paus Paulus VI mempromosikan sebagai kardinal dan dia dikenal dengan imam kardinal "Titulus San Caesareo de Appia".

Sejak Oktober 1962 Uskup Karol Wojtyla terlibat dalam konsili besar Gereja Katolik, Konsili Vatikan II dan memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pengembangan Gereja Katolik dewasa ini. Dokumen itu antara lain: Dignitatis Humanae (Kebebasan Beragama) Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral tentang Gereja dan Dunia).

Kardinal Karol Wojtyla pada 14 Oktober 1978 kembali mengikuti konklaf (rapat pemilihan paus) untuk kedua kalinya dalam jangka waktu tidak terlalu lama. Dalam sebulan itu Kardinal Karol telah mengikuti dua kali konklaf. Konklaf kedua karena Paus Yohanes Paulus I meninggal dunia. Mendiang Paus Yohanes Paulus I hanya 33 hari memimpin Gereja Katolik. Tak disangka dalam konklaf itu Kardinal Karol yang muncul sebagai calon alternatif kompromi justru dipilih oleh para bapa konklaf. Ia muncul sebagai orang yang memediasi kubu konservatif dan moderat dalam Gereja Katolik.
Pada  akhirnya Kardinal Karol Jozep Wojtyla pada saat itu memecahkan rekor "telur tradisi". Hal-hal yang patut kita catat adalah: ia merupakan orang pertama dari luar Italia yang dipilih menjadi Paus semenjak tahun 455. Ia juga merupakan Paus termuda terhitung sejak Paus Pius IX tahun 1846.  Mendiang Paus ini menolak penobatan menjadi Paus dengan tata-cara ritual kerajaan, ia lebih suka menerima penobatan secara grejawi yang sederhana dan dilaksanakan 22 Oktober 1978. Ia telah melakukan kunjungan ke 129 negara, mencatat sejarah menjadi pemimpin dunia yang paling banyak berkunjung ke negara-negara lain.

31 Maret 2005 akibat dari infeksi saluran kemih, Yohanes Paulus II mengalami septic shocksebuah gejala penyebaran infeksi dengan demam tinggi dan tekanan darah turun, namun dia tidak dibawa ke rumah sakit. Namun mendapat pengawasan medis dari tim perawat di tempat tinggal pribadinya. Ini menandakan bahwa paus sudah mendekati ajalnya; kemungkinan juga karena keinginannya untuk meninggal di Vatikan. Hari itu juga, sumber Vatikan mengumumkan bahwa Yohanes Paulus II telah mendapat Sakramen pengurapan orang sakitoleh teman dan sekretarisnya Stanisław Dziwisz. Selama hari-hari terakhir kehidupan Paus, cahaya tetap dinyalakan menerangi malam dimana dia tinggal di lantai atas Istana Apostolik. Puluhan ribu umat berkumpul di Lapangan Santo Petrus dan jalan-jalan sekitarnya selama dua hari. Mendengar kabar ini, paus yang sedang sekarang berkata: “Saya telah mencari untuk Anda, dan kini Anda telah datang kepada saya, dan saya berterima kasih.”

Sabtu, 2 April 2005, sekitar pukul 15.30 CEST, Yohanes Paulus II mengatakan kata terakhirnya, “pozwólcie mi odejść do domu Ojca”, (“biarkan aku pergi ke rumah Bapa”), kepada pendampingnya, dan mengalami koma sekitar empat jam kemudian. Misa persiapan Minggu Kerahiman Ilahi memperingati kanonisasiMaria Faustina Kowalska pada 30 April 2000, baru dilakukan di sisi ranjangnya, dipimpin oleh Stanisław Dziwisz dan bersama dua pendamping Polandia. Juga hadir Kardinal dari Ukraina yang pernah melayani menjadi pastor bersama Paus di Polandia, juga beberapa biarawati Polandia dari Kongregasi Suster-suster Hati Kudus Yesus (Congregation of the Sisters Servants of the Most Sacred Heart of Jesus), yang melayani rumah tangga kepausan. Ia meninggal di apartemen pribadinya jam 21:37 CEST (19:37 UTC) karena kegagalan jantung akibat tekanan darah rendah dan kegagalan peredaran darah.

Kematian Paus Yohanes Paulus II diiringi ritual berusia berabad-abad lamanya dan tradisi yang berawal sejak masa pertengahan. Upacara Pengunjungan berlangsung dari 4 April hingga pagi hari tanggal 8 April di Basilika Santo Petrus. Testamen Paus Yohanes Paulus II yang dipublikasikan pada 7 April mengungapkan bahwa paus berkeinginan dimakamkan di tanah kelahirannya Polandia namun tergantung dari para Kardinal, yang memutuskan untuk dikebumikan di gua-gua di bawah basilika.
Pada 8 April, pukul 8.00 pagi UTC, Misa Requiem dipimpin oleh Kardinal Joseph Ratzinger sebagai Dekan Dewan Kardinal dan dihadiri lebih dari 180 orang Kardinal dari berbagai negara. Misa ini menjadi misa yang memecahkan rekor dunia dalam hal jumlah kehadiran umat dan banyaknya kepala negara yang hadir. Ini adalah moment berkumpulnya para kepala negara terbesar dalam sejarah, mengalahkan pemakaman Winston Churchill (1965) dan Josip Broz Tito (1980). Empat raja, lima ratu, dan sedikitnya 70 presiden dan perdana menteri, serta lebih dari 14 pimpinan agama selain Katolik, menghadiri pemakaman.

Peristiwa ini juga mungkin menjadi ziarah Kristen terbesar dalam sejarah, dengan perkiraan empat juta orang berkumpul dalam perkabungan di Roma. Sekitar 250.000 sampai 300.000 orang mengikuti peristiwa ini di Vatikan. Dekan Para Kardinal, Kardinal Joseph Ratzinger, yang kemudian menjadi paus berikutnya, memimpin upacara. Yohanes Paulus II dikebumikan di gua di bawah basilika, makam para Paus. Ia dikebumikan di liang makam yang sebelumnya dipakai jenazah Paus Yohanes XXIII. Liang itu telah dikosongkan ketika jenazah Paus Yohanes XXIII dipindahkan ke ruang lain di basilika setelah dibeatifikasi.



Sejak wafatnya Yohanes Paulus II, sejumlah imam di Vatikan dan kaum awam di seluruh dunia telah menyebutnya "John Paul The Great"; sepanjang sejarah hanya empat paus yang disebut demikian, dan ia adalah yang pertama pada milenium ini.
Hukum Kanonik mengatakan bahwa tidak ada proses resmi untuk menyatakan seorang Paus mendapatkan gelar "Yang Agung"; gelar ini muncul sendiri melalui penggunaan populer dan terus menerus, seperti juga pada kasus pemimpin sekuler (sebagai contoh, Aleksander III dari Makedonia menjadi populer dan dikenal sebagai Aleksander Agung. Tiga paus saat ini yang diketahui menyandang "Yang Agung" adalah St.Paus Leo I, yang memimpin dari 440-461 dan membujuk Attila (Attila the Hun) untuk mundur dari Roma; St.Paus Gregorius I, 590-604, yang mengilhami penamaan kidung Gregorian; dan Paus Nikolas I, 858-867.

Terinspirasi dari seruan “Santo Subito!” (“jadikan Santo Segera!”) dari kerumunan umat pada saat pemakamannya, Paus Benediktus XVI memulai proses beatifikasi kepada pendahulunya, melewati batasan normal bahwa lima tahun harus berlalu setelah wafatnya seseorang sebelum proses beatifiksi bisa dimulai.Pada audiensi dengan Paus Benediktus XVI, Camillo Ruini, Vikaris Jenderal Keuskupan Roma dan orang yang bertanggung jawab untuk mempromosikan alasan kanonisasi seseorang yang meninggal dalam keuskupan, mengutip “keadaan luar biasa” yang menyebabkan masa menunggu bisa diabaikan. Keputusan ini diumumkan pada 13 Mei 2005, pada Perayaan Our Lady of Fátima dan peringatan 24 tahun percobaan pembunuhan Yohanes Paulus II di lapangan Santo Petrus.
Pada awal 2006, dilaporkan bahwa Vatikan sedang menyelidiki kemungkinan mukjizat terkait dengan Yohanes Paulus II.

Tentang mujizat- mujizat yang terjadi atas doa syafaat Paus Yohanes Paulus II semasa hidupnya telah banyak dicatat, dan demikian beberapa contohnya yang kami sarikan dari artikel Miraculous Healings attributed to John Paul II, dikutip dari majalah Love one Another, number 5, by the Society of Christ, Sterling Heights, Michigan USA, 2005, p. 12-13:
1. Kesembuhan Kardinal Marchisano, pembantu Paus Yohanes Paulus II, dan rektor basilika St. Petrus: Pada tahun 2000 ia mengalami kesalahan operasi arteri lehernya, yang menyebabkan pita suara kanannya rusak, sehingga ia sangat sulit untuk berbicara, dan suaranya tidak dapat terdengar dan tak dapat dimengerti. Pada saat Paus Yohanes mengunjunginya, dan meletakkan tangannya pada tenggorokannya itu, ia berdoa, dan mengatakan, “Jangan takut, lihatlah, Tuhan akan memberikan suaramu itu kembali kepadamu.” Seketika itu juga Kardinal Marchisano mengalami kesembuhan total.
2. Kesembuhan Victoria Szechinskis: Victoria lahir pada tahun 1982 dan didiagnosa mempunyai tumor yang mematikan di dadanya. Keluarga Szechinskis hidup di Toronto Kanada. Pada tahun 1985 dalam audiensi dengan Bapa Paus di Roma, ibunya Danuta, membawa Victoria untuk bertemu dengan Bapa Paus dan didoakan olehnya. Bapa Paus menghampiri mereka dan menggendong Victoria, sambil berkata kepada ibunya, “Berdoalah dan percayalah kepada Tuhan. Jika Tuhan memutuskan agar Victoria harus kembali kepada-Nya, Ia akan mengambil Victoria bagi-Nya. Jika Ia menghendaki Victoria untuk tetap bersamamu, itu yang akan terjadi. Perlakukanlah Victoria sama seperti engkau memperlakukan anak- anakmu yang lain. Itulah yang dikehendaki Tuhan.” Sekembalinya ke Kanada, Victoria merasakan sakit yang sangat sehingga dilarikan ke Rumah Sakit. Keluarga memperkirakan ia akan segera meninggal, sehingga akhirnya ia dibawa pulang ke rumah. Namun kemudian di rumah, mujizat terjadi, kondisinya membaik. Kemudian aneka test dilakukan, dan hasilnya menunjukkan bahwa tumor itu telah lenyap. Victoria bertumbuh normal, dan pada saat artikel dituliskan, ia berumur 22 tahun, sehat, senang berolah raga dan mendaki gunung.
3. Paus Yohanes Paulus II meletakkan tangannya atas kepala seorang anak perempuan yang buta, dalam kunjungannya ke Puerto Rico, Oktober 1984. Sekembalinya ke rumah, anak itu dapat melihat.
4. Pada saat audiensi umum pada tanggal 14 Maret 1979, Paus Yohanes Paulus II mencium Kay Kelly, seorang penderita kanker, yang hidup di Liverpool. Beberapa bulan kemudian kanker itu hilang semuanya.
5. Di bulan November 1980, pada saat gempa terjadi di Italia, Emilio Cocconi, 16 tahun, terkubur hidup- hidup. Walaupun kemudian ia dapat diselamatkan, namun kaki kirinya tidak dapat berfungsi. Paus bertemu dengannya pada saat Paus mengunjungi daerah gempa tersebut dan menghiburnya. Empat tahun kemudian (1984) Emilio bertemu kembali dengan Paus pada saat audiensi di Roma. Paus memberkatinya, dan mengatakan, “Tuhan yang Mahabaik akan menolongmu.” Empat minggu kemudian, anak muda itu sembuh.
6. Pada tahun 1981, dalam kunjungannya ke Manila, Filipina, Paus mendoakan dan meletakkan tangannya atas seorang biarawati, Madre Vangie, 51 tahun yang tubuhnya cacat dan harus bergantung kepada kursi roda. Beberapa menit kemudian, suster tersebut dapat berdiri tegak, sembuh sepenuhnya, dan meninggalkan kursi rodanya.
7. Di bulan Januari 1980 di Castel Gondolfo, Paus bertemu dengan Stefani Mosca, seorang anak perempuan berumur 10 tahun yang cacat tubuh. Paus menghibur dan menciumnya. Beberapa waktu kemudian ia sembuh.
8. Pada tahun 1990, Paus Yohanes Paulus II memberkati dan mencium Helano Mireles, seorang bocah Meksiko yang berusia 4 tahun, yang menderita leukemia. Penyakitnya hilang seketika setelah Paus memberkatinya. Hal ini disaksikan oleh Kardinal Javier Lozano Berragan, yang kemudian memberikan kesaksian atas mujizat kesembuhan ini.
Di samping mujizat- mujizat ini, kita mengingat bahwa semasa hidupnya, Paus Yohanes Paulus II sangat dihormati, justru karena kesederhanaannya dan ketulusan kasih yang ditunjukkannya, sehingga melalui dia, orang dapat mengalami kasih Kristus. Tak mengherankan, bahwa pada saat pemakamannya, jumlah peziarah yang hadir mencapai sekitar 4 juta orang. Beritanya dicatat oleh sekitar 6000 jurnalis; acaranya dihadiri oleh 180 pemimpin negara dan diliput oleh 137 stasiun televisi dari 81 negara. Para komentator setuju bahwa acara ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah manusia.
Paus Yohanes Paulus II adalah seorang pendoa dan seorang mystic, sehingga Kristus dapat bertindak melalui dia dan menyatakan kasih-Nya. Paus sangat menghormati setiap orang dan menuntut agar hak dasar terhadap kemerdekaan suara hati dihormati, demikian juga hak untuk hidup dari saat konsepsi sampai kematian yang wajar. Paus tidak pernah berbicara buruk tentang orang lain dan memperlakukan orang lain dengan kebencian. Pada saat yang sama, Ia mewartakan Kebenaran Wahyu tanpa takut…. dengan keberanian yang besar ia mewartakan kebenaran- kebenaran Iman walaupun hal- hal itu tidak nyaman/ tidak populer di telinga para pendengarnya. Ia berjalan menerjang arus, tanpa berkompromi dan tanpa menjadikan kebenaran- kebenaran Tuhan sebagai sesuatu yang relatif…. Pesannya yang terkenal sepanjang pontifikatnya adalah: “Jangan takut untuk membuka pintu hatimu untuk Kristus! Jangan takut untuk memohon kepada Kristus setiap hari, “Tuhan, aku ingin menjadi kudus, yaitu untuk mengatakan, seperti yang Kauingini terjadi atasku.” Jangan takut untuk mengikuti Kristus setiap hari, dan untuk melaksanakan Injil dan perintah- perintah-Nya. Jangan takut untuk memasrahkan dirimu sepenuhnya kepada Kristus….” (lihat artikel He Changed the Course of World History, majalah Love One Another, vol 5, 2005, p. 4-8).
Pesta Santo Paus Yohanes Paulus II dirayakan setiap 22 Oktober.
kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia tahun 1989

Santo Yohanes Paulus II, doakanlah kami. Amin


 sumber: http://www.katolisitas.org, Hubertus Agustus Lidy, www.carmelia.net